KALAMMUTIARA ISLAMOPINI

Demi Cintaku Pada MU, Kemana Pun Engkau Kubawa

Penulis: Bangun Lubis

‘Demi Cintaku Pada Mu, Kemana Pun Engkau Kubawa’. Sepenggal syair lagu Amy Search, dari Malaysia dan penyanyi Indonesia Inka Christy dalam “Cinta Kita”, menjadi makin populer, karena makna yang begitu dalam dari cinta kita.

Cinta dan kasih sayang memang adalah hal yang manusiawi pada manusia. Allah menganugerahi perasaan cinta pada setiap insan. Bahkan Allah juga menurunkan aturan berkaitan dengan cinta.

Dalam banyak hadist Rasulullah SAW, menjelaskan tentang adanya perasaan dan rasa sayang seorang muslim pada saudaranya (muslim yang lain). Tetapi, banyak pula kisah yang diceritakan – dan kita alami sendiri- akan adanya cinta yang ternoda diantara sesama saudara seiman hanya karena kepentingan duniawi yang sangat pribadi dan tidak melibatkan Allah.

“Saudariku, cinta sejati adalah hubungan yang berasal dari kemurnian cahaya bimbingan Islam.” Kutipan kata kata indah dari Dr Muhammad A. Al-Hashimi ini menggambarkan betapa indahnya cinta yang dijalin diantara saudara seiman.

Tak peduli perbedaan bahasa mereka, perbedaan letak geografis tempat ia berada, tak peduli perbedaan budaya dan warna kulit.

(Ini adalah) ikatan atas dasar iman kepada Allah subhaanahu wa ta’ala. Kata indah dalam kutipan hadist, tergambar pengertian bahwa cinta merupakan ekspresi dari manisnya iman dapat dilihat dari hadist riwayat Anas ra., ia berkata: “Nabi saw. bersabda: Ada tiga hal yang barang siapa mengamalkannya, maka ia dapat menemukan manisnya iman, yaitu orang yang lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya daripada yang lain, mencintai saudaranya atau orang lain yang seiman karena Allah, tidak suka kembali ke dalam kekufuran (setelah Allah menyelamatkannya) sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke dalam neraka.

Jadi ini bukan cinta demi status, atau ketenaran belaka. Sebab cinta dimaksud adalah cinta yang membutuhkan hati yang bersih, hati yang ringan, dan lembut penuh arti
kesetian.

Dari Mu’adz ibn Jabal ra, dalam hadis Qutsi, dikemukakan: “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, Berfirman Allah Yang Maha Mulia dan Luhur: “Mereka yang berkasih-sayang demi Keluhuran-Ku, bagi mereka mimbar-mimbar cahaya yang menyebabkan para An-Nabi dan para Asy-Syuhada iri kepada mereka”. (HR. At Tirmidzi). Cinta semacam inilah adalah satu-satunya cara untuk menghilangkan kebencian, kecemburuan, dan persaingan dari hati manusia.

Betapa pentingnya kebaikan disebutkan ratusan kali dalam Al-Qur’an! Islam menanamkan pengikutnya dengan karakteristik kebaikan dan kesetiaan terhadap teman-teman, termasuk orang tua. Jika kita ingat kisah tentang Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha yang berkata: “Saya tidak pernah cemburu kepada seorang pun dari semua istri-istri Nabi s.a.w. sebagaimana cemburu saya kepada Khadijah, padahal saya tidak pernah melihatnya sama sekali, tetapi Nabi s.a.w. memperbanyak menyebutkannya -yakni sering-sering disebut-sebutkan kebaikannya-.

Kadang-kadang Nabi s.a.w. menyembelih kambing kemudian memotong-motongnya seanggota demi seanggota, kemudian dikirimkanlah kepada kawan-kawan Khadijah itu. Begitu berartinya sebuah senyuman dalam kehidupan hingga Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Baihaqi. “Tabassumuka Fii Wajhi Akhiika Shodaqoh.” Artinya, “Tersenyum ketika bertemu dengan saudara kalian adalah termasuk ibadah.”Ibadah yang amat mulia di sisi Allah.

Senyum memiliki fungsi yang luar biasa dalam mengubah dunia. Mengapa demikian? Karena senyum merupakan salah satu instrumen dakwah dan syiar Rasulullah SAW yang turut melengkapi kemuliaan budi pekertinya dalam etika pergaulannya dan dalam membina keharmonisan rumah tangganya.

Suatu hari, seorang Badui Arab meminta sesuatu kepada Rasulullah SAW dengan menarik sorban beliau hingga tercekik, dan tarikan sorban itu meninggalkan bekas pada leher Rasulullah SAW. Orang ini berpikir, bahwa Rasulullah pasti marah setelah ia melakukan hal tersebut. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya. Ia terkesima menatap Rasulullah SAW yang tidak marah atas perlakuannya yang sangat kasar, tetapi justru Rasulullah SAW tersenyum dengan ikhlas kepadanya.

Akhirnya, senyum tulus Rasulullah SAW, membawa orang Badui ini menikmati indahnya Islam. Sebuah senyum yang didasari ketulusan dan keimanan mampu mengubah keyakinan seseorang. Ketulusan senyum dan kemuliaan budi pekertinya dalam berdagang bahkan berperang membuatnya mampu menyebarkan Islam hingga Kisra dan Persia. Dengan menjadkan Islam sebagai identitas utama kita untuk mencintai saudara seiman atas dasar kepatuhan kepada Allah Ta’ala adalah satu-satunya hal yang akan menyelamatkan kita di Hari Kebangkitan kelak. Wallohua’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button