POLITIK

Emil dan Arumi Kunjungi Sentra Tempe, Gus Ipul pun Juga

BritaBrita.com,MALANG-Calon Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, mengunjungi kampung sentra tempe dan keripik tempe di kawasan Sanan, Kota Malang, pada Kamis, 1 Maret 2018. Ia melihat satu per satu kawasan usaha kecil dan menengah itu.

Gus Ipul berdialog dengan para perajin yang tersebar di tiga RW di Sanan. Permasalahan mereka lebih banyak seputar bahan baku kedelai yang kian mahal, terutama karena produk impor, seharga Rp7.100 per kilogram. Para perajin tak menggunakan kedelai lokal karena kualitasnya dianggap kurang baik.

Kampung Sentra Tempe Sanan menghabiskan 30 ton kedelai impor per hari untuk produksi tempe. Omzet yang dihasilkan di kampung itu mencapai Rp2 miliar per hari.

“Kami akan berdiskusi dengan pihak terkait untuk usulan perajin bisa impor sendiri. Nantinya, perajin bisa impor sendiri melalui koperasi,” ujar Gus Ipul.

Selain berdialog dengan perajin, Gus Ipul juga melihat produksi tempe dan kripik tempe. Dia mencoba mengiris atau memotong tempe menggunakan pisau yang akan diproduksi untuk keripik tempe.

“Harapan saya di sini ada pemberdayaan, misalnya mengiris menggunakan alat mesin. Karena saat saya belajar mengiris tempe tadi kalau tidak teliti bisa kena tangan saya. Jadi di sini perlu dikembangkan teknologi untuk mengembangkan hasil produksi perajin tempe,” ujarnya seperti dinukil dalam laman Viva.co.id.

Emil dan Arumi

Kampung Sentra Tempe Sanan menjadi salah satu kawasan yang sering didatangi kandidat dalam pemilihan gubernur Jawa Timur. Pada 21 Februari, Emil Elestianto Dardak, calon wakil gubernur pendamping Khofifah Indar Parawansa, juga mengunjungi tempat itu.

Emil Dialog dengan Perajin Tempe, Arumi Sibuk dengan Kedelai

Didampingi sang istri tercinta, Arumi Bachsin, Emil meninjau proses produksi tempe sekaligus berdialog dengan para perajin. Dia mengklaim telah merancang program agar kedelai tak lagi impor. Program itu ialah mendorong investasi di bidang pertanian kedelai di luar Jawa.

Dasar pemikirannya, Emil menjelaskan, karena pertanian kedelai memiliki tantangan utama sangat bergantung pada cuaca, sehingga penanamannya pun mestilah di sela-sela tanaman palawija lain. Maka perlu fokus agar produksinya dapat mencapai swasembada atau sekurang-kurangnya dapat memenuhi kebutuhan perajin tempe.

Jika konsep penanaman kedelai berjalan baik, itu akan mengurangi kebutuhan impor kedelai perajin tempe di Jawa Timur, terutama di Malang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button