Uncategorized

1 Saksi Ditetapkan Sebagai Tersangka Pembunuh Siswa SMA Taruna Nusantara

MAGELANG,BritaBrita.com–Kepolisian Daerah Jawa Tengah dikabarkan telah menetapkan satu orang tersangka dalam kasus pembunuhan Siswa SMA Taruna Nusantara, pada Jumat (31/3/2017).

Tersangka tak lain adalah teman korban berinisial AMR.

Berdasarkan informasi yang diterima penetapan tersangka dilakukan setelah pihak kepolisian memeriksa total 13 orang saksi.

Sementara informasi lainnya menyebutkan total ada 16 saksi termasuk pamong yang dimintai keterangan. Kemudian pada Sabtu (1/4/2017) dini hari, 12 orang diantaranya dipulangkan sementara satu orang ditetapkan sebagai tersangka.

Adapun sejumlah barang bukti yang mengarah kepada tersangka, antara lain sebilah pisau, baju sekolah berwarna putih yang terkena percikan darah dan diduga dikenakan tersangka, satu buah celana sekolah warna abu-abu yang juga terkena percikan darah, satu buah dompet berisi kartu identitas pelajar, satu buah buku notes sampul hijau yang terkena percikan darah, serta kacamata milik pelaku.

Di hadapan penyidik, pelaku disebutkan telah mengakui perbuatannya.

Belum diperoleh informasi resmi dari pihak kepolisian, sementara ini wartawan Tribun Jogja tengah menghimpun informasi lainnya, lantaran diperoleh kabar bahwa Kapolda Jateng hari ini akan menggelar konferensi pers terkait kasus tersebut.

Sebelumnya, penyelidikan kasus tewasnya siswa SMA Taruna Nusantara, Krisna Wahyu Nur Ahmad (14), menghasilkan beberapa petunjuk penting.

Krisna
Krisna

Polisi antara lain menemukan sebuah pisau di lemari salah seorang siswa. Polisi pun menduga siswa kelas 10 itu dihabisi rekannya sendiri.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Rikwanto mengatakan, Polres Magelang telah memeriksa sejumlah saksi terkait pembunuhan di barak siswa SMA Taruna Nusantara di Magelang, Jateng.

“Beberapa siswa diperiksa, ada indikasi yang menjurus ke arah pelaku,” ujar Rikwanto di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (31/3/2017).

Sebagian besar saksi merupakan siswa Taruna Nusantara.

Polisi juga menggeledah barak siswa sekolah unggulan yang terletak di dekat Akademi Militer (Akmil) itu.

Rikwanto mengatakan, ditemukan sebilah pisau di lemari salah satu siswa. Namun, masih didalami apakah pisau itu merupakan senjata untuk membunuh korban.

Polisi juga telah memiliki petunjuk tentang pelaku.

“Diduga kuat (pelaku) adalah rekannya sendiri,” kata Rikwanto seperti dinukil dalam laman tribunnews.com

Kapolda Jawa Tengah, Irjen Condro Kirono datang ke Magelang dan memantau langsung penyelidikan kasus pembunuhan di barak SMA Taruna Nusantara.

Condro menyatakan, polisi telah menyita sejumlah barang di lokasi kejadian di antaranya pisau dan pakaian korban.

Condro menyatakan, polisi menemukan pisau yang dibuang ke tempat yang berair.

“Kami juga angkat tempat membuang pisau, airnya juga diangkat. Percikan darah di TKP juga diambil,” paparnya.

“Kemudian, ada baju dan celana yang ditemukan di tempat sampah, itu juga kami ambil,” imbuhnya.

Krisna ditemukan tewas di kamar B2 barak G17 kompleks SMA Taruna Nusantara.

Condro menyatakan, pada leher korban terdapat luka akibat benda tajam sepanjang 10 sentimeter.

Pada Jumat siang, puluhan siswa SMA Taruna Nusantara diboyong ke Markas Polres Magelang menggunakan bus sekolah.
Turun dari bus, mereka segera masuk ke ruangan Satuan Reskrim.

Diduga, mereka diboyong ke mapolres untuk diperiksa sebagai saksi kasus pembunuhan Krisna Wahyu.

Selama para siswa SMA Taruna Nusantara diperiksa, penjagaan ruang Satreskrim Polres Magelang Media dilarang mendekati ruangan pemeriksaan.

Pihak SMA Taruna Nusantara belum berkomentar banyak tentang peristiwa yang menimpa Krisna.

“Masih ditangani polisi, saya juga masih menunggu konfirmasinya,” ujar Juru Bicara SMA Taruna Nusantara, Cecep Iskandar.

“Kami tidak tahu persis kenapa dan apa yang terjadi, Polres yang paling tahu dan masih diselidiki dan masih berlangsung. Kami semua sedang menunggu,” imbuhnya.

Adalah Riyanto, pengasuh siswa, yang menemukan Krisna Wahyu dalam keadaan berdarah.

Pada Jumat dini hari, Riyanto berkeliling barak dan membangunkan siswa agar bersiap-siap melaksanakan salat subuh.

Riyanto lalu melapor ke atasannya yang diteruskan juga ke polisi.

Krisna Wahyu Nur Ahmad merupakan siswa kelas 10 atau kelas termuda.

Krisna lahir di Jakarta 24 September 2002 dan beralamat di Jalan Sumarsana No 12, Kelurahan Merdeka, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Jabar.

Pantauan Tribun Jabar pada Jumat siang, rumah keluarga Krisna dalam keadaan sepi. Sebuah mobil Daihatsu Taruna diparkir di halaman rumah.

Informasi yang dihimpun di lokasi menyatakan, rumah tersebut dihuni Amru, paman korban atau adik kandung ibu Krisna.

Namun, Jumat siang, Amru telah berangkat ke Magelang.

“Memang benar ini rumah orangtua (Krisna). Tapi sekarang ditempati Mas Amru,” kata Wawan Setiawan (25), pekerja di rumah itu.

Sudah lama keluarga Krisna tak tinggal di Bandung. Mereka kini menetap di Kompleks Hankam, Kelapa Dua, Jakarta.

Krisna tinggal di Jakarta sejak kecil sampai SMP.

“Jarang ke sini, paling juga ibu, terakhir kali datang tiga bulan lalu,” kata Wawan.

Wawan menyatakan, Krisna merupakan sosok pemuda pendiam dan tidak banyak tingkah.

Sepengetahuan Wawan, Krisna bercita-cita mengikuti jejak ayahnya menjadi tentara. Itu juga yang menjadi alasan Krisna masuk SMA Taruna Nusantara Magelang.

“Almarhum ayahnya itu, pangkat terakhirnya Mayjen,” kata Wawan.

Anak pasangan Kartoto (alm) dan Umi Isnaningsih ini merupakan bungsu dari empat bersaudara.

Kakak pertama Krisna, Adam Gaga Pranolo masih kuliah di Jakarta, sedangkan adiknya Karina Cahya bekerja di Palembang.

“Kakak ketiganya kelas dua di sekolah yang sama dengan Mas Krisna,” kata Wawan.

Editor : Syl

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button