POLITIK

Dolar AS Jangan Jadi Satu-satunya Mata Uang dalam Transaksi Perdagangan

BritaBrita.com,Jakarta— Muhammadiyah mengimbau pemerintah untuk memperluas kebijakan transaksi dagang dengan pembayaran mata uang asing selain dolar AS, terutama mata uang negara-negara Asia Tenggara. Dengan demikian, dolar AS tidak menjadi satu-satunya mata uang dalam transaksi perdagangan yang membuat nilainya perkasa.

Kemarin, Bank Indonesia (BI) meluncurkan kebijakan pembayaran perdagangan dan investasi langsung menggunakan mata uang lokal. Kebijakan ini mengganti transaksi dagang antar negara yang sebelumnya menggunakan dolar AS jadi mata uang lokal masing-masing negara.

Misalnya, Indonesia dengan rupiah, Malaysia dengan ringgit, dan Thailand dengan baht. Kebijakan ini diharapkan mampu mengurangi proses konversi satu mata uang lokal ke dolar AS dan mata uang lokal lainnya.

etua Bidang Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anwar Abbas mengapresiasi kebijakan bank sentral tersebut. Menurut dia, kebijakan ini akan positif mempermudah dan memperlancar perdagangan antar ketiga negara, dan meningkatkan efisiensi penggunaan mata uang lokal masing-masing negara.

“Ini akan memperkuat stabilitas ekonomi dari masing-masing negara, karena tidak lagi bergantung kepada mata uang asing lainnya, terutama dolar AS. Ini juga memperkuat persatuan dan kesatuan antar rakyat ketiga negara (RI, Malaysia, Thailand,” ujarnya , Selasa (12/12/2017).

Namun demikian, Anwar mengingatkan, pemerintah AS kemungkinan terusik dengan kebijakan itu yang dinilai akan memengaruhi penggunaan mata uang dolar AS dan berpotensi berdampak pada perekonomian AS.

Pasalnya, penggunaan dolar AS dalam transaksi dagang ketiga negara akan berkurang yang mengakibatkan permintaannya turun. Bahkan, apabila jumlahnya cukup besar, potensinya akan menekan nilai mata uang Negeri Paman Sam tersebut.

“Apabila permintaan mata uang dolar AS turun, maka nilainya tentu akan melemah dan ini jelas tidak diinginkan oleh Donald Trump,” terang dia.

Makanya, ia menyarankan, pemerintah masing-masing negara perlu melakukan konsolidasi dan mempersiapkan diri.

Gubernur BI Agus Martowardojo sebelumnya menargetkan, kebijakan transaksi dagang dengan mata uang lokal akan meningkat dua kali lipat.

Sebagai gambaran saja, saat ini, rata-rata nilai transaksi perdagangan RI, Malaysia, dan Thailand mencapai US$1,2 triliun per tahun. Jumlah ini mencapai 50 persen dari total perdagangan di kawasan Asean.

Berdasarkan hubungan kedua negara, rata-rata nilai perdagangan RI dengan Malaysia dalam kurun waktu 2010-2016 mencapai US$19,5 miliar per tahun. Sementara, RI dan Thailand mencatat transaksi dagang sebesar US$5,5 miliar per tahun dalam periode yang sama.

Ke depannya, Agus berharap, kerja sama ini dapat diperluas ke negara-negara lain di kawasan Asean. “Kami akan lihat dari 10 negara yang punya hubungan ekspor-impor dengan Indonesia yang besar. Kami akan membuka kemungkinan untuk memperluas ini,” pungkasnya seperti dinukil dalam laman cnnindonesia.com.

Editor :Syl

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button