NASIONALPALEMBANG

Minat Baca Jadi Indikator Kualitas Suatu Bangsa

BritaBrita.com,PALEMBANG–Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI bersama Dinas Perpustakaan Provinsi Sumatera Selatan mengadakan safari gerakan nasional budaya gemar membaca di Palembang, Selasa (24/7/2018).

Kegiatan yang diisi seminar dan talkshow di Aula Dinas Perpustakaan Provinsi Sumatera Selatan itu mengambil tema “Implementasi Revolusi Mental Melalui Mobilisasi Pengetahuan Dalam Rangka Meningkatkan indeks Literasi Masyarakat”.

Kepala Perpustakaan Nasional RI, Muh Syarif Bando melalui Kepala Pusat Pengembangan Perpustakaan dan Pengkajian Minat Baca, Drs Deni Kurniadi M.Hum mengatakan tingkat minat baca menjadi salah satu indikator kualitas suatu bangsa. Dari beberapa survei kondisi minat baca di Indonesia masih rendah.

Berdasarkan tingkat literasi atau membaca masyarakat, yang dinilai oleh Central Connecticut State University di New Britain berada di tingkat 60 dari 61 negara yang dinilai.

Survei yang pernah dilansir The Washington Post itu dilakukan sejak 2003 hingga 2014. Dimana Indonesia hanya unggul dari Bostwana yang puas di posisi 61. Sedangkan Thailand berada satu tingkat di atas Indonesia, di posisi 59.

Survei yang dilakukan lebih dari 60 negara itu menempatkan Finlandia di posisi teratas.Negara maju seperti Amerika Serikat berada di peringkat tujuh. Posisi hampir sama juga didapat Kanada, Prancis, dan Inggris.

“Seperti kita ketahui rendahnya budaya baca masyarakat Indonesia karena beragam aspek, antara lain masyarakat Indonesia merupakan masyarakat berbudaya tutur. Pertukaran informasi masih secara lisan. Seperti dapat kita lihat dalam keseharian, masyarakat Indonesia lebih senang ngobrol atau melamun ketimbang membaca,” katanya

Menyikapi hal itu, menurut Deni,selain perlu untuk terus didorong ataupun contoh dari orang tua, perlu juga ada pembenahan untuk membudayakan gemar membaca. Seperti pembenahan perpustakaan di daerah-daerah agar perpustakaan punya standar nasional.

Lebih jelasnya, Deni menambahkan, dalam perpustakaan ada enam aspek yang harus saling mendukung yakni penyelenggaraan, pengelolaan, tenaga, koleksi, layanan dan sarana. Jika saling mendukung maka dampaknya akan lebih baik.

“Kita sudah bentuk 34 Dinas Perpustakaan di seluruh provinsi di Indonesia. Namun belum untuk seluruh kabupaten/kota.Dari 514 kabupaten/kota baru 487 terbentuk,” ucapnya.

Untuk koleksi buku, jelas Deni, dapat dipenuhi dari anggaran APBN,APBD maupun dari masyarakat. Supaya koleksi buku hingga perpustakaan di desa-desa bisa juga dipenuhi. “Begitu juga tenaga pustakawan, harus benar-benar sesuai standar dan perlu diberikan pelatihan dan pendidikan, ” tandasnya.

Mengenai layanan perpustakaan perlu dibuat program yang akrab dengan generasi milenial atau pengguna gawai (gadget). “seperti contoh di pusat kita sudah ada e-pusnas yang bisa dimanfaatkan dan dapat memenuhi kebutuhan informasi generasi milenial, “katanya.

Sementara itu, Asisten Bidang Administrasi dan Umum Provinsi Sumsel, Prof Edwar Juliartha menegaskan perpustakaan harus menjadi kebutuhan bukan hanya dicari kalau ada perlunya seperti studi skripsi dan lainnya. Keberadaan buku dan teknologi juga bisa berdampingan sehingga orang mau terus membaca.

“Saat ini kita masuk era revolusi industri dan teknologi 4.0, dimana dunia dalam genggaman,sehingga harus bisa menyesuaikan.Namun kemajuan teknologi harus bisa terkonfirmasi, tidak asal men-download saja, ” ujarnya.

Anggota Komisi X DPR RI, Dr Sri Meliani yang juga hadir meminta agar perpustakaan menjadi etalase buku bukan menjadi gudang buku lama. Untuk itu perlu perbaikan fisik,sarana dan prasarana perpustakaan agar masyarakat senang ke perpustakaan.

“Dengan fasilitas yang bagus dan koleksi buku yang terus diperbaharui maka indeks literasi bisa ditingkatkan,” ungkap Politikus dari Partai Gerindra tersebut. Ia pun mengajak daerah, Perpusnas RI duduk bersama DPR agar dapat segera memenuhi kebutuhan perpustakaan di daerah seperti renovasi gedung Perpustakaan Provinsi Sumsel, koleksi buku dan kebutuhan lainnya. Tak lupa, Sri juga meminta agar pemerintah daerah khususnya kepala daerah harus ada keberpihakan yang besar terhadap kemajuan perpustakaan dan budaya baca masyarakat yang cenderung menurun.

Mengenai pengembangan perpustakaan seperti yang telah disebutkan, Plt Kepala Dinas Perpustakaan Provinsi Sumsel, Mislena berharap pusat dapat membantu tenaga fungsional pustakawan yang saat ini semakin minim karena banyak pustakawan yang telah dan akan pensiun.

Sementara dalam talkshow tersebut, juga menghadirkan Pendongeng asal Yogyakarta, Slamet Nugroho,SS atau kerap disapa Kak Inug. Menurut Kak Inug banyak hal positif yang didapat dari membaca dan itu harus terus disadari. “Namun untuk menggerakkan anak agar mau membaca orang tua harus menjadi tauladan dengan rajin membaca juga, ” pungkasnya.

Dalam kesempatan itu juga hadir kalangan akademisi dan sejumlah komunitas literasi dan blogger di Sumsel yang senang membaca dan menulis. Mereka berharap tingkat literasi masyarakat dapat terus ditingkatkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button