NASIONALOPINIPALEMBANGSUMSEL

Kesalehan Kurban dan Penyembelihan Islami

IBADAH kurban, layanan keagamaan tahunan, dipersiapkan dengan cermat untuk dilakukan setiap tahun sesuai dengan sumber daya dan kemampuan yang tersedia. Periode sepuluh hari pertama Dhulhijjah ditandai dengan perayaan yaum nahar (hari pembantaian), yang secara luas dianggap sebagai hari yang paling penting sepanjang tahun dalam arti keagamaan. Hari khusus ini mencakup berbagai praktik keagamaan dan tindakan amal, seperti puasa di Arafah, melakukan shalat Idul Fitri, melakukan ziarah haji, dan mengambil bagian dalam tindakan pengorbanan, yang biasanya tidak digabungkan pada hari lain dalam setahun.

Dengan demikian, individu-individu yang taat didorong untuk segera terlibat dalam perbuatan baik, memanfaatkan kesempatan yang diberikan oleh kesempatan yang menguntungkan ini untuk meningkatkan pertumbuhan spiritual mereka melalui dedikasi yang tinggi dan ketundukan terhadap tindakan kepatuhan. Salah satu berkat yang diberikan Allah adalah penyediaan berbagai jalan bagi para penyembah-Nya untuk terlibat dalam tindakan kebaikan dan berbagai bentuk ketaatan, memastikan bahwa perjalanan spiritual seorang Muslim terus menerus dan bahwa kewajiban ibadah tetap menjadi aspek fundamental dari kehidupan mereka. Periode aktivitas spiritual yang meningkat ini menawarkan orang percaya kesempatan untuk memperdalam hubungan mereka dengan yang ilahi dan memperkuat komitmen mereka untuk menjalani kehidupan yang dibimbing oleh iman dan kepatuhan terhadap ajaran Islam. Fokus terkonsentrasi pada tindakan ibadah selama periode ini berfungsi untuk memperkuat pentingnya pengabdian dan disiplin diri dalam kehidupan orang percaya, menumbuhkan rasa pemenuhan spiritual dan kedekatan dengan Allah yang menembus semua aspek keberadaan mereka. Selama saat-saat signifikansi keagamaan yang tinggi inilah orang-orang percaya diingatkan tentang perlunya memprioritaskan kesejahteraan rohani mereka dan berjuang untuk keunggulan dalam pengabdian mereka kepada Allah, menarik kekuatan dan inspirasi dari ibadah kolektif dan tindakan amal yang menjadi ciri periode ketaatan agama ini. Siklus tahunan ibadah kurban berfungsi sebagai pengingat ikatan abadi antara penyembah dan Ilahi, memperkuat prinsip-prinsip iman, kerendahan hati, dan kepatuhan yang membentuk landasan kehidupan seorang Muslim yang taat. Pada intinya, praktik ibadah kurban selama periode tahunan perayaan agama berfungsi sebagai pengingat kuat akan nilai-nilai abadi iman, pengabdian, dan kepatuhan yang menentukan perjalanan spiritual seorang mukmin dalam Islam.

Dalam sabda Rasulullah, yang artinya : “ Jika kalian memasuki tanggal 10 (Dzulhijjah) dan hendak berkurban maka janganlah dia menyentuh sedikit pun dari rambutnya dan kulitnya.” (HR muslim No.1977)

Berdasarkan hadist tersebut. Menurut Imam Asy Syafi’i. berkurban adalah sunnah. Dalam QS. Al Hajj (22) : 34, yang artinya : “Dan bagi tiap-tiap umat telah kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-NYA. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)”.

