Uncategorized

Sejenak Bersama Mahmoud Darwish, Penyair Palestina yang Jatuh Cinta pada Gadis Israel 

Britabrita.com — Mahmoud Darwish, lahir di Al-Birwa, Palestina, 13 Maret 1941.

 

 

Dia adalah seorang penyair terkenal di Palestina, sehingga dinobatkan sebagai penyair nasional.

Bahkan dirinya menerima banyak penghargaan atas karya-karyanya.

Ia adalah anak kedua dari pasangan Salim Darwosh dan Houreyyah Darwish.

Di usianya ke-6 tahun, ia harus menyaksikan para tentara Israel menerobos masuk ke desanya dan menghancurkan tanah kelahirannya hingga rata dengan tanah.

“Saya tidak akan pernah melupakan malam itu,” kenang Darwish seperti dilansir dari Asahi.com.

Penduduk desa melarikan diri melalui kebun zaitun, dikejar oleh suara tembakan dan tembakan yang semakin dekat.

 

Kebebasan Palestina

Ia memiliki ketertarikan akan puisi di usia 10 tahun, dan memulai menulis beberapa bait puisi mengenai kehidupan yang ia jalani.

Kekuatan puisinya dapat dijelaskan oleh ketulusan emosi dan orisinalitas, beberapa kali ia menyiratkan unsur politik mengenai kebebasan Palestina.

Menggunakan metafora dalam sastra Arab klasik, sejarah Islam Arab dan Romawi.

Selama hidupnya, Darwish telah menerbitkan lebih dari 30 jilid puisi dan delapan buku prosa.

Ia juga pernah menjadi editor majalah Al Jadid, Al Fajr, Shu’un Filastiniyya, dan Al Karmel.

Ia juga salah satu kontributor Lotus, majalah sastra yang dibiayai oleh Mesir dan Uni Soviet.

 

Sekolah Israel 

Saat menjadi siswa di sekolah Israel, dia mendapat masalah dengan pihak berwenang karena menulis puisi yang ditujukan kepada teman sekelasnya yang Yahudi.

 

Bunyinya:

“Kamu punya rumah, dan aku tidak punya/ Kamu punya perayaan, tapi aku tidak punya/ Mengapa kita tidak bisa bermain bersama?”

(Puisi ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang oleh Inuhiko Yomota dan dimasukkan dalam antologi syair Darwish, diterbitkan dengan judul Jepang “Kabe ni Egaku,” yang secara harafiah berarti “Menggambar di Dinding.”)

Puisi Darwish berkembang menjadi karya-karya yang menghibur jiwa Palestina yang terluka sekaligus menginspirasi keberanian.

Dan mungkin itulah sebabnya pihak berwenang Israel berulang kali menangkapnya karena menerbitkan karyanya.

 

Kisah Cinta

Semasa hidupnya, Mahmoud Darwish pernah mencintai seorang gadis Israel.

Kisah cinta tersebut ia pendam dan disembunyikan dari publik hingga belasan tahun lamanya.

Hal ini dikarenakan kondisi yang tak memungkinkan.

Mahmoud adalah aktivis Palestina sementara gadis yang ia cintai berdarah Israel yang kemudian dipaksa masuk IDF (tentara pertahanan Israel).

Meski demikian, ia kemudian menuangkannya lewat salah satu puisinya yang berjudul “Rita and The Riffle.”

“Rita dan Senapan’. Di antara Rita dan mataku Ada senapan Dan siapa pun yang mengenal Rita Berlutut dan bermain Kepada keilahian di mata berwarna madu itu Dan aku mencium Rita Ketika dia masih muda Dan aku ingat bagaimana dia mendekat.”

Darwish meninggal dunia tahun 2008 pada usia 67 tahun.

Salah satu puisinya berbunyi, “Sejarah mengolok-olok para korban dan pahlawannya/ Ia melirik mereka sambil lalu dan terus berjalan/ Laut adalah milikku/ Udara segar adalah milikku.” (berbagai sumber)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button