OPINI

Wisata Akal dan Hati

PERNAHKAH kita membayangkan, andai saja oksigen yang ada di dunia ini dimusnahkan seketika oleh Allah? Bagaimana jika matahari tak lagi menyinari bumi? Bagaimana jika sumber-sumber mata air di muka bumi dimampatkan? Bagaimana jika pigmen warna-warni alam sekitar berubah menjadi hitam atau putih saja? Bagaimana jika bumi tiba-tiba berbenturan dengan benda-benda luar angkasa?

Bagaimana pula jika hidung, mata, telinga, mulut dan kulit kita tak peka lagi? Bagaimana jika organ-organ tubuh kita tidak berfungsi? Apa yang akan terjadi jika ada sebagian pembuluh darah di otak yang pecah? Apa yang akan kita lakukan jika hasil diagnosis kedokteran menyatakan bahwa umur kita tinggal beberapa hari lagi?

Semua hal tadi adalah pengandaian dan sangat mungkin terjadi. Segala puji bagi Allah yang telah menjaga kita dari hal-hal mengerikan tersebut. Dengan penuh cinta dan kasih sayang-NYA, Dia menjaga hamba-hamba-NYA dalam kondisi yang sebaik-baiknya. Allah menciptkan alam semesta dan makhluk di dalamnya dengan desain dan aturan yang sangat sempurna.

Mari. kita lihat sekali lagi bagaimana dunia dan seisinya diciptakan dengan ketelitian yang luar biasa. Luasnya alam semesta beserta aturan rumit yang bekerja di dalammya menunjukkan kebesaran Allah SWT. Bumi, tempat tinggal kita saat ini, sebenarnya sangatlah sempit di dalam tata surya. Tata surya yang terdiri dari bermacam-macam benda langit tersebut berada di galaksi bimasakti, sedangkan di dalam galaksi bimasakti sendiri ada sekitar 250 miliar bintang yang mirip dengan matahari. Bintang terbesar (VY Canis Majoris), yang diketahui ilmuwan, memiliki diameter atau garis tengah 2.800.000.000 km.

Untuk memudahi memahami hal tersebut, kita ambil contoh pesawat yang memiliki kecepatan 900 km/jam. Jika pesawat tersebut mengelilinginya dalam satu kali putaran, ia memerlukan waktu sebanyak 1.100 tahun. Ukuran yang luasnya sulit dibayangkan, bukan? Namun, taukah ukuran tersebut belumlah seberapa jika kemudian kita membandingkan ukuran galaksi bimasakti dengan ukuran keseluruhan luar angkasa. Ada galaksi-galaksi lain di ruang angkasa yang diperkirakan berjumlah 300 miliar, sebagaimana diungkapkan Harun Yahya dalam buku Pesona di Alam Raya.

Kita lebih kecil daripada butiran debu di jagat raya yang maha luas ini. Semua itu hendaknya membuat kita merenung, sebagaimana firman Allah “Agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuat, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu (QS Al-Thalaq (65):12)

Keseimbangan aturan di alam semesta bisa kita buktikan dalam kehidupan sehari-hari. Satu contoh sederhana : sinar matahari. Saat sinar matahari menerpa tubuh kita, sinar tersebut tidak akan berefek negatif, bahkan bermanfaat bagi tubuh. Namun, tahukah kita bahwa sinar tersebut bersumber dari pusaran nyala api raksasa yang mendidih di permukaan matahari, juga topan raksasa yang naik ke permukaan dari dasarnya. Sinar tersebut sangat beracun dan mematikan mahkluk hidup. Namun, Allah menjadikan atmosfer serta medan magnet bumi untuk menyaring semua sinar matahari yang berbahaya sebelum sampai ke bumi.

