POLITIK

Duh! Kasus Novel Baswedan Bikin Kapolri Dilema

Jakarta, BritaBrita.comKepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian tampak menghindari pembahasan terkait kasus teror penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan.

Ia memilih pergi ketika dihampiri para peliput di lingkungan Markas Besar Polri, Jakarta Selatan.

Setelah membatalkan agenda peliputan media untuk acara konferensi video yang ia selenggarakan bersama jajaran guna membahas topik ‘Mafia Pangan’ pada pukul 08.00 WIB, Tito pun memilih pergi pada kesempatan selanjutnya. Pada hari yang sama, pukul 14.00 WIB, Tito merilis kasus penyelundupan 1,2 juta butir narkotik jenis ekstasi dari Belanda.

Jenderal polisi bintang empat itu menghindari kerumunan wartawan yang telah siap menodongkan alat perekam dan mikrofon untuk menanyakan seputar kasus Novel. Dia pun langsung menaiki kendaraannya dan meninggalkan area Mabes Polri.

Akhirnya, wartawan pun mengalihkan pertanyaan terkait perkembangan kasus Novel ke Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Rikwanto. Namun, tak ada informasi baru yang disampaikan oleh Rikwanto.

Mantan Kabid Humas Polda Metro Jaya itu hanya menjelaskan rencana pembentukan tim investigasi bersama antara Polri dan KPK untuk menyelidiki kasus Novel. Ia mengatakan tim tersebut akan melakukan penyelidikan bersama dalam rangka projusticia atau mendukung penegakan hukum.

Dia menuturkan, KPK akan diberikan kewenangan untuk mendalami dan mengonfirmasi hasil penyidikan yang dilakukan Polri terkait kasus Novel.

“Tentunya secara teknis penyidikan, Polri dan KPK sudah di bidangnya. Apa yang dilakukan penyidik Polri, KPK bisa melihat, mengonfirmasikan, dan merekonstruksi kalau dianggap perlu itu hal-hal berkaitan proses penyidikan dari pelaporan Novel,” ucap Rikwanto.

Tito Dilema

Menanggapi perilaku Tito tersebut, pengamat kepolisian Bambang Rukminto menilai sang Kapolri mengalami dilema dalam menuntaskan penyidikan kasus Novel.

Menurutnya, komposisi pejabat di tubuh Polri menjadi halangan Tito untuk menuntaskan penyidikan kasus yang terjadi pada 11 April 2017 ini. Bambang menuturkan, Tito akan mengalami kesulitan untuk menjalin kerja sama untuk menuntaskan kasus ini.

“Melihat komposisi pejabat di tubuh Polri saat ini, saya tidak yakin Kapolri bisa cepat melakukan konsolidasi dan benar-benar bisa menuntaskan kasus ini. Karena, hampir semua petinggi Polri memiliki sejarah yang sama dan ingin saling melindungi,” kata peneliti dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS).

Bambang menilai ada sejumlah pihak justru merasa ‘senang’ melihat proses penyidikan kasus Novel yang berlarut-larut hingga saat ini. Menurutnya, hal tersebut dapat dilihat dengan sejumlah upaya kriminaliasi yang pernah dilakukan Polri terhadap Novel

Salah satu upaya kriminalisasi itu adalah saat Polda Bengkulu menetapkan Novel sebagai tersangka kasus dugaan penganiayaan pencuri sarang burung walet hingga tewas pada 2012 silam.

Penetapan status tersangka itu dilakukan setelah Novel memimpin penggeledahan di Gedung Korps Lalu Lintas Polri terkait kasus korupsi simulator SIM yang menjadikan Kepala Korlantas kala itu, Inspektur Jenderal Djoko Susilo, sebagai tersangka.

“Polisi sendiri pernah membungkam Novel dengan cara halus, yakni mengkriminalisasi. Jadi tidak salah bila di kepolisian sendiri ada yang ‘senang’ dengan kasus yang menimpa Novel ini,” katanya.

Lebih dari itu, Bambang menyampaikan, langkah Presiden Joko Widodo memanggil Tito untuk meminta penjelasan perihal perkembangan penyidikan kasus Novel tepat.

Menurutnya, langkah tersebut merupakan upaya Jokowi untuk menyelamatkan wajah Tito dari tuntutan sejumlah kelompok terkait pembentukan tim gabungan pencari fakta (TGPF) dalam pengusutan kasus Novel.

“Pembentukan TGPF adalah tamparan bagi Kapolri atas jargonnya Promoter (profesional, modern, dan terpercaya) Ini yang seharusnya dihindari Kapolri dengan benar-benar menuntaskan kasus tersebut,” katanya seperti dinukil dalam laman cnnindonesia.com.

Editor : Syl

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button