Uncategorized

Dubai Pelopori Drone Berpenumpang

DUBAI,BritaBrita.com – Selama ini drone diartikan sebagai pesawat tanpa awak. Tetapi, jangan kaget bila karena inovasi teknologi drone kini berpenumpang.

Drone ini pun akan semakin sering berseliweran suatu saat nanti. Bukan untuk keperluan militer atau fotografi seperti sekarang, namun sebagai alat angkut manusia. Drone berpenumpang selangkah lagi menjadi kenyataan dengan Kota Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), siap memeloporinya. Kemarin Badan Transportasi dan Jalanan Kota Dubai mengumumkan rencana operasionalisasi drone itu pada Juli mendatang. “Pesawat nirawak model Ehang 184 sudah menjalani uji coba,” kata Kepala Badan Transportasi dan Jalanan Kota Dubai (RTA) Matt al-Tayer, dilansir BBC.

drone-berpenumpangDrone Ehang 184 produksi Ehang asal China itu dikendalikan dengan sistem auto-piloted dari pusat komando. Berdasarkan data Ehang, pesawat berbobot 100 kg ini mampu terbang selama 30 menit. Penumpang bisa memanfaatkan layar sentuh di dalam pesawat untuk memilih destinasi. Tapi, tidak ada tombol dan fitur kontrol lainnya di dalam pesawat tersebut. Drone mampu terbang dengan kecepatan 160 km per jam dan memiliki daya jelajah 50 km dengan satu baterai.

“Pesawat ini bukan hanya model semata. Kita telah menguji coba kendaraan ini terbang di langit Dubai,” kata Al-Tayer. Pesawat itu juga telah diuji coba di Nevada pada Juni 2016. Sayangnya, produsen Ehang tidak memberikan komentar mengenai persiapan operasional pesawat nirawak tersebut. Sebelumnya dalam wawancara dengan pendiri Ehang, George Yan, drone itu disebut sangat baik. “Anda mengetahui bagaimana merasakan duduk di Ferrari? Ini (Ehang 184) lebih baik 10 kali lipat (dibandingkan Ferrari),” kata Yan, kepada Daily Mail, pada 2016 setelah uji coba di Las Vegas, Amerika Serikat. Menurut Yan, segala sesuatu bisa dikalkulasikan dengan sistem untuk mengetahui rute yang hendak akan diambil penumpang.

“Dengan begitu, tidak ada tabrakan dengan pesawat nirawak yang terbang,” ujarnya. Dia juga mengklaim Ehang 184 dibuat dengan teknologi canggih dan memiliki sistem cadang jika terjadi kerusakan saat terbang. Tetapi, bagaimana dengan faktor keselamatan? Menurut pakar sistem pesawat dari Universitas West of England Steve Wright, dalam dunia penerbangan, keselamatan menjadi faktor sangat penting dan bersifat mutlak. Dia mengkhawatirkan drone tidak dapat mengadopsi itu.

“Sistem pesawat nirawak bisa bekerja normal merupakan hal mudah. Yang cukup sulit adalah bagaimana mencegah kegagalan (teknis),” katanya. Wright mengungkapkan dirinya ingin melihat pesawat nirawak mampu terbang sedikitnya 1.000 jam sebelum manusia bisa menjadi penumpangnya. Dia juga tidak ingin menjadi sukarelawan untuk penerbangan pesawat itu. “Saya tidak ingin terkejut dan berteriak,” ujarnya. Pesawat nirawak menjadi pusat perhatian dan sumber keingintahuan warga dan wisatawan di Dubai.

Pemerintah kota itu ingin memanfaatkan teknologi modern tersebut untuk memperkuat visi masa depan kota. Karena itu, mereka mempersiapkan 184 pesawat nirawak untuk transportasi publik. Sebelumnya penguasa Dubai Sheikh Mohammed bin Rashid al-Maktoum mengatakan, pada April lalu dia ingin 25% seluruh perjalanan penumpang di Dubai sebaiknya menggunakan kendaraan tanpa sopir pada 2030. Pernyataan itu merujuk pada operasionalisasi EZ10, mobil tanpa pengemudi (otonom) buatan EasyMile, Prancis, yang telah beroperasi di sekitar gedung tertinggi dunia Burj Khalifa.

Pada Oktober lalu, Dubai menandatangani kesepakatan dengan Hyperloop One, perusahaan berbasis di Los Angeles, mengkaji potensi membangun hyperloop (lintasan hiper) line antara Dubai dan Abu Dhabi. Hyperloop merupakan lintasan melayang yang dialiri listrik dan magnetdenganpipabergesekan yang rendah pada kesepakatan tertinggi 1.220 km per jam. Elon Musk, pendiri Tesla yang tampil di konferensi Dubai pada Senin (13/2), mengajukan ide pembangunan hyperloop pada 2013. Musk sekaligus meluncurkan mobil Tesla di Dubai saat konferensi tersebut.

Sayangnya, konferensi tidak terbuka untuk media internasional. Ehang sesungguhnya bukan satu-satunya perusahaan yang mengembangkan pesawat nirawak. Bulan lalu perusahaan teknologi ternama di dunia, Urban Aeronautics, mengumumkan pesawat nirawak berpenumpang Cormorant yang juga didesain untuk kepentingan militer. Cormorant seharga USD14 juta itu diklaim dapat digunakan pada 2020. Pesawat sanggup mengangkut beban 500 kg dengan kecepatan terbang mencapai 185 km per jam. “Cormorant akan diproduksi akan dikomersialisasikan,” kata CEO Urban Aeronautics Rafi Yoeli.

Pesawat nirawak komersial kini menjadi bisnis besar setelah Amazon menggunakan Prime Air, yakni layanan pesawat nirawak beberapa waktu lalu. Direktur Aerial Robotics Lab di Imperial College London Mirko Kovac mengatakan, kendaraan nirawak sebenarnya berpotensi untuk menjadi pesawat pribadi. Tetapi, pesawat nirawak, kata Kovac, tidak cocok untuk dijadikan kendaraan pengiriman dan transportasi.

“Masih perlu pengembangan teknologi agar pesawat nirawak bisa menjadi kendaraan yang aman dan mudah dikendarai. Tetapi, jika proyek pesawat nirawak dinikmati pasar, itu akan mengubah cara berkendara di perkotaan dan bepergian,” papar Kovac seperti dinukil dari laman koran-sindo.com.

Hal berbeda diungkapkan Ravi Vaidyanathan dari Imperial College London. Dia mengungkapkan pesawat nirawak bisa menjadi kendaraan untuk melakukan upaya penyelamatan kemanusiaan dan kepentingan militer. “Penemuan aplikasi yang didukung aspek keselamatan adalah ide baik,” katanya.

Vaidyanathan mengatakan, pesawat nirawak untuk kepentingan sipil seperti harus terus dikembangkan. Itu bisa digunakan di wilayah yang sulit dijangkau dan terpencil. “Perlu adanya peraturan untuk mendukung penggunaan pesawat nirawak. Di mana kalian bisa lepas landas? Di mana bisa mendarat? Pada ketinggian berapa bisa terbang?” ujarnya.

Editor : Syl

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button