Masih banyak lagi contoh keseimbangan di alam semesta, seperti keseimbangan cuaca, kelembapan udara, kekentalan air dan sebagainya. Semua itu tercipta demi kenyamanan hidup manusia dan seluruh makhluk hidup di bumi. Setiap orang yang berakal akan menyadari kenyataan ini, tersungkur di antara rasa syukur kepada ilahi. Merindukan “ kehadiran-NYA”setiap waktu. “Tragedi terbesar dalam hidup adalah kehilangan Tuhan dan tidak merindukan-NYA.” (F.W.Norwood)

Lingkungan dan realitas sehari-hari memantulkan keberadaan-NYA. Seekor laba-laba kecil saja sudah cukup membuat takluk orang-orang yang mau merenungkan kehebatan tiap desain Allah. Serangga kecil ini mampu memproduksi hingga tujuh jenis jaring. Beberapa di antaranya setipis panjang gelombang cahaya yang kasatmata, tetapi lebih kuat dari baja. Jaring tersebut beragam jenisnya, mulai dari yang elastis serta lengket untuk menjaring mangsa, hingga yang tak lengket, seperti untuk membungkus mangsa, merangkai kantong telur, dan sebagainya.

Keajaiban Besar

Mari, kita lihat sekali lagi bagaimana keseimbangan dan desain cerdas penciptaan Allah kepada diri kita sendiri. Kelahiran kita dari rahim ibu dengan selamat merupakan keajaiban besar. Dulunya, kita tak lebih dari perpaduan sel jantan dan betina yang ukurannya sangat kecil dan lemah. Setalah itu berkembang dan membesar, sampai akhirnya terciptalah plasenta yang mengantarkan nutrisi untuk sang bayi.

Lihat Juga :  REFLEKSI MAKNA PERADABAN DI HARI SUMPAH PEMUDA

Plasenta ini bekerja dengan sangat teliti dan sempurna, karena nutrisi yang dibutuhkan bayi saat bulan-bulan pertama berbeda dengan apa yang dibutuhkannya pada bulan-bulan menjelang kelahiran.  Zat apa saja dan takaran yang diperlukan sang bayi juga sudah diatur dengan sangat akurat. Plasenta tak pernah salah melakukannya hingga seorang bayi mungil dan lucu dilahirkan ke muka bumi.

Keajaiban demi keajaiban akan kita temukan dalam tubuh. Misalnya, kulit kita diciptakan secara canggih sebagai alat perasa yang sempurna. Perhatikanlah, Anda dengan mudah bisa membolak-balikan kerta buku yang sedang And abaca ini. Kita bisa membedakan benda yang kasar, licin , halus dan berduri. Selain itu terdapat rancangan yang rumit di kulit yang mengatur kelembapan dan panas.

Otak menjadi pengendali setiap gerak –gerik tubuh. Berjuta-juta bahkan bermiliar-miliar rangsangan dari dunia luar mampu diuraikan di dalam otak dengan selaras. Lalu diperiksa sat persatu dan dinilai. Akhirnya, otak memberikan tanggapan kepada setiap sumber rangsangan. Dengan hal itu, kita bisa melihat, mendengar, merasakan dan sebagainya. Bukan hanya itu, otak kita juga memiliki sistem sempurna yang dapat menjalankan beberapa hal dalam waktu bersamaan . Misalnya, kita bisa mengemudi mobil sambil mendengarkan radio.

Paru-paru diciptakan dengan sangat mengesankan dan bisa menyesuaikan dirinya sesuai gerakan yang kita lakukan. Saat kita berlari, paru-paru bekerja lebih cepat dan memenuhi kebutuhan oksigen yagn meningkat. Sementara itu, ia akan bekerja lebih lambat saat kita sedang santai. Hal tersebut dilakukannya terus menerus tanpa henti sepanjang hidup kita.

Sistem peredaran darah merupakan jaringan distribusi raksasa. Bagian-bagian pembentuk sistem peredaran darah mengunjungi sekitar 100 triliun sel di dalam tubuh kita satu persatu. Inti sari sistem tersebut adalah jantung, yang memiliki empat buah bilik yang berbeda dan memompa darah segar serta darah kotor tanpa mencampur keduanya ke wilayah yang berbeda-beda di dalam tubuh. Jantung juga memiliki katub yang berfungsi sebagai penutup pengaman dengan rancangan yang  mengagumkan.

