Uncategorized

Museum Sonobudoyo Bakal Diruntuhkan, Bangun Gedung Pameran

BritaBrita.com,Yogyakarta-Bertepatan dengan 12 Oktober yang telah ditetapkan sebagai Hari Museum Nasional, Kepala Seksi (Kasi) Koleksi Konservasi dan Dokumentasi Museum Sonobudoyo Yogyakarta, Ery Sustiyadi mengatakan tahun 2018 mendatang pihaknya akan meruntuhkan bangunan Museum Sonobudoyo terutama ruang koleksi untuk dibangun kembali sebagai ruang pameran yang bisa diakses oleh publik lebih luas.

Kepala Seksi (Kasi) Koleksi Konservasi dan Dokumentasi Museum Sonobudoyo Yogyakarta, Ery Sustiyadi

Untuk saat ini, pihaknya memang tengah berbenah dan melakukan pendataan terhadap koleksi-koleksi, untuk dipindahkan ke unit 2 yang berlokasi di Wijilan tepat di Ndalem Condrokiranan.

“Laboratorium dan perkantoran seluruhnya ada di unit 2 Wijilan nanti” ungkapnya kepada BritaBrita.com, Kamis (12/10/2017).

Dia menjelaskan, ada 63.000 lebih koleksi saat ini tengah didata untuk dipindahkan. Demi menghindari hal-hal yang tidak diharapkan saat pemindahan koleksi Museum yang didirikan tahun 1934 dan diresmikan oleh Sri Sultan HB VIII pada November 1935.

Khususnya yang terdapat di ruang kolektor pihak pengelola sengaja membuat aplikasi pendataan secara khusus yang memuat nomor register, nomor inventaris, nama benda, asal ruangan, asal lemari, dan asal rak. Sehingga saat dipindahkan ke unit 2 dan dilakukan pengecekan bisa dibarcode.

Dengan masterplan ini, diharapkan nantinya mampu menampung lebih baik lagi benda-benda pameran dan pengunjung yang akan hadir. Sehingga bagi peneliti akademisi, instansi maupun pihak-pihak tertentu yang berkepentingan bisa langsung datang ke unit 2 untuk melakukan penelitian. Sementara unit 1 diberlakukan bagi masyarakat umum yang akan menikmati pameran.

Menurut alumnus arkeologi Universitas Gadjah Mada (UGM) ini, selain memperbaharui koleksi, pihaknya juga kerap mengadakan kajian naskah Kaweroh Kambeng, Babat Diponegoro dalam beberapa versi dan kajian Keris agar masyarakat yang belum tahu teredukasi.

Ia juga membeberkan banyaknya masyarakat yang ingin menghibahkan koleksi seperti dari Kalimantan, Tulung Agung, Magelang, bahkan Jerman. Namun pengelola Museum Sonobudoyo sendiri selektif dalam menerima hibah, mengingat biaya perawatan dan lain halnya.

Bagi pria asal Banyumas itu, kecendrungan pengunjung museum saat ini meningkat. Hal ini tak lepas dari upaya pihak pengelola dalam meningkatkan pelayanan terhadap pengunjung museum melalui beberapa program, diantaranya gelar wisata dan lomba untuk TK hingga SMA yang disesuaikan, lomba dolanan anak, kemudian pameran kontemporer dan nasional, seperti perwakilan setiap daerah diundang untuk tampil.

“Dari sana dapat kita lihat antusias masyarakat sangat besar. Maka dari itu kita agendakan satu tahun sekali, setiap November. Untuk tema sendiri kita juga terbuka menerima masukan dari berbagai masyarakat, yang jelas disesuaikan dengan kebutuhan mereka sebagai penikmat” jelasnya.

Da juga berharap pembenahan ini tidak hanya dari internal saja yakni dari pengelola museum Sonobudoyo tetapi masyarakat bisa membuka mata, bahwa mereka sedikitnya bisa belajar dan memanfaatkan museum untuk banyak hal seperti penelitian, kajian, sarana rekreasi, dan menjalin komunitas.

“Kami berharap bisa mensinergikan. Bahwa kami terus berupaya mengupdate isu-isu baru,tapi jangan masyarakat hanya memandang sebelah mata. Mereka juga harus sadar untuk sama sama menjaga budaya dan peninggalan sejarah. Jika ingin maju mari bersama-sama kita lestarikan supaya ke depannya lebih baik lagi seperti yang ada di luar negeri” pungkas Ery.

Reporter : Pipit

Editor : Syl

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button