KALAMLIFESTYLEPALEMBANG

Sering Dikunjungi Wisatawan Lokal dan Mancanegara, Masjid Cheng Ho Palembang Butuh Penyegaran

BritaBrita.com, Palembang – Masjid Al Islam Muhammad Cheng Hoo Palembang merupakan masjid yang dibangun oleh komunitas Tionghoa-Muslim dengan memadukan tiga kebudayaan yang berbeda yaitu Islam, Tionghoa dan Palembang. Masjid Cheng Hoo menjadi salah satu destinasi wisata religi yang ada di kota Palembang.

Karena menjadi salah satu destinasi wisata religi di Kota Palembang, maka faktor keamanan, tatanan masjid, dan kebersihan di lingkungan Masjid Cheng Hoo menjadi salah satu hal yang penting diperhatikan.

Memasuki usia 15 tahun sejak berdirinya Masjid Cheng Hoo, saat ini salah satu masjid wisata religi ini butuh penyegaran dan renovasi beberapa ornamen-ornamen yang sudah mulai rusak dimakan usia dan cuaca.

Salah satu pengurus Masjid Cheng Hoo, Nur Aini atau akrab disapa Tan Erni atau Cece Erni mengatakan, saat ini masjid membutuhkan bantuan dan perhatian dari pemerintah maupun donatur untuk penyegaran masjid terlebih mendekati bulan suci Ramadan, seperti sekarang ini.

“Karena saat ini, ornamen-ornamen masjid sudah hampir banyak hancur dan rusak. Warna masjid pun sudah tampak memudar karena cuaca hujan dan panas, ada beberapa yang sudah diperbaiki melalui dana masjid seperti pemasangan kanopi agar mencukupi jamaah yang salat Jumat,” katanya.

Masjid Cheng Hoo terkenal dengan arsitek khas yang menggambarkan akulturasi budaya Tionghoa Palembang dalam bentuk bangunan masjid. Saat melangkah masuk di halaman masjid, anda akan disambut dengan gapura masjid bergaya Tiongkok dengan pilar merah dan atap berwarna kuning emas.

Pada gapura ini terdapat sebuah papan nama bertuliskan “Masjid Muhammad Cheng Hoo” lengkap dengan aksara Mandarin.

Bangunannya terlihat mencolok dari kejauhan, di dominasi berwarna merah, hijau dan emas, Masjid disandingkan dengan dua menara serupa pagoda berwarna merah yang masing-masing diberi nama “Habluminallah” (hubungan dengan Allah) dan “Habluminannas” (hubungan dengan sesama manusia).

Kedua menara tersebut memiliki makna mendalam yaitu menara mempunyai lima tingkat yang melambangkan salat lima waktu dalam sehari. Tinggi menara juga mencapai 17 meter menyimbolkan dari jumlah rakaat salat yang harus dikerjakan setiap muslim dalam sehari.

Masuk ke dalam masjid, anda akan mendapati warna merah yang mendominasi identik dengan kebudayaan Tionghoa. Arsitek Tionghoa juga terlihat dari daun pintu yang terdapat pada pintu utama masjid.

Lihat Juga :  Khawatir Lonjakan Kasus, Asrama Haji Disiapkan Jadi Tempat Isolasi Pasien Covid-19

Tiang pancang dan ornamen pagar pembatas bagian atas semakin mempercantik interior masjid yang kental akan nuansa Tionghoa. Tak lupa juga dilantai pertama masjid dikelilingi dengan jendela masjid yang cukup lebar sehingga menambah suasana sejuk karena banyaknya sirkulasi udara yang keluar masuk kedalam masjid.

Masjid Cheng Hoo memiliki dua lantai, lantai pertama digunakan untuk jamaah laki-laki sedangkan lantai kedua digunakan untuk jamaah perempuan.

Secara keseluruhan masjid ini mampu menampung sekitar 500 jamaah. Berlokasi di Komplek Perumahan Amin Mulia, Jakabaring, suasana masjid tampak tenang dan sunyi.

Adapun ruangan-ruangan lainnya seperti ruang pengurus, ruang mihrab, ruang ustadz dan gudang. Pada bagian menara masjid terdapat ruang wudhu, ruang mengumandangkan adzan dan MCK yang terletak di samping bangunan menara.

Di dalam ruangan shalat utama, terdapat banyak ornamen dan dekorasi berupa tulisan Arab berwarna emas dengan perpaduan warna hijau pada dindingnya. Salah satu tulisan di depan mimbar imam yaitu “Sesungguhnya Agama Disisi Allah adalah Islam”.

