KALAMKolomSYARIAH

Betapa Mulianya Pemberi Maaf

Oleh : Ustaz Aminuddin

WAHAI saudara-saudaraku ..

Ingatlah maaf menjadi salah satu sifat ter baik yang pernah dimiliki manusia. Sikap ini pernah ditunjukkan oleh Asma Mohamad Jama, seorang Muslimah Amerika Serikat (AS) yang dipukul dengan gelas bir oleh seorang perempuan kulit putih.

Jodie Burchard Risch melakukan itu hanya karena Asma berkomunikasi dengan bahasa Swahili di sebuah restoran beberapa waktu lalu.

Di Pengadilan Minnesota, Asma memberi maaf kepada Jodie Burchard Risch. Perempuan berhijab itu mengungkapkan, maaf merupakan sesuatu yang diajarkan agama.

“Di hadapan semua orang, saya memaafkan kamu. Pilihlah cinta daripada benci karena kebencian akan ‘memakanmu’,”ujar Asma.

Guru madrasah di Amerika Serikat, Sombat Jitmoud, juga menunjukkan sikap serupa kepada salah satu kawanan pembunuh anaknya, Shalahuddin, Trey Relford.

Sombat bahkan merasa kasihan kepada Relford karena harus menghabiskan masa depannya di dalam penjara.

Peristiwa Sombat yang memeluk Relford membuat haru suasana pengadilan. Hakim dan keluarga pembunuh ikut menangis karena ketulusan Sombat.

Maaf merupakan fitrah manusia yang amat dianjurkan dalam Islam. Meski ada hukum yang ketat di dalam syariah, maaf menjadi penyelesaian akhir yang dianjurkan Allah SWT. Maaf merupakan satu rahmat Allah yang bisa dinikmati manusia.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka, barang siapa yang mendapatkan suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barang siapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.” (QS al-Baqarah:178).

Mengutip buku “20 Sebab Kenapa Harus Memaafkan”karya DR Firanda Adirja, dijelaskan bahwa menurut Ibnu Taimiyyah, hendaknya seseorang mengetahui bahwa tidaklah seseorang membalas untuk membela jiwanya kecuali hal itu akan menimbulkan kehinaan pada dirinya.

Lihat Juga  Stafsus Gubernur Sumsel, KH Amirudin Nahrawi Jabat Ketua Tanfidziyah PWNU Sumsel

Apabila dia memaafkan, maka Allah akan memuliakannya, dan ini telah dikabarkan Rasulullah SAW. Beliau bersabda, ‘Tidaklah seseorang memaafkan kecuali Allah akan menambah kemuliaannya.’ (HR Muslim no 2588).”

Redaksi lengkap hadis tersebut sebagaimana riwayat hadis Abu Hurairah berkaitan dengan tiga perkara yang di luar yang tampak. Hadits lengkapnya berbunyi, “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah SWT akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya’.” (HR Muslim)

Pertama, tatkala seseorang berinfak maka secara lahir harta akan berkurang, akan tetapi Nabi SAW mengatakan bahwa berinfak itu tidak akan mengurangi harta.

Kedua, tatkala seseorang memaafkan dan mengalah maka secara lahir menunjukkan bahwa orang tersebut adalah lemah dan tidak memiliki kekuatan, akan tetapi Nabi SAW mengatakan bahwa barang siapa yang memaafkan atau mengalah maka Allah akan tambah kemuliaannya.

Ketiga, tatkala seseorang bersifat tawadu maka secara lahir dia adalah orang yang rendah atau bahkan hina, akan tetapi Nabi SAW mengatakan bahwa sesungguhnya orang tawadu itu akan diangkat derajatnya di sisi Allah SWT.

Ini semua tentunya membutuhkan keyakinan. Adapun tentang bagaimana cara Allah SWT melakukannya, maka itu menjadi urusan Allah. Intinya adalah bagaimana seseorang melakukan semua itu ikhlas karena Allah semata.

Oleh karenanya jika seseorang memaafkan, maka hendaknya dia yakin bahwa dia akan diangkat derajatnya dan bertambah kemu liaannya sebagaimana perkataan Nabi SAW.

Berikut ini adalah tips dan cara membina diri menja di pribadi pemaaf :

1. Pahami tentang Sifat Allah sebagai Maha Pemaaf. Allah SWT saja adalah pemaaf, kenapa kita sebagai hamba-Nya tidak berusaha menirunya. Memang semuanya butuh waktu tetapi yang menjadi penting adalah tidak ada istilah “tiada maaf bagimu.”

Lihat Juga  Setop Anti Asia di Amerika, Tingkatkan Kesadaran Warga dengan Tagar #StopAsianHates

2. Pahami tentang manusia atau diri kita sendiri. Adakah manusia yang tak luput dari dosa dan kesalahan? Dengan mau memikirkannya maka akan muncul sifat bahwa manusia itu memang tempat salah dan dosa termasuk kita sebagai pelakunya.

Jadi hal yang wajar, ketika orang sudah meminta maaf karena telah menyesal maka tidak ada kata lain manusia beriman harus memaafkan.

3. Mengingat-ingat kebaikan orang lain dan lupakanlah kebaikan yang pernah kita lakukan terhadap orang lain.

Jika kita menjadi sangat marah dan benci, coba silahkan ingat-ingat adakah kebaikan-kebaikan yang terjadi masa sebelumnya. Ini adalah salah satu cara untuk melembutkan hati.

4. Mengingat-ingat keburukan kita terhadap orang lain dan lupakanlah keburukan yang pernah dilakukan orang lain terhadap kita.

5. Memendam bara amarah atau dendam hanya akan menimbulkan masalah baru termasuk penyakit kesehatan. Karena kesehatan sangat dipengaruhi psikologi, dengan cara pikir dan bagaimana menjaga kesehatan dengan sebaik-baiknya.

6. Berpikirlah ke depan, jangan berpikir pendek. Manusia bisa berubah, maka tinggalkan tergesa-gesa dalam menyikapi sesuatu.

7. Selalu BERDOA diberikan kelapangan hati sehingga memudahkan usaha kita semua.

Menjadi orang yang pemaaf juga dapat mengantarkan kita kepada ketenangan hidup, kebahagiaan, dan teman yang banyak.

Coba kita lihat apa yang pernah disampaikan oleh Rasulullah SAW. Beliau bersabda bahwa apabila kita ingin menjadi pemaaf, maka ingatlah dua perkara dan lupakanlah dua perkara.

Perkara-perkara yang be liau maksud adalah:

Pertama, mengingat-ingat kebaikan orang lain dan lupakanlah kebaikan yang pernah kita lakukan terhadap orang lain.

Kedua, mengingat-ingat keburukan kita terhadap orang lain dan lupakanlah keburukan yang pernah dilakukan orang lain terhadap kita.

Wallahu a’lam bishshawab.

_________

Sumber literasi :

1. Republika.co.id

2. Kumparan.com

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close