Uncategorized

Korban Diksar Mapala UII Bertambah

KARANGANYAR,BritaBrita.com – Korban tewas diduga akibat dianiaya senior dalam Pendidikan Dasar (Diksar) The Great Camping Mapala Universitas Islam Indonesia (Mapala Unisi) Yogyakarta di Lereng Gu nung Lawu, Tawang mangu, Karanganyar bertambah menjadi tiga mahasiswa.

Diksar pada 13- 20 Januari ini juga membuat lima mahasis – wa lainnya harus dirawat di rumah sakit.Tiga mahasiswa tersebut diduga kuat meninggal akibat kekerasan yang diterimanya saat mengikuti diksar. Mereka meninggal dengan kondisi dan waktu yang berbeda. Korban pertama, Muhammad Fadhli, 19, meninggal saat hendak dibawa ke Puskesmas Tawangmangu karena diduga mengalami sakit mag kronis pada Jumat (20/1).

Korban kedua Syait Asyam, 19, mengembuskan napas terakhir pada Sabtu (21/1) siang di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Dan terakhir adalah Ilham Nurfadmi Listya Adi, 20, yang meninggal pada Senin (23/1) pukul 23.30 WIB di rumah sakit yang sama. Jumlah total yang ikut Diksar Mapala totalnya 37 mahasiswa, tiga di antaranya perempuan. Muhammad Fadhli kini su – dah dikebumikan di tanah ke la – hirannya, Batam, Kepulau an Riau pada Sabtu (21/1). Mahasiswa Teknik Elektro Fakultas Teknik Industri Angkatan 2015 ini disebut-sebut mengidap penyakit mag kronis.

Fadhli tidak sempat dibawa ke rumah sakit sehingga penyebab kematiannya tidak diketahui secara pasti. Sementara hasil pemeriksaan medis terhadap Syait Asyam dan Ilham sangat mengejutkan. Syait Asyam meninggal karena mengalami pneumonia dan sesak napas. Humas RS Bethesda Yogya – karta Nur Sukawati mengatakan, Syait mulai dirawat pada Sabtu (21/1) pagi. Saat awal masuk, pasien yang mahasiswa Teknik Industri Angkatan 2015 ini sudah mengalami sesak napas, dan kesulitan bicara sehingga disarankan untuk men jalani rawat inap.

“Pukul 06.00, bicara pasien sudah mulai timbul tenggelam, lalu dipindah ke ruang VI. Pasien mengalami patah tulang di kedua tangan, kedua kaki, punggung, dan pantat. Setelah beberapa jam menjalani perawatan, pasien meninggal dunia,” kata Nur dalam keterangan resminya kemarin. Pemeriksaan medis atas nama pasien Ilham Nurfadmi juga tak kalah mengerikan. Mahasiswa Hukum ini mengalami trauma abdomen dan pendarahan. Korban bahkan beberapa kali mengalami berak darah.

“Pasien Ilham masuk ke UGD pada Senin (23/1) sekitar pukul 09.30 WIB. Saat masuk ditemukan adanya luka pada bagian dagu. Informasinya, luka itu akibat korban jatuh di kamar mandi kos-kosan. Kuku jempol kakinya hampir copot,” te rangnya. Karena kondisinya memburuk, korban lalu dipindah ke ruang ICU. Ilham juga sempat mendapat transfusi satu botol. Namun Tuhan berkehendak lain, dia meninggal pukul 23.30 WIB. Selasa siang, jenazah Il – ham dibawa ke RSUP Dr Sar – djito untuk diautopsi.

“Kami setuju untuk menjalani proses autopsi. Kami ingin kasus ini tuntas agar tidak terulang lagi,” ucap Syafii, 59, orang tua Ilham yang mengaku langsung terbang dari Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk melihat kondisi anaknya tersebut. Syafii kemarin juga telah melaporkan kematian anaknya ke Polda DIY.

Informasi yang diperoleh Syafii saat menghubungi anaknya melalui telepon pada Minggu (22/1), Ilham menyebut meng alami luka-luka akibat dari kegiatan yang diikuti tersebut. Dari keterangan tersebutlah, akhirnya Syafii menilai ada kejanggalan dalam kegiatan yang diikuti oleh anaknya sehingga harus dilaporkan ke kepolisian untuk mendapatkan penyelidikan lebih lanjut.

Polisi Bentuk Tim Investigasi

Direskrimum Polda DIY Kombes Pol Frans Tjahjono me nyebut kejadian tersebut berada di wilayah hukum Karanganyar, Polda Jawa Tengah. “Nantinya hasil dari pemeriksaan awal akan kita koordinasikan dengan pihak Polda Jateng,” jelasnya. Polres Karanganyar membentuk tim investigasi untuk mengusut tuntas kematian mahasiswa UII tersebut. “Saat ini tim sudah bergerak dan melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi,” kata Kapolres Karanganyar AKBP Ade Safri Simanjuntak kemarin seperti dinukil dalam laman koran-sindo.com.

Saksi pertama yang diperiksa adalah keluarga korban. Kemudian kemarin pagi, tim berangkat ke DIY untuk memeriksa 11 saksi lainnya. Sebagian besar saksi yang diperiksa itu merupakan teman-teman korban yang juga ikut dalam acara diksar di Gunung Lawu, termasuk juga pihak Kampus UII. Selain memeriksa saksi, po lisi juga menyita sejumlah ba rang bukti. “Olah tempat kejadian perkara (TKP) sudah kita la kukan, dari sana juga kita amankan beberapa alat bukti.

Semoga nantinya alat bukti bi – sa bertambah lagi untuk mengungkap penyebab kematian para korban,” ujar Kapolres yang enggan membeberkan barang bukti apa saja yang disita. Saat ini polisi masih menunggu hasil visum dan autopsi jenazah para korban. Hasil pemeriksaan medis itu untuk mengetahui penyebab kematian korban, apakah wajar atau ada unsur penganiayaan. “Hasil autopsi dari RSUP Dr Sardjito belum keluar, kita masih menunggu itu untuk mengungkap apa yang terjadi dalam diksar itu,” ucapnya.

Editor : Syl

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button