NASIONALPOLITIK

Amien Rais Sebut Kontribusi Freeport di RI Cuma 1%, Benarkah?

BritaBrita.com,Jakarta- Politisi Amien Rais lagi-lagi menyuarakan pendapat yang vokal terhadap aksi pemerintah dalam mengambil alih 51% saham PT Freeport Indonesia. Ia menilai kontrak pengelolaan Freeport di Papua sebaiknya ditutup selamanya.

Mengapa begitu? Salah satu alasannya, menurut dia, adalah pengemplangan oleh Freeport. Ia menceritakan, Freeport memasukkan alat berat pertambangan, dan kebutuhan lainnya, dan semua alat tersebut bebas pajak. “Karena Freeport merasa seperti negara kecil di atas negara Indonesia,” tutur Amien saat dijumpai di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Kamis (26/7/2018).

Selain itu, ia juga menuturkan, sesuai kontrak karya 1967, Indonesia hanya mendapat royalti sekitar 1% dan pajak yang sepenuhnya sesuai kemauan Freeport. Ini ia ceritakan berdasar pengalamannya sewaktu mengunjungi tambang Freeport di Papua tahun 1996-1997 dulu.

Namun, benarkah hanya 1%? 

Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas menuturkan, jika dibilang pihaknya berkontribusi sedikit katakanlah, royalti emasnya cuma 1%. Tapi kenyataannya bukan 1%, ia mengungkapkan, ada double royalti yang disepakati di 1997 dan tembaga 3,75%

“Jadi keseluruhan penerimaan negara ini besar sekali, dari pajak penghasilan badan, kalau perusahaan lain hanya bayar 25% Freeport itu bayar 35% karena kontrak karyanya bicara seperti itu. Kemudian ada pajak-pajak lainnya, pajak daerah dan royalti yang jumlahnya keseluruhannya miliaran dolar,” jelas Tony.

Sehinga, lanjutnya, apabila dari 100% pendapatannya Freeport, 60% itu penerimaan negara masuk ke Freeport 40%. “Itu sekarang, kedepannya setelah bersama Inalum bisa lebih lagi, barangkali 75% untuk negara, 25% untuk Freeport,” pungkasnya.

Lantas, bagaimana setoran dividen Freeport Indonesia dalam 12 tahun terakhir? Berdasarkan data Direkrorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan, Jumat (13/7/2018), berikut setoran dividen Freeport Indonesia sejak 2005:

2005 : Rp 1,17 triliun
2006 : Rp 1,46 triliun
2007 : Rp 1,95 triliun
2008 : Rp 477,6 miliar
2009 : Rp 2,06 triliun
2010 : Rp 1,51 triliun
2011 : Rp 1,76 triliun
2017 : Rp 1,32 triliun (kurs APBN-P 2017).

Melihat data di atas, total setoran yang terkumpul selama 12 tahun terakhir adalah Rp 11,7 triliun. Setoran dividen tertinggi Freeport Indonesia terjadi pada 2009 yaitu sebesar Rp 2,06 triliun. Sementara itu, setoran dividen terendah terjadi pada 2008 sebesar Rp 477,6 miliar.

Sejak 2005 sampai 2011, Freeport Indonesia memang membagikan dividen kepada pemerintah, meskipun angkanya bersifat fluktuatif. Namun, setoran tersebut berhenti pada 2012 akibat penurunan harga komoditas dan aksi demo pekerja yang ramai saat itu.

Tercatat, dividen yang disetorkan Freeport Indonesia pada 2011 sebesar Rp 1,76 triliun. Namun hingga 2016, perusahaan tambang asal negeri Paman Sam tersebut tercatat tak pernah lagi membagikan dividen. Namun pada 2017, Freeport Indonesia kembali membagikan dividen sebesar Rp 1,31 triliun.

VP Corporate Communication PT Freeport Indonesia Riza Pratama pun membeberkan soal kontribusi perusahaannya untuk Papua mapun Indonesia. Menurutnya, PTFI setidaknya sudah mengeluarkan sebanyak US$ 800 juta dolar untuk membangun infrastruktur di Kabupaten Mimika.

“Di luar dividen, kami bangun airport, jalan, jembatan, kantor Bupati juga kami bangun. Kemarin kami juga baru bangun kompleks olahraga senilai US$ 3 Juta untuk PON 2020,” katanya seperti dinukil dalam laman CNBCIndonesia.

Selain bangun infrastruktur, Freeport juga memiliki komitmen untuk memotong langsung 1% dari penghasilan kotor tahunan mereka dan dikembalikan ke masyarakat untuk sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan sosial budaya. “Kami ciptakan 240 ribu lapangan kerja. Menopang ekonomi kabupaten 80% dan provinsi 50%,” jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button