NASIONALPALEMBANGSUMSEL

Di Tengah Kesulitan Ekonomi Akibat Covid-19, Warga Menjerit Tagihan PDAM dan Gas Kota Naik Tak Wajar

BritaBrita.com,Palembang-Pelanggan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Musi Palembang menjerit. Pasalnya tagihan air bersih yang dikelola perusahaan milik pemerintah daerah itu melonjak tak wajar hingga 500%.

Kondisi diperparah karena masyarakat sedang terhimpit ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Asrul, warga Bukit Baru Palembang mengaku kaget bukan kepalang ketika akan membayar tagihan PDAM. “Tagihan saya naiknya hampir 500 persen. Bisanya rata-rata Rp60 ribu-Rp70 ribu. Barusan tadi kaget harus bayar Rp250.000,” ujarnya, Rabu (8/7/2020).

Menurut Asrul, lonjakan tarif ini sudah tak wajar dan menyusahkan ekonomi rakyat yang sedang terpuruk akibat Covid-19. “Bagaimana saya bayarnya, ini untuk PDAM saja tagihan sebulan sudah sebesar itu. Belum untuk yang lainnya. Rakyat semakin dibuat susah. Saya belum mau bayarnya, sangat tak wajar, ” ujarnya.

Hal yang sama dikatakan Hendra, warga Way Hitam. Ia juga kaget tagihan PDAM nya melonjak hingga 300 persen. Bahkan banyak warga saat bayar di kantor pos protes tagihan naik tak wajar.

“Tiga bulan belakang berturut-turut rata-rata saya bayar Rp60-70 ribu. Itu masih stay at home karena Covid-19. Tapi sekarang hampir Rp170ribu. Kan gak wajar. Belum lagi ketika mau bayar gas kota saya kaget sekali, tagihan saya jadi Rp250 ribuan lebih. Padahal rata-rata perbulan Rp70ribuan,” keluhnya.

Menyikapi itu,Direktur Utama (Dirut) PDAM Tirta Musi, Andi Wijaya sempat heran karena menurutnya tidak ada kebijakan resmi kenaikan tarif PDAM.

Lihat Juga  Melintang di Depan Griya Agung, Truk Kontainer Timpa Kijang Innova

“Kami dapat banyak keluhan dari masyarakat akibat tagihan rekening yang tinggi. Kami jelaskan ini disebabkan penumpukan kubikasi pemakaian di bulan Juli 2020 akibat tidak dilakukannya pembacaan meter air pada bulan April dan Mei 2020, dan beberapa faktor lainnya antara lain,” katanya, Rabu (8/7/2020).

Faktor lainnya, mulai dari kelalaian pelanggan seperti lupa mematikan kran air, kran air rusak/tidak berfungsi, penampungan meluber dan lain-lain.

Pemakaian yang banyak karena perubahan pola hidup bersih selama pandemi Covid- 19. Kebocoran di pipa persil setelah meter air pelanggan, meter air rusak dan lain-lain.

“Makanya kita sarankan agar pelanggan ke unit layanan agar bisa dilakukan pengecekan,” katanya.

Andi mengatakan, pelanggan bisa melakukan pengecekan secara mandiri bila memang ada indikasi kebocoran pipa. Cara mudahnya tutup semua kran air dirumah bila meteran masih putar artinya ada kebocoran.

“Wajar kalau ada kebocoran tentu akan ada lonjakan kubikasi pemakaian, kedua soal meteran rusak meski kecil persentasenya. Saya rasa tidak begitu pengaruh sebab kami per lima tahun rutin ganti meteran pelanggan,” katanya.

Berdasarkan data, kenaikan kubikasi pelanggan yang cukup tinggi banyak terjadi di kelompok pelanggan rumah tangga baik rumah sangat sederhana, rumah tangga sederhana, menengah dan mewah dimana rata-rata kenaikan kubikasi di atas 30 persen.

Lihat Juga  Survei LSI Denny JA: Dodi-Giri Teratas, Aswari-Irwansyah Terendah

“Secara individu selama pandemi banyak yang WFH dan stay at home, belum lagi pandemi ini menuntut kita untuk rajin cuci tangan, pulang kerja mandi, cuci pakai hingga kebiasaan boros air yang tak disadari. Jadi memang ada lonjakan pemakaian air,” katanya.

Andi mengatakan, manajemen tidak ingin mengambil keuntungan di tengah pandemi saat ini. Bahkan, PDAM telah memberikan subsidi mencapai Rp2,4 miliar bagi pelanggan rumah tangga berpenghasilan rendah.

PDAM Tirta Musi berusaha memberikan penyelesaian atas pengajuan keberatan yang diajukan oleh pelanggan sesuai dengan permasalahan masing-masing pelanggan.

Terhadap keberatan yang diajukan jauh di atas pemakaian normal maka akan dilakukan pengecekan penyebab terjadinya kenaikan kubikasi pemakaian (bocor persil, meter rusak dan lainnya).

“Pemberian keringanan berupa menganggsur tagihan rekening air yang mengalami kenaikan tagihan / kubikasi pemakaian sesuai dengan penyebabnya berdasarkan peraturan yang ada,” katanya.

Sementara itu, Dirut PT Sarana Pembangunan Palembang Jaya (SP2J), Ahmad Novan yang mengelola gas kota mengaku tak ada kenaikan tarif gas kota. Namun dia memperkirakan rata-rata ada kenaikan pemakaian gas karena WFH namun prosentasenya tak besar. “Wah kalau ada lonjakan hingga 500% coba saya tanya dulu. Mengapa bisa begitu, ” ujarnya.

Reporter : Kamayel Ar-Razi/tim

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close