Uncategorized

Klaim Menang Lawan ISIS,Agresi Militer Filipina di Marawi Dihentikan

BritaBrita.com,Manila-Pertarungan selama lima bulan melawan pendukung Islamic State (IS) di Filipina Selatan yang telah merenggut lebih dari 1.100 jiwa akhirnya mencapai final setelah pertempuran terakhir di dalam sebuah masjid.

Berakhirnya konflik tersebut mengurangi kekhawatiran IS akan mendirikan basis mereka di kawasan Asia Tenggara, tepatnya di Kota Marawi.

Meski begitu, kewaspadaan tetap ada terkait dengan adanya niat dan rencana jangka panjang kelompok IS di wilayah tersebut.

“Kami mengumumkan penghentian semua operasi tempur di Marawi. Tidak ada lagi milisi di kota itu,” kata Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana kepada wartawan di sela sebuah pertemuan keamanan regional di Clark, sebuah kota di utara Filipina.

Ratusan pria bersenjata yang telah berjanji setia kepada IS melakukan penyerbuan melalui Marawi, kota utama umat Islam di Filipina yang mayoritas beragama Katolik, pada 23 Mei 2017.

Mereka mengambil alih bagian kota tersebut dengan menggunakan warga sipil sebagai tameng manusia.
Setelah mereka bertempur selama lima bulan, kemenangan memihak tentara Filipina.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte mulai memproklamasikan kemenangan itu saat berkunjung ke Marawi pada Selasa, pekan lalu.

Dia menyatakan kota tersebut telah dibebaskan sehari setelah pemimpin IS untuk Asia Tenggara yang juga sebagai milisi Filipina, Isnilon Hapilon, ditembak mati di sana.

Namun, pertempuran terus berlanjut di hari-hari berikutnya sehingga menimbulkan pertanyaan apakah kota itu benar-benar terbebas dari milisi IS.

Keraguan tersebut dijawab militer Filipina. Kepala Angkatan Bersenjata Filipina Jenderal Eduardo Ano mengatakan dalam pertempuran tersebut, pihaknya memberikan kesempatan kepada milisi dan teroris untuk menyerah.

“Namun, mereka berjuang sampai pada napas terakhir sehingga kami tidak punya pilihan lain,” kata Ano.

Sebanyak 42 jenazah milisi ditemukan setelah pertempuran terakhir, termasuk dua perempuan dan lima warga asing.
Hapilon yang berada dalam daftar teroris paling dicari pemerintah Amerika Serikat (AS) terbunuh bersama salah satu pemimpin kelompok lainnya, Omar Khayyam Maute.

Militer juga mengatakan lawan-lawan mereka bersembunyi di dalam masjid.
Namun, tentara telah diperintahkan untuk tidak mengebom atau menembakkan artileri ke bangunan tempat peribadatan.

“Kehadiran Maute-IS terbatas pada dua bangunan, satu di antaranya ialah sebuah masjid. Di situlah pertempuran terakhir terjadi dan di situlah kita menyelamatkan tambahan 20 sandera,” kata Ano seperti dinukil dalam laman

Selama pertempuran berlangsung, milisi mampu melawan serangan bom tanpa henti yang menghancurkan Kota Marawi dengan berlindung di ruang bawah tanah.

Editor : Syl

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button