OPINI

Jangan Berandai-andai, Terima Takdirmu

Oleh: Hj, Desmawati Djuliar, M.Si [ Ketua Yayasan Al Furqon Palembang ]

Diantara kita masih ada yang berandai-andai. “Andai saja, saya bisa jadi kaya raya,”üjar seorang pria. “Seandainya aku tidak menikah dengan dia, aku tidak akan sengsara seperti ini”, ucap seorang istri. Lalu “Andai istriku secantik artis itu, pasti aku gak selingkung” kata seorang suami.

Pernyataan seperti ini, masih pernah kita dengar dari beberapa kawan atau saudara kita seIman. Padahal, berandai-andai bukanlah perkara yang dibolehkan dalam agama Islam. Karena semua yang terjadi pada diri sendiri sudah merupakan takdir yang datangnya dari Allah SWT.

Allah memberikan Perumpamaan : “Dan mereka berkata: “Jikalau Allah Yang Maha Pemurah menghendaki tentulah kami tidak menyembah mereka (malaikat)”.” (QS. Az Zukhruf: 20).

Syaikh As-Sa’diy dalam Al Qoulus-Sadiid menjelaskan bahwa ucapan seandainya terbagi menjadi dua macam, yaitu Tercela dan Terpuji.

  1. Jadi, apabila bila diangan-angankan adalah sesuatu yang jelek dan maksiat, maka kata andaikata dalam hal ini menjadi tercela dan pelakunya terkena dosa, walaupun dia tidak melakukan maksiat. Misalnya: “Seandainya saya kaya seperti si fulan, tentu setiap hari saya bisa berfoya-foya”
  2. Apabila ucapan ‘seandainya’ digunakan hanya sekedar pemberitaan, maka ini hukumnya boleh. Contoh: “Seandainya engkau kemarin menghadiri pengajian, tentu engkau akan banyak paham mengenai jual beli yang terlarang.”

Demikian sensitifnya membukan peluang hati kita untuk berandai-andai. Allah begitu tidak menyukai sifat mendua. Disatu sisi mempercayai Allah dengan sangat kuatnya, namun disisi lain, masih berandai-andai, seolah tidak begitu mempercayai takdir Allah yang diturunkan kepada kita.

Allah ta’ala berfirma; Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfudz) sebelum Kami mewujudkannya, sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira dengan apa yang Dia berikan untukmu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Al-Hadiid: 22-23)

*Ketetapan Allah*

Ibnu Katsir Tafsir Surat Al-Hadid, ayat 22-24 menyebutkan bahwa, “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barang siapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah), maka sesungguhnya Allah Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.

Allah Swt. menceritakan tentang takdir yang telah ditetapkan-Nya atas makhluk-Nya sebelum Dia menciptakan semuanya. Untuk itu Dia berfirman: “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri. (QS.Al-Hadid: 22).

Maksudnya, di jagat raya ini dan juga pada diri kalian.  “melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. (QS. Al-Hadid: 22). Yakni sebelum Kami ciptakan manusia dan makhluk lainnya. Sebagian ulama tafsir mengatakan bahwa damir yang terdapat pada lafaz nabra-aha merujuk kepada nufus (yakni anfusikum).

Menurut pendapat yang lain, kembali kepada musibah. Tetapi pendapat yang terbaik ialah yang mengatakan kembali kepada makhluk dan manusia, karena konteks pembicaraan berkaitan dengannya. Seperti yang dikatakan oleh Ibnu Jarir,   tiba-tiba datanglah seorang lelaki yang menanyakan kepadanya tentang makna firman-Nya: ‘Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya’ (QS, Al-Hadid: 22).

“Seandainya aku begini atau begitu,…” Kata itu Sepele, tapi Allah Murka dibuatnya. Terkadang seseorang mengucapkan kata-kata yang dia kira itu hanyalah kata-kata yang ringan dan sepele padahal perkataan tersebut merupakan sesuatu yang bisa mendatangkan murka Allah ta’ala. Sehingga, bisa jadi seseorang dilemparkan ke dalam api neraka karena ia tidak mau berhati-hati dengan perkataannya. Nabi shallallhu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sungguh seseorang mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan kemurkaan Allah, namun dia menganggapnya ringan, karenanya dia dilemparkan ke dalam api neraka”. (HR. Bukhari no. 6478 dalam Kitabur Riqaq, Bab “Menjaga Lisan”).

*Peluang Tampilnya Setan*

Perkataan ‘seandainya’ sebagaimana diungkapkan, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersungguh-sungguhlah dalam hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusan), serta janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah. Jika kamu tertimpa sesuatu (kegagalan), maka janganlah kamu mengatakan, ‘seandainya aku berbuat demikian, pastilah tidak akan begini atau begitu’. Tetapi katakanlah, ‘ini telah ditakdirkan oleh Allah dan Allah berbuat sesuai dengan apa yang dikehendaki’. Karena sesungguhnya perkataan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan setan”. (HR. Muslim no. 2664)

Semoga kita meyakini apa yang datang dari Allah, yang merupakan takdir, sekalipun manusia memiliki kemampuan berusaha. (*)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button