Dibagian belakang masjid terdapat Prasasti Masjid Al Islam Muhammad Cheng Hoo Sriwijaya berbentuk segitiga piramida yang menyatakan bahwa Masjid Cheng Hoo berpahamkan Ahlussunnah Wal Jama’ah Berfiqih Mazhab Al Imam Asy-Syafi’I dan Syafi’yah, berpaham Tauhid Imam Abu Hasan Al-Asy’ari, berpaham Tasawuf menurut Imam Al-Ghazali.

Adapun kegiatan di Masjid Cheng Hoo, hampir setiap hari Jumat selalu ada yang bersyahadat (masuk islam) baik laki-laki maupun perempuan.

“Biasanya kalau laki-laki kita beri Alquran dan sarung, kalau perempuan kita beri Alquran dan mukena,” kata pengurus Masjid Cheng Hoo, Nur Aini atau akrab disapa Tan Erni.

Singkat cerita, sebelum didirikan Masjid Cheng Ho di Palembang, dahulu terdapat Komunitas Tionghoa-Muslim yang sudah lama menetap dan berbaur bersama masyarakat setempat. Sebagai wujud penghormatan atas sosok Laksamana Cheng Hoo dan juga agar lebih mempererat persaudaraan antar sesama muslim, maka dibangunlah Masjid Cheng Hoo dengan memadukan arsitektur budaya Tiongkok, Palembang, dan Islam.

Masjid Cheng Hoo di Palembang dibangun oleh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Sebelum didirikannya Masjid Cheng Hoo, pengurus PITI memiliki agenda setiap Ahad, khusus mualaf muslim berkumpul di Masjid Agung Palembang untuk belajar mendalami Islam.

Lihat Juga :  Cair Gaji ke-13, Bantu Keperluan Anak Sekolah

“Kala itu, Gubernur Sumsel Syahrial Oesman menyarankan untuk mualaf Tionghoa membangun masjid. Dengan Izin Allah, gubernur menawarkan tanah yang berada di Kompleks Perumahan Top di Jakabaring yang saat itu sedang dibangun oleh developer Amin Mulya. Kebetulan pemilik tanah, Bapak Amin Mulya seorang mualaf dan mewakafkan tanahnya seluas 5.000 meter persegi untuk dibangun masjid ini,” paparnya.

Pada 2008 yang dibangun di atas tanah seluas 4.990 m2, masjid di desain oleh arsitek alm Ir. M. Husni Thamrin.

Pembangunan Masjid Cheng Hoo pertama didanai oleh keluarga PITI dan dana pada saat itu sebesar Rp 175 juta. Setelah itu, pendanaan pembangunan selain bersumber dari donatur PITI juga dibantu oleh donatur Ustadz dan Kyai, Pemerintah Kota dan Provinsi, jajaran Pangdam, Polda, Polairud, Lanal, instansi pemerintah, swasta, para pengusaha, warga Sumsel serta keluarga PITI Nasional dan lainnya sehingga, dengan berbagai bantuan dan upaya bersama berdirilah Masjd Cheng Hoo di Palembang.

Pemberian nama Masjid Cheng Hoo juga memiliki arti tersendiri, bukan bermaksud memprioritaskan diri atau mendiskriminasi dengan sesama muslim lainnya. Hanya saja, untuk mengingat perjuangan seorang pahlawan juga pendekar pada zamannya yang bernama Muhammad Cheng Ho merupakan seorang muslim tionghoa.

Islam sendiri masuk ke Palembang melalui aktivitas perdagangan salah satunya dengan pedagang dari Tiongkok. Saat itu Palembang yang masih dikuasai Sriwijaya mendapat masalah dari para perampok yang kerap mengganggu para pedagang.

Kebetulan, perampok ini dipimpin oleh seorang Tionghoa bernama Chen Tsu Ji. Maka penguasa Sriwijaya pun meminta bantuan kepada Kaisar Yongle. Bantuan tiba dengan dipimpin oleh Laksamana Cheng Hoo. Para perampok itu dalam sekejap bisa diringkus dan kondisi aman segera terbentuk. Setelah berhasil menumpas perampok itu, Laksamana Cheng Hoo lantas membentuk komunitas muslim Tionghoa di Palembang.

Konon Laksamana Cheng Hoo pernah beberapa kali singgah ke Palembang setelah menumpas perampok itu. Namun tidak ada catatan pasti apa keperluan Cheng Hoo dalam kunjungan-kunjungan berikutnya.

Apabila anda berkunjung ke Kota Palembang, jangan lupa sempatkanlah mengunjungi Masjid Cheng Hoo. Dan apabila datang waktunya salat bagi yang muslim maka ikutlah salat berjamaah di masjid tersebut.

Reporter: Trijumartini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button