Hari Penyembelihan atau biasa disebut yaum an-nahr dan Idul Adha, jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah setiap tahun. Ini merupakan hari raya seluruh umat Islam. Dan bagi para Jemaah haji , ini merupakan salah satu rangkaian manasik haji yang sangat penting. Sebagian ulama bahkan berpendapat hari tersebut merupakan hari paling mulia dalam satu tahun. Sebagaimana hadist dari Abdullah bin Qurth ra. Bahwasannya Nabi SAW, bersabda yang artinya : “Hari yang palinng agung di sisi Allah adalah hari penyembelihan dan hari sesudahnya.” (HR Ahmad, An-Nasai, Ibnu Khuzimah, Ibnu Hibbon, Ath-Thabaroni, Al-Hakim, Al-Baihaqi dan Abu Nu’Aim Al-Asbani. Dinyatakan sahih oleh Al-Arnauth dan Al-Albani.)

Pada saat seorang muslim menyembelih hawan kurbannya, ini merupakan pelajaran agar tidak melupakan saudara-saudaranya yang membutuhkan, mau bersedekah, mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan membagi-bagikan daging kurbannya itu kepada orang-orang yang membutuhkannya.

Allah SWT, berfirman dalam Qs. Al Hajj (22): 37 yang artinya : “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridoaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-NYA kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”.

Ibadah Kurban Simbol Ketakwaan

Di Hari Raya Idul Adha seorang muslim mendekatkan diri kepada Allah SWT, dengan menyembelih kurban sebagai tanda peribadahannya kepada-NYA dan rasa syukur atas nikmat-nikmat-NYA. Juga sebagai tanda meneladani Nabi Ibrahim Alaihissalam (Khalilur rahman/kekasih Allah) saat dimana dia diuji oleh Allah SWT untuk menyembelih anaknya (Ismail Alaihissallam) dan beliau menyambutnya dengan penuh ketaatan kepada-NYA, sebagaimana Allah berfirman dalam Qs. Ash-Shaffat (37) : 106-107, yang artinya : “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (bagimu). Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”.

Nabi Muhammad SAW, adalah orang yang paling gigih dalam melindungi dan menjaga tauhid dari umatnya. Suatu contoh tatkala seorang meminta izin kepada beliau untuk menyembelih seekor unta karena nazar kepada Allah SWT, sebagaimana dalam hadist yang artinya :  “Tsabit Ibnu Ad-Dhahak ra, berkata : Pada masa Rasulullah SAW, ada seorang bernazar hendak menyembelih unta di Buwanah. Lalu ia menemui Rasulullah SAW dan menanyakan hal itu. Beliau bertanya, “Apakah di situ pernah ada berhal yang disembah? “ Ia menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya, “Apakah di situ pernah dirayakan hari raya mereka? Ia menjawab, Tidak. “Beliau bersabda, Penuhlah nazarmu, sesungguhnya nazar itu tidka boleh dilaksanakan bila ia mendurhakai Allah, memutuskan tali persaudaraan, dan nazar pada suatu benda yang tidak dimiliki oleh manusia. “HR Abu Dawud dan Thabrani dengan lafaz menurutnya. Sanadnya sahih (Bulughul Maram No 1407)

Sebenarnya Rasulullah SAW tahu jika sahabatnya tidak akan mengadakan penyembelihan dan kurban, melainkan hanya kepada Allah SWT. Saja, akan tetapi beliau ingin membersihkan kaum muslimin muslimin dari segala macam sarana yang menghantarkan kaum muslimin kepada perbuatan-perbuatan syirik. Maka tidaklah boleh seseorang mengadakan penyembelihan bagi Allah di tempat yang dipakai untuk menyembelih sembelihan yang diperuntukan bagi selain Allah. Dan tidaklah Allah SWT, disembah di tmpat yang digunakan untuk beribadah kepada selain Allah.

Secara Ilmiah, Sembelihan Islami Lebih Sehat

Menurut Barat, cara penyembelihan yang paling berperikemanusiaan adalah dengan membuat hewan sembelihan tersebut tidak sadar sebelum disembelih. Metode yang dilakukan adalah membuat hewan pingsan dengan setrum, bius, maupun dengan cara—yang meraka anggap paling baik—memukul bagian tertentu di kepala ternak dengan alat tertentu pula. Alat yang digunakan adalah Captive Bolt Pistol (CBV). Dengan cara demikian, hewan yang disembelih dianggap tidak menderita kesakitan karena disembelih dalam keadaan tidak sadar.

