KALAMNASIONALOPINISYARIAH

KEBERKAHAN

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi  mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya,” (QS. Al-A’raf [7]:96)

DALAM kehidupan ini, kita sering memohon keberkahan kepada Allah SWT. Berkah dalam usaha, umur, rezeki, ilmu dan lainnya. Kita meminta doa kepada orang tua dan para guru. Ada pula orang yang rela menempuh perjalanan jauh atau berziarah ke kuburan para wali atau tempat suci untuk mencari berkah. Tidak jarang, berkah dimaknai dengan hasil yang instan dan pragmatis (materi).

Tulisan ini hendak mengulas makna dan implikasi berkah dalam kehidupan. Jangan sampai kita memohon keberkahan namun melakukan perbuatan yang menghilangkannya. Memaknai keberkahan, baik dalam tatanan hidup pribadi, keluarga, masyarakat maupun bangsa. Semoga amal saleh kita dalam mencari keridhaan ilahi mendatangkan keberkahan.

Mencari Berkah

Dalam Alquran Al-Karim, ditemukan banyak kata barokah dalam berbagai maknanya. Misalnya, Alquran diturunkan pada malam yang diberkahi (QS Al-An’am [6]:92, QS Al-Abiya [21]:50, QS Shad [38] : 29), baitullah adalah rumah yang diberkahi (QS Ali Imran [3]:96), tempat-tempat yang diberkahi (QS Al-Isra [17] :1, QS Al-Qashash [28]: 30, QS. Saba’ [34]:18)

Berkah berasal dari kata barokah (jamak : barokat). Prof Dr M Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah menjelaskan makna berkah sebagai kebajikan ruhani dan jasmani. Kata barokah bermakna sesuatu yang mantap, kebajikan yang melimpah dan beraneka ragam serta berkesinambungan . Keberkahan ilahi datang dari arah yang seringkali tidak diduga atau dirasakan secara material dan tidak pula dapat dibatasi atau bahkan diukur. Segala penambahan yang tidak terukur oleh indra dinamai barokah/berkah. Adanya berkah pada sesuatu berarti adanya kebajikan yang menyertai sesuatu itu. Misalnya berkah dalam waktu, yakni banyak kebajikan yang dapat terlaksana pada waktu itu dan biasanya tidak bisa menampung sebagai aktivitas baik itu.

Paling tidak, ada tiga aspek yang mengundang keberkahan, yakni : Pertama, beriman kepada Allah SWT. Beriman seringkali disertai takwa yang menunjukan kesatuan yang tdak bisa terpisahkan. (QS Al-A’raf [7] ; 96). Jika iman adalah keyakinan dalam kalbu, maka takwa adalah refleksi dari iman yang tampak pada sikap, kata, dan perbuatan yang patuh dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah SWT.

Lihat Juga :  BKN Regional VII Yakin Penerimaan CPNS Februari 2020, ini Sebabnya

Prof Dr Buya Hamka dalam tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa keimanan dan ketakwaan kepada Allah membukakan pintu rejeki. Sebab kalau orang sudah beriman dan bertakwa, pikirannya sendiri terbuka, ilham pun datang. Sebab iman dan takwa itu menimbulkan silahturahim sesama manusia. Lantaran itu timbul kerjasama yang baik sebagai khalifah Allah di muka bumi. Maka turunlah berkah dari langit dan bumi. Baik berkah hakiki yakni hujan membawa kesuburan bumi, teraturlah tumbuhan dan keluarlah hasil bumi , maupun berkah maknawi , yakni timbulnya pikiran-pikiran baru dan petunjuk dari Allah, baik wahyu kepada para Rasul maupun ilham kepada orang-orang yang berjuang dengan ikhlas.

Kedua, mencintai ulama. Satu demi satu ulama terkemuka meninggalkan kita. “Mautul ‘alim mautul ‘alam” (Kematian ulama laksana kematian alam semesta). Begitulah kata hikmah menggambarkan besarnya peran dan kedudukan ulama di muka bumi. Mencintai yang menuntun umat ke jalan kebenaran dan kebaikan dengan ilmu dan keteladanan.

