Uncategorized

Jurang Kemiskinan di Dunia Semakin Lebar

OXFORD,BritaBrita.com– Jurang kemiskinan di dunia kian lebar dan memprihatinkan. Meski mengalami kemajuan peradaban, pundi-pundi kekayaan hanya bertumpuk di lingkaran kecil.

Berdasarkan survei terbaru Oxfam, jumlah harta delapan orang terkaya di dunia sama besarnya dengan kekayaan 3,6 miliar penduduk termiskin di dunia. ”Jumlahnya separuh dari total penduduk di dunia. Kesenjangan antara orang kaya dan orang miskin jauh lebih luas dibanding yang kami khawatirkan sebelumnya,” ungkap Oxfam di situs resminya.

img_20170117_130140

Laporan tersebut dikeluarkan menjelang Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, yang biasanya dihadiri para pemimpin dan pebisnis dunia. Kepala Urusan Eksternal Global Oxfam, Katy Wright, mengatakan laporan tersebut sengaja dirilis beberapa saat sebelum Forum Ekonomi Dunia digelar karena jurang kemiskinan kian dalam. ”Laporan itu ditujukan untuk membantu lembaga amal dalam menantang elite politik dan ekonomi.

Forum Ekonomi Dunia bukan rahasia lagi hanyalah tempat diskusi tanpa keputusan atau aksi nyata oleh para elite dunia. Kami mencoba fokus di situ,” imbuh Wright. ”Ketidaksetaraan ekonomi disebabkan polarisasi politik,” tambahnya. Oxfam merilis laporan serupa dalam empat tahun terakhir.

Berdasar data yang ada, kesenjangan ternyata semakin melebar. Pada 2016, Oxfam menemukan sembilan orang terkaya di dunia memiliki kekayaan setara dengan total harta 3,6 miliar penduduk dunia yang merupakan penduduk miskin dunia. Padahal, angka taksiran sebelumnya adalah 62 orang terkaya di dunia.

Pada 2010 aset milik 43 orang terkaya di dunia sama dengan jumlah aset 50% penduduk miskin dunia. Ketidakmerataan telah menjadi isu beberapa tahun belakangan. Perhatian di antaranya diberikan Dana Moneter Internasional. Kebencian terhadap elite kaya itu juga turut membantu menaikkan popularitas kaum populis. Keprihatinan mengenai ini kembali menjadi perhatian dalam laporan risiko global tahunan WEF pekan lalu.

Ahli ekonomi Inggris Gerard Lyons menilai kesenjangan terjadi karena beberapa perusahaan menggunakan model bisnis yang egois. Mereka hanya fokus pada pemerkayaan diri sendiri dan eksekutif papan atas dengan menuntut profit tinggi. Di sisi lain, banyak orang bekerja keras, tapi tidak mampu meraih pendapat yang memadai.

Dia pun berharap pemerintahan menegakkan keadilan sehingga kekayaan bisa terdistribusi secara merata. ”Kami ingin pemerintah menyelidiki penggelapan pajak oleh para eksekutif dan menerapkan nilaipajakyanglebihtinggi kepada orang-orang kaya,” tegas Wright. ”Kami juga ingin pemimpin bisnis membayar gaji yang lebih tinggi dibanding upah minimum nasional (UMN) yang diterapkan pemerintah kepada para karyawan,” sambungnya.

Disisilain, laporanyangdirilis Oxfam juga menuai kritik. Mark Littlewood dari Institut Urusan Ekonomi menilai, Oxfam seharusnya fokus menjalankan misinya sebagai lembaga amal yang mencoba memberantas kemiskinan di dunia. ”Tapi, Oxfam kini tampaknya lebih khusyuk mengurusi orang kaya,” kata Littlewood, dikutip BBC.

Senada dengannya, Kepala Riset dari Institut Adam Smith Ben Southwood mengatakan, kekayaan orang terkaya di dunia tidak perlu diangkat menjadi isu utama. ”Oxfam seharusnya menyoroti kesejahteraan di dunia yang meningkat setiap tahun. Setiap tahun pula kita selalu memperoleh informasi yang keliru dari statistik kekayaan yang dikeluarkan Oxfam.

Saya tidak mempermasalahkan datanya karena datanya bagus dan berasal dari Credit Suisse. Tapi, interpretasinya yang saya tidak setuju,” katanya seperti dinukil dalam laman koran sindo.com.Delapan orang terkaya dunia yang disebut dalam laporan itu adalah Gates, pendiri Inditex Amancio Ortega, investor veteran Warren Buffett, konglomerat Meksiko Carlos Slim, bos Amazon Jeff Bezos, bos dan pendiri Facebook Mark Zuckerberg, bos Oracle Larry Ellison, dan bekas wali Kota New York Michael Bloomberg.

Sejumlah orang terkaya di dunia memang telah menyumbangkan kekayaan mereka. Pada 2000 Bill Gates bersama istrinya, Melinda, membangun yayasan swasta dengan sumbangan mencapai lebih dari USD44 miliar. Pada 2015 Mark Zuckerberg dan istrinya, Priscilla Chan, juga menyumbangkan 99% saham Facebook (setara USD45 miliar).

Ketimpangan Indonesia

Credit Suisse juga merilis laporan mengenai ketimpangan kekayaan di negara anggota ASEAN. Di dalam studi terbaru itu, Indonesia menempat peringkat kedua. Masyarakat Tanah Air yang memiliki kekayaan kurang dari USD10.000 mencapai 84,30%, sedangkan yang memiliki kekayaan lebih dari USD1 juta hanyalah 0,1%.

Ketimpangan kesejahteraan di Indonesia tidak terlepas dari perbedaan upah minimum di setiap daerah sehingga berpengaruh terhadap timbul keberagaman nilai tabungan dan investasi. Brunei menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara dengan kepemilikan kekayaan yang sama rata.

Indeks gini Brunei bahkan mencapai 68%. Sementara itu, Singapura menjadi negara dengan kekayaan rata-rata paling tinggi di ASEAN. Kekayaan rata-rata orang Singapura yang berusia 20 tahun sebesar USD276.885. Adapun Indonesia (peringkat 4) ialah USD10.772 dan Myanmar (10) hanya USD2.221. Maklum, UMN Myanmar merupakan UMN paling rendah di seluruh Asia Tenggara.

Editor : Syl

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button