Marian Theim, Ketua Partai Pembela HAM di Belanda, yang juga anggota parlemen Belanda, meminta dibatasinya cara penyembelihan menurut tata, cara agama di Belanda. Ia menganggap cara penyembelihan menurut ajaran agama di Belanda. Ia menganggap cara penyembelihan menurut ajaran agama merupakan sesuatu yang tidak manusiawi dan menimbulkan ekses yang tidak perlu bagi binatang. Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan manakah yang lebih baik dan yang paling tidak sakit, penyembelihan secara syariat Islam yang murni (tanpa proses membuat pingsan) ataukah penyembelihan dengan cara Barat (dengan membuat pingsan).

Hasil penelitian ilmiah yang dimuat dalam situs resmi Universitas Airlangga (unair.ac.id) melansir hasil penelitian Hannover University dengan Judul Penyembelihan Sapi dengan Stunning vs non stunning sebagai berikut. Disebutkan dua staf ahli peternakan dari Hannover University, sebuah universitas terkemuka di Jerman, yaitu Prof Dr Schultz dan koleganya Dr Hazim memimpin penelitian mengenai manakah yang lebih baik dan paling tidak sakit, penyembelihan secara syariat Islam yang murni ataukan penyembelihan dengan cara Barat.

Keduanya merancang penelitian dengan sangat canggih, mempergunakan sekelompok sapi yang telah cukup umur (dewasa). Pada permukaan otak kecil sapi-sapi itu dipasang elektroda (microchip) yang disebut Electro-Encephalograpraph (EEG). Microchip EEG dipasang di permukaan otak yang menyentuh titik (panel) rasa sakit di permukaan otak, untuk merekam dan mencatat derajat rasa sakit sapi ketika disembelih. Di jantung sapi-sapi itu juga dipasang Electro Cardiograph (ECG untuk merekam aktivitas jantung saat darah keluar karena disembelih. Untuk menekan kesalahan, sapi dibiarkan beradaptasi dengan EEG maupun ECG yang telah terpasang di tubuhnya selama beberapa minggu. Setelah masa adaptasi dianggap cukup, maka separuh sapi disembelih sesuai syariat Islam yang murni, dan separuh sisanya disembelih dengan menggunakan metode pemingsanan yang diadopsi Barat.

Dalam syariat Islam, penyembelihan dilakukan dengan menggunakan pisau yang tajam, dengan memotong tiga saluran pada leher bagian depan, yakni saluran makanan, saluran nafas serta dua saluran pembuluh darah, yaitu arteri karotis dan vena jugularis. Selama penelitian, EEG dan ECG pada seluruh ternah sapi itu dicatat untuk merekam dan mengetahui keadaan otak dan jantung sejak sebelum pemingsanan (atau penyembelihan) hingga ternak itu benar-benar mati. Dari hasil penelitian yang dilakukan dan dilaporkan oleh Prof Schultz dan Dr Hazim di Hannover University Jerman itu dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

Penyembelihan Secara Syariat Islam

Hasil penelitian dengan menerapkan praktik penyembelihan menurut syaiat Islam menunjukkan : Pertama, pada tiga detik pertama setelah ternak disembelih (dan ketiga saluran pada leher sapi bagian depan terputus), tercatat tidak ada perubahan pada grafik EEG. Hal ini berarti bahwa pada 3 detik pertama setelah disembelih itu, tidak ada indikasi rasa sakit. Kedua, pada 3 detik berikutnya, EEG pada otak kecil merekam adanya penurunan grafik secara bertahap yang sangat mirip dengan kejadian deep sleep (tidur nyenyak) hingga sapi-sapi itu benar-benar kehilangan kesadaran.