Sistem hormon, sebagai pembawa pesan di tubuh manusia, merupakan bukti lain tentang kesempurnaan ciptaan-NYA. Tahukah kita bahwa saat kita sedang membaca tulisan ini, proses-proses yang tidak terhitung jumlahnya sedang berlangsung dalam tubuh. Berapa jumlah detak jantung setiap detik, jumlah air yang disaring ginjal setiap menit, laju kalsium dalam tulang dan kadar gula dalam darah merupakan sedikit gambaran tentang kesempurnaan ciptaan-NYA. Masih banyak lagi proses lain yang sangat rumit. Sistem hormone dalam tubuh kitalah yang berjasa dalam kelangsungan proses-proses tersebut, sehingga bisa berjalan dengan selaras.

Contoh keajaiban lain dalam tubuh kita adalah DNA. Ia merupakan pusat penyimpanan data yang ukurannya sangat kecil. Bagaimana bentuk mata kita, warna kulit, jumlah rambut, tinggi tubuh dan data-data sejenis telah direkam dalam DNA.  Informasi yang ada dalam DNA tidak hanya berhubungan dengan ciri-ciri fisik tubuh, tetapi juga berhubungan dengan sistem serta proses yang berbeda-beda dalam sel dan tubuh. Informasi tinggi-rendahnya tekanan darah kita pun terkandung dalam DNA.

Fakta-fakta tersebut hendaknya membuat setiap orang merenungkan penciptaan mereka. Betapa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Semua itu, hanyalah gambaran global tentang tubuh kita. JIka dilihat lebih terperinci, diperlukan ratusan hingga ribuan jilid buku untuk menjelaskannya. Alquran menyatakan sebagai berikut , “ Dan di bumi terdapat tanda-tanda(kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (QS Al-Dzariyat [51]:20-21).

Memahami kesempurnaan desain ciptaan Allah di alam semesta serta kesempurnaan desain penciptaan diri sendiri akan menambah keimanan dan rasa syukur  kepada-NYA. Hal ini senada dengan pernyataan bahwa siapa yang mengenal dirinya, dia akan mengenal Tuhannya. Setiap orang hendaknya mengejewantahkan pernyataan tersebut dalam keseharian. Berusaha mengetahui hakikat dirinya, lalu menjadikannya sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada-NYA.

Kita hendaknya bersyukur kepada Allah SWT karena telah menjadikan kita sebagai makhluk terbaik yang memiliki kesempatan luas untuk terus menerus menyempurnakan diri dan mencari kebahagiaan hakiki.Batas minimal syukur adalah tidak durhaka kepada Sang Pemberi nikmat serta tidak menggunakan nikmat yang ada untuk sarana bermaksiat.

Lihat Juga :  Dijuluki Manusia Perahu Sungai Musi, 30 Tahun Rahman Hidup di Perahu Ketek

Syukur Nikmat

Tanyakan kepada diri kita sendiri, apa yang sudah kita lakukan dengan bermaca-mcam nikmat yang diberikan Allah selama ini. Apakah semakin mendekatkan kita kepada Allah atau justru sebaliknya ? Apakah menjadikan kita semakin taat atau justru mengingkarinya dengan perbuatan maksiat ? Syukur merupakan pengikat nikmat yang diterima agar tidak sirna. Bahkan, dengan syukur kenikmatan tersebut akan semakin bermakna dan berlipat ganda.

Kita salami dan lihat lebih dalam lagi, bagaimana kesempurnaan ayat-ayat-NYA yang terlukis di jagat raya. Kita memiliki akal yang mampu berpikir serta merenungkan hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya. Dia menganugerahkan kemampuan kepada kita untuk bisa mengambil pelajaran dari setiap kejadian. Fenomena alam dan realitas sehari-hari terjadi karena makna yang terhimpun di dalamnya. Dan  Allah tidak akan menciptakan sesuatu pun di dunia ini secara sia-sia.

