KALAMSYARIAH

Jangan Mengeluh Kepada Orang Cukup Kepada Allah Saja

Oleh: Bangun Lubis (Wartawan)

Musibah dan ujian silih berganti hadir dalam kehidupan manusia. Hari kemarin soal keluarga, hari ini masalah pekerjaan besok ada-ada saja permasalahan yang baru mengganggu pemikiran. Sebagian orang menganggap ini sebagai sebuah siksa, walau banyak menyebut ini sebagai ujian yang tentu akan ada akhirnya.

Adalah sebuah kewajaran jika banyak juga diantara orang yang mengeluhkan tentang masalahnya, apakah itu ujian atau cobaan yang menimpa dirinya. Berbicara kepada sahabat, cerita kepada saudara, kepada orangtua dan  kepada siapa yang dirasakan nyaman menerima keluhan itu.

Sekalipun perlu diketahui bahwa adakalanya masalah juga tidak selesai. Ada anggapan bahwa mengeluhkan masalah kita kepada orang lain adalah sebuah Kesia-siaan. Karena bisa jadi orang lain juga memiliki masalah yang sama atau persoalan bisa jadi lebih parah dari yang sedang kita hadapi.

Sehingga, tidak bisa menemukan solusi seperti yang diharapkan. Bahkan, bisa jadi kita telah membuka aib kita sendiri kepada orang lain yang semestinya tidak perlu mengetahuinya. Jika bukan masalahnya makin parah, tentu akan muncul rasa malu dan menjadi masalah baru pula bagi  kita.

Agung Sasongko, Redaktur Republika.co.id, menurunkan sebuah artikel menuliskan bahwa dalam bahasa Arab, kata keluhan dan aduan diungkap dengan syakwa. Asal kata ini adalah fathasy syakwah yang berarti membuka bejana kecil. Yaitu, jika bejana kecil itu dibuka mulutnya maka akan terlihatlah air yang ada di dalamnya. Dan itulah keluhan. Ia tersimpan dalam hati, tetapi jika telah di ungkap dalam kata-kata maka terbukalah semua yang tersimpan.

Mengeluhkan sebuah masalah walau hanya kecil, tetapi akan bisa terlihat besar, karena setiap orang yang telah mendengar keluhan itu akan berbeda pendapatnya, maka yang tadi baik-baik saja bisa menjadi masalah besar. Para bijak mengatakan, simpanlah dan rahasiakanlah setiap masalahmu, cukup engkau yang tahu dan Allah.

Sifat keluh kesah memang telah disebutkan Allah dalam firman-Nya pada QS al-Ma’arij: 19 – 22. Allah menyebut bahwa; “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. (19). “Dan Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah.(20). “Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir (21). Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat.(22).

Kendati demikian dituliskan dalam AlQuran, hendaklah orang-orang yang beriman tidak mengumbar (mengeluhkan) masalahnya kepada orang lain. Sifat seperti ini adalah sifat yang tidak baik. Makanya, Allah menyebut hanya mereka yang mengerjakan Shalat saja yang tidak begitu. Menandakan bahwa mereka yang mengingat Allah tidak akan mungkin selalu berkeluh kesah untuk mengemukakan masalah apakah cobaan atau ujian yang dialaminya kepada orang lain. Tidaklah baik begitu.

Allah meminta agar jangan suka mengeluih, karena tidak akan menyelesaikan masalah, apalagi kepada manusia. Lihatlah Yaqub, “ Dia (Ya’qub) menjawab, hanya kepa da Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui. (QS Yusuf: 86). Allah jawab dalam surat Al Insyirah 94 : 5, bahwa Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

Semua ujian yang ada pada kita, bukanlah tidak atas izin Allah. Makanya kata Allah, manusia yang beriman hendaklah bersabar, karena belum tentu apa yang kita tidak sukai baik bagi kita sebagaimana firman Allah SWT.” “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216).

Pada QS Al Baqarah : 286, Allah memberikan isyarat bahwa setiap masalah pasti akan ada akhirnya. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”

Dalam sebuah kisah, bahwa sungguh, Allah telah mendengar ucapan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah, dan Allah Mendengar percakapan antara kamu berdua. Sesungguhnya, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat. (QS al-Mujadilah: 1).

Kita ingat Rasulullahlah juga mengeluh hanya Kepada Allah. “Berkatalah Rasul: Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Alquran itu sesuatu yang diacuhkan. Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap Nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa dan cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong. (QS al- Furqan: 30-31).

Cara terbaik mengadukan segala keluh-kesah adalah hanya kepada Allah, sebagaimana Nabi mengeluhkan perbuat an kaumnya kepada Allah azza wajalla. Kadang kala, ketika seseorang berkeluh kesah kepada orang lain, hal itu tidak memberikan jalan keluar, justru membuka masalah baru atau memberatkan orang lain. Sedangkan, Allah pasti memberikan jalan keluar ketika kita meminta kepada-Nya.

Seorang Muslim yang baik tidak akan mengeluhkan takdir Allah kepada manusia. Sebab, dia mengetahui itulah takdir yang diberikan oleh Rabb Yang Maha Mengasihi. Ada hikmah yang tersembunyi dari takdir itu yang akan berakhir dengan kebahagiaan.

Sifat keluh kesah pada diri manusia, sesungguhnya akan dapat terobati dan terkurangi, bahkan energi negatif dari sifat keluh kesah bisa diubah menjadi energi positif, manakala seseorang mampu melakukan kebaikan. Perbuatan baik akan menimbulkan kesenangan yang berujung kebahagiaan.(*)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button