Pada saat tersebut, tercata pula olah ECG bahwa jantung mulai meningkat aktivitasnya. Ketiga, setelah 6 detik pertama itu, ECG pada jantung merekam adanya aktivitas luar biasa dari jantung untuk menarik sebanyak mungkin darah dari seluruh anggota tubuh dan memompanya keluar. Hal ini merupakan refleksi gerakan koordinasi antara jantung dan sumsum tulang belakang (spinal cord). Pada saat darah keluar melalui ketiga saluran yang terputus di bagian leher tersebut. Grafik EEG tidak naik, tapi justru drop (turun) sampai ke zero level (angka nol). Hal ini diterjemahkan oleh kedua peneliti ahli itu bahwa “No feeling of pain at all” (tidak ada rasa sakit sama sekali).  Keempat, karena darah tertarik dan terpompa oleh jantung keluar tubuh secara maksimal, maka dihasilkan healthy meat (daging yang sehat) yang layak dikonsumsi bagi manusia. Jenis daging dari hasil sembelihan semacam ini sangat sesuai dengan prinsip Good Manufacturing Practise ((GMP) yang menghasilkan Healthy Food (makanan sehat/layak konsumsi).

Penyembelihan dengan Cara Dipingsankan (Model Barat)

Pertama, segera setelah dilakukan proses stunning (pemingsanan), sapi terhuyung jatuh dan roboh. Setelah itu, sapi tidak bergerak-gerak lagi, sehingga mudah dikendalikan. Karena itu, sapi dapat pula dengan mudah disembelih tanpa meronta-ronta dan tampaknya tanpa mengalami rasa sakit. Pada saat disembelih, darah yang keluar hanya sedikit, tidak sebanyak bila disembelih tanpa proses stunning (pemingsanan). Kedua, segera setelah proses pemingsanan, tercatat adanya kenaikan yang sangat nyata pada grafik EEG. Hal itu mengindikasikan adanya tekanan rasa sakit yang diderita oleh ternak (karena kepalanya dipukul, sampai jatuh pingsan). Ketiga, grafik EEG meningkat sangat tajam dengan kombinasi grafik ECG yang drop ke batas paling bawah. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan rasa sakit yang luar biasa, sehingga jantung berhenti berdetak lebih awal. Akibatnya, jantung kehilangan kemampuannya untuk menarik darah dari seluruh organ tubuh serta tidak lagi mampu memompanya keluar dari tubuh. Keempat, karena daerah tidak tertarik dan tidak terpompa keluar tubuh secara maksimal, maka darah itu, pun membeku di dalam urat-urat darah dan daging. Sehingga dihasilkan unhealthy meat (daing yang tidak sehat), yang dengan demikian menjadi tidak layak dikonsumsi oleh manusia.

Dalam khazanah ilmu dan teknologi penyembelihan daging, bahwa timbunan darah beku (yang tidak keluar saat ternak mati/disembelih) merupakan tempat atau media yang sangat baik bagi tumbuh kembangnya bakteri pembusuk, yang merupakan agen utama merusak kualitas daging. Hasil penelitian Prof Schultz dan Dr Hazim juga membuktikan pisau tajam yang mengiris leher ternyata tidaklah “Menyentuh” sara rasa sakit. Oleh karenanya, kedua peneliti ahli itu menyimpulkan bahwa sapi meronta-rontah dan meregangkan otot bukanlah sebagai ekspresi rasa sakit, melainkan sebagai ekspresi keterkejutan otot dan saraf saja yaitu pada saat darah mengalir keluar dengan deras. Dijelaskan demikian karena grafik EEG tidak membuktikan juga tidak menunjukkan adanya rasa sakit itu.

Senada dengan hasil penelitian yang dimuat situs tersebut, juga ada tulisan yang disadur dan diringkas oleh Usman Effendi AS, dari makalah tulisan Nunung Donar Dono, SPt, M.P, Sekretaris Eksekutif LPPOM-MUI Provinsi DIY dan Dosen Fakultas Peternakan UGM Yogyakarta. (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button