Orang-orang yang beriman, hati mereka bergetar saat merenungkan keagungan dan kekuasaan Allah. Timbul perasaan takut (Khauf) untuk melanggar batasan-batasan yang telah ditetapkan-NYA. Tidak berani meninggalkan kewajiban dan menghindari sejauh-jauhnya perbuatan haram. Mereka mengingat siksa Allah dan merasa lemah, tidak mampu menanggung dahsyatnya siksaan itu.

Mereka memiliki harapan-harapan indah (raja) akan kemurahan Allah yang pasti akan memberikan balasan terbaik kepada orang-orang  bertakwa. Dia membalas perbuatan baik yang kadarnya sedikit dengan pahala yang berlipat ganda. Namun, Dia tidak akan membalas perbuatan buruk seseorang, kecuali sesuai dengan kadar yang dilakukannya.  “Barang siapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu”. (QS An-Nisa [4];123)

Kauf dan raja, keduanya harus dimiliki oleh setiap orang Khauf atau raja saja tidak cukup. Khauf saja (tanpa raja) akan menciptakan pribada yang mudah putus asa dari rahmat Allah. Sedangkan raja saja (tanpa khauf) akan menjadikan seseorang tidak takut kepada-NYA.

Dunia dan seisinya adalah medan tafakur bagi orang-orang beriman dan hal tersebut termasuk ajaran Islam. Syaikh Muhammad Al-Ghazali berkata dalam kita Al-Mahawir Al-Khamsah li Al-Quran Al-Karim bahwa hakikat agama Islam adalah perpaduan antara alam semesta dan kehidupan, manusia dan akhlak, ilmu dan pendidikan, serta zikir dan doa.

Bahkan, banyak doa dan zikir yang di dalamnya diiringi dengan penyebutan kondisi semesta, seperti pernyataan Allah-lah Pencipta langit dan bumi. Salah satu di antaranya, sebagaimana doa yang diajarkan Rasulullah SAW. Berikut ini : “Ya Allah, Yang Maha Mengetahui yang gaib dan nyata. Wahai Tuhan Pencipta langit dan bumi, Tuhan segala sesuatu yang merajainya. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Aku berlindung kepada-MU dari kejahatan diriku, setan dan bala tentaranya, atau aku menjalankan kejelekan terhadap diriku atau mendorong orang Islam kepadanya” (HR AL-Tirmidzi dan Abu Dawud)

Menadaburi alam semesta dan realitas di dalamnya bukan hanya meningkatkan keimanan, tetapi juga bisa menjadi sumber ketenangan dan kebahagiaan. Buya Hamka dalam salah satu bukunya mengutip perkataan Sayyid Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi berikut, “Carilah bahagia di dalam rimba dan belukar, di lurah dan bukit-bukit, di kebun dan di kayu-kayu, di daun yang hijau dan bunga yang mekar, di danau dan sungai yang mengalir .

Carilah bahagia pada sang surya yang terbit pagi dan terbenam sore, pada awan yang sedang berarak dan berkumpul, pada bintang-bintang yang sedang berkelip-kelip dan yang tetap di tempatnya. Carilah bahagia di kebun bunga di dekat rumahmu, di bandarnya lah di pinggir sungai sambil termenung, di puncak-puncak bukit yang didaki dengan payah, ke dalam tempat yang dituruni. Carilah ketika mendengarkan aliran air tengah malam, pada sunyi angin sepoi-sepoi basah, pada persentuhan daun kayu di tengah sawah.

Dalam semua yang disebutkan itu, tersimpanlah bahagia yang sejati, yang indah, mulia, murni, sakti, yang menyuruh paham menjalar, menyuruh perasaan menjalar ke dalam keindahan, menghidupkan hati yang telah mati, mendatangkan ketentraman yang sejati di dalam lapangan hayat. (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga
Close
Back to top button