Jika ulama tidak lagi didengar dan dimuliakan, maka hilanglah keberkahan. Kini, umat Islam pun hidup dalam ironi.Kita lebih senang mendengar ceramah ustaz selebriitis di layar TV yang dibalut aksesoris sorban dan jubbah layaknya artis. Kita juga bangga mengundang mereka dengan honor yang fantastis, meski harus berjejer di pinggir jalan minta sedekah . Dakwah tidak lagi menjadi tuntunan, tapi tontonan.

Dalam kitab Nasha-ihul ‘ibad, Imam Ibnu Hajar Al Asqalani RH mengutip pesan Nabi SAW : “Akan datang suatu massa kepada umatku, di mana mereka lari dari (ajaran) para ulama dan fuqoha. Maka Allah akan menurunkan tiga bala (Malapetaka) kepada mereka, yaitu : (1) Allah akan menghilangkan berkah dari usahanya; (2) Allah menjadikan raja yang zhalim buat mereka; (3) Allah akan mengeluarkan mereka dari dunia (mati) tanpa iman.

Ketiga,  transaksi yang jujur. Keberkahan bersumber dari rejeki yang diperoleh melalui jalan yang halal (benar dan baik) . Banyaknya perolehan harta dan tingginya kedudukan  tidak menjadi ukuran. Rezeki berkah melahirkan keluarga yang berkah semakin baik, tenang, rukun dan saling meyanyangi. Anak dan istri atau suami taat beribadah dan berakhak karimah. Senang berbagai nikmat kepada orang lain yang membutuhkan.

Lihat Juga :  Indonesia Siap Terima Tamu Undangan KTT G20 di Bali

Nabi SAW mengingatkan : Dua orang yang saling berjual beli memiliki khiyar (hak memilih) selama mereka sebelum berpisah. Apabila mereka jujur dan memberikan penjelasan (terus terang dalam muamalah mereka),  maka mereka akan diberi berkah dalam jual beli mereka. Dan apabila mereka menyembunyikan kekurangan dan berdusta, maka berkah akan terhapus dari jual beli mereka, “ (HR Abu Daud).

Jual beli merupakan representatif dari semua transaksi ekonomi dan bisnis, baik dalam skala kecil maupun besar, pribadi maupun perusahaan, bahkan antara pemerintahan. Kejujuran akan mendatangkan keberkahan. Kecurangan dalam perjanjian atau bisnis, merupakan bukti keserakahan (rakus dan tamak). Kerakusan akan melenyapkan keberkahan (HR. Imam Ahmad)

Ketiga jalan keberkahan tersebut, haruslah menjadi pegangan hidup, baik sebagai pribadi, bagian dari keluarga, jamaah maupun bangsa. Jika tidak, maka keberkahan akan sirna. Iman dan takwa sebagai pondasi. Kecintaan kepada ulama sebagai lampu yang menyinari. Transaksi ekonomi (pekerjaan) dibingkai akhlak terpuji. InsyaAllah hidup diberkahi. Namun, jika ketiganya dilangkahi, maka pastilah bencana terjadi di sana-sini. Hujan yang turun bukan lagi menentramkan hati, tetapi menenggelamkan segala yang dicintai. Panas terik bukan lagi menghangatkan bumi, tetapi mematikan tanaman para petani. Para pemimpin bukan lagi mengayomi, tetapi justru menzhalimi.

Sudah banyak kepala daerah di Indonesia terindikasi terlibat kasus korupsi. Sudah Ribuan. Itu semua terjadi, karena kita mendustai ajaran Ilahi. Orang tua tak mampu lagi mendidik anak untuk berbakti. Guru sudah tidak patut diteladani. Tawuran pelajar, tindakan kriminal, peredaran narkoba dan pergaulan seks bebas pun merajarela tak terkendali lagi. Na’udzubillahi mindzalik. Wallahu a’lam bish Shawab. (***)  

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button