Uncategorized

Dua Tersangka Korupsi Rp 477 Miliar di PLN Ditahan Kejaksaan

BritaBrita.com,JAKARTA – Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI menjebloskan dua tersangka kasus penggadaan batu bara untuk listrik PLN, di Muaraenim, Sumatera Selatan merugikan negara sebesar Rp477 miliar. ke Rutan Kejaksaan Agung.

Kedua tersangka yaitu Khairil Wahyuni, eks Dirut PLN Batubara Dan Kokos Leo Liem, Dirut PT Tansri Majid Energi (TME).

“Mereka ditahan selama 20 hari dan dapat diperpanjang demi kepentingan penyidikan. Selain itu, tim penyidik sudah memiliki alasan yang cukup untuk menahan, ” kata Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati DKI Sarjono Turin, di Kejati DKI, Jumat (2/3) sore.

Sedangkan dua tersangka saat akan memasuki kendaraan tahanan memilih bungkam. Bahkan, Kojos langsung buru-buru meninggalkan wartawan dan masuk mobil tahanan.

Sedangkan, Khairil merasa dirinya tidak bersalah dan tidak melakukan pidana korupsi, seperti yang dituduhkan. Hanya, dia tidak menjelaskan pernyataannya tersebut.

TERUS BERKEMBANG

Turin menjelaskan penyidikan tidak berhenti kepada dua tersangka dan akan mengembangkan penyidikan kepada para pihak lain.

“Sesuai AD/ART uang sebesar itu harus diputus melalui RUPS (Rapat Umum Pemegamg Saham), nyatanya hal itu tidak dilakukan. Hal inilah yang akan kita kembangkan, ” papar Turin.

Begitu juga dengan Kokos, yang dari informasi sempat menolak untuk dicegah, karena saat itu masih berstatus saksi, tim penyidik tengah mengejar aliran uang Rp477 miliar tersebut.

Bahkan, dalam perkembangan lain tersangka ini sempat akan akan menjaminkan kerjasama dengan PT PLN Batubara kepada bank sebesar Rp1 triliun.

Proyek penggadaan batu bara ini dilaksanakan oleh PT TME, setelah memenangkan tender yang diadakan oleh anak usaha perusahaan PLN, yaitu PT PLN Batubara (PB).

Dalam praktiknya, kualitas batubara dan kuantitasnya tidak sesuai dengan kontrak antara PT TME dengan PT PB (BUMN-Badan Usaha Milik Negara). Padahal, negara sudah mengeluarkan duit Rp477 miliar yang diberi dua tahap, yaitu Rp 30 miliar tahun 2011 dan Rp447 miliar tahun 2012.

Diduga, uang dikucurkan karena keyakinan atas dokumen analis laporan yang disertakan dalam kontrak yang dibuat oleh PT Sucofindo. Belakangan, Sucofindo sudah mencatat laporan analis sudah dimanipulasi.

Tim penyelidik juga mencurigai pengucuran uang tanpa mengacu pada azas kepatutan. Lepas, kontrak tidak ada dan tidak ada produknya. Diduga ada praktik konspirasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button