NASIONALPALEMBANGSUMSEL

Curhat Siswa Belajar di Era Covid-19 : Dari Tugas Numpuk Hingga Kerinduan Belajar di Sekolah

BritaBrita.com,Palembang-Gelombang Pandemi Covid-19 yang menghantam Bumi Pertiwi, tampaknya tak hanya berdampak pada sisi kesehatan. Termasuk juga ekonomi, sosial hingga sistem pendidikan.

Sebut saja di Palembang, bahwa sejak Maret 2020 kasus Virus Corona muncul, sektor pendidikan terutama jenjang SD dan SMP langsung menutup Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka.

Hal ini dinilai perlu, karena untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 sekaligus menutup dari munculnya kluster penyebaran virus corona di sekolah.

Namun di lain pihak, KBM dalam jaringan atau oleh Mendikbud RI Nadiem Makarim disebut Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) ini pun menimbulkan efek samping dari kondisi psikologi siswa.

Seperti yang dikatakan oleh Daffa, salah satu siswa SD Negeri di Kota Palembang yang menyebut bahwa pembelajaran daring membosankan karena diikuti sejak Maret 2020 hingga tahun ajaran baru Juli 2020.

Daffa pun mengeluhkan tentang tugas yang diberikan guru yang memaksa dirinya untuk tak memiliki waktu luang.

“Sejak belajar di rumah tugasnya melebihi seperti sekolah, sampai sampai tidak ada waktu untuk bermain lagi,” tutur Daffa.

Menurut saya justru lebih sulit belajar dari rumah, karena ada banyak gangguan yang sifatnya kurang kondusif. Pikiran jadi buyar dan susah fokus, walaupun lebih santai

“Jujur saya pribadi lebih pilih belajar di sekolah, karena bisa lebih fokus. Tapi kalau situasinya begini juga mau gimana lagi,” terangnya.

Menurutnya, banyak guru yang memberikan KBM daring kurang menyenangkan dan lebih memilih aplikasi WhatsApp ketimbang aplikasi lain.

“Karena belajar daring dengan WA bukan hanya tugas lebih menumpuk, tapi juga banyak. Kalau Kelas tatap muka punya ciri yang beda, interaksi langsung itu cenderung mendukung proses pembelajaran, kita bisa mengerti tugas dari guru karena guru secara langsung memberikan penjelasan kepada kita,” ujar Daffa.

Lihat Juga  Hadiri Syukuran HD-MY, Yudha Pratomo dan Aswari Rifai Sudah Move On

Dan tak kalah penting menurut Daffa, KBM daring sejak lima bulan lalu menimbulkan kerinduan karena telah lama tak pergi ke sekolah. Apalagi, diusianya memang interaksi sesama teman di lingkungan sekolah sangatlah penting.

“Kangen sekolah, pengen ketemu teman, dan belajar tatap muka dengan guru. Tapi ya gimana lagi, semoga Covid-19 segera berlalu,” harapnya.

Sementara itu, menanggapi keluhan siswa belajar daring, Kepala Bidang SD Disdik Kota Palembang H Bahrin mengingatkan kepada guru agar memberi tugas yang proporsional.

Jangan sampai tugas dimasa daring merenggut waktu siswa dari berkumpul dengan keluarga. Apalagi, ia mewanti-wanti kepada guru agar tugas yang diberikan siswa jangan sampai membuat siswa harus keluar mencari bahan materi, seperti materi-materi praktek.

“Guru bisa memberikan tugas mengamati, mencoba, dan menganalisis, sehingga lebih menarik dan menantang,” ujarnya.

Menurutnya, meskipun pembelajaran jarak jauh, sapaan, respon, dan umpan balik atau penghargaan terhadap tugas yang dikerjakan merupakan hal yang tidak boleh dilupakan. Jangan sampai ada asumsi, peserta didik merasa diperdayai karena banyaknya tugas yang diberikan, tetapi tidak ada umpan balik dari guru, seperti pekerjaan yang sudah dikerjakan maksimal tapi guru tidak mengoreksi. Malah guru menyuruh siswa mengoreksi pekerjaan mereka sendiri guru hanya memberikan jawaban melalui via online dan siswa mengoreksi tugas mereka.

“Hal inilah yang tidak benar, untuk mengoreksi tugas siswa itu tugas guru, kalau siswa harus mengoreksi apa tugas guru,”tegasnya.

Selain itu, ia meminta guru agar mengapresiasi pekerjaan peserta didik yang diberikan guru dengan tujuan pembelajaran bisa tercapai. Salah satu tujuan pembelajaran termasuk daring ini adalah pencapaian kompetensi peserta didik yang dikenal dengan 4 C, yaitu Critical thinking (berpikir kritis) yang mengarahkan peserta didik untuk untuk dapat menyelesaikan masalah (problem solving),”ucapnya

Lihat Juga  Dinilai Berbahaya, Singapura Setop Penggunaan Zoom untuk Pembelajaran Online

Dikatakannya, Tugas pembelajaran daring yang diberikan kepada peserta didik selayaknya menuju kecakapan abad 21 tersebut. Aplikasi ponsel seperti WhatsApp bukan lagi sekadar sarana memberi informasi searah. Tetapi targetnya yaitu sebagai sarana membangun berbagai kecakapan dalam 4C.

Pandemi Covid-19 kiranya bisa menjadi pintu masuk untuk mengubah pembelajaran tekstual menjadi kontekstual. Pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang mengaitkan antara materi pelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Peserta didik diharapkan dapat menemukan dan mengembangkan pengetahuan dan keterampilan baru sesuai dengan pengetahuan yang mereka miliki. Dengan demikian, mereka akan lebih memahami dan lebih memaknai pengetahuannya.

Bahrin berharap, jangan sampai pembelajaran daring hanya menghasilkan peserta didik sebagaimana robot yang hanya melulu mengerjakan latihan soal dengan seabreg tugas-tugas tanpa mampu berpikir dalam level tinggi.

“Untuk itu keberhasilan pembelajaran daring tersebut perlu adanya kerjasama sinergis antara guru, sekolah, orang tua, dan peserta didik. Sekolah perlu menaruh kepedulian kepada orang tua peserta didik yang tidak mampu membeli kuota atau tidak memiliki ponsel memadai dengan memfasilitasi, agar pembelajaran daring bisa berjalan optimal., “katanya

Di samping itu, kesuksesan pembelajaran daring selama masa krisis Covid-19 ini tergantung pada kedisiplinan semua pihak. Oleh karena itu, pihak sekolah di sini perlu membuat skema dengan menyusun manajemen yang baik dalam mengatur sistem pembelajaran daring.

“Hal ini dapat dilakukan dengan membuat jadwal yang sistematis, terstruktur dan simpel untuk memudahkan komunikasi orang tua dengan sekolah agar putra-putrinya yang belajar di rumah dapat terpantau secara efektif,” pungkasnya.

Reporter : Sugi

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close