KolomPALEMBANG

Dijuluki Manusia Perahu Sungai Musi, 30 Tahun Rahman Hidup di Perahu Ketek

BritaBrita.com,Palembang-Selama 30 tahun, Rahman (60) hidup di dalam perahu ketek. Pria yang hidup sebatang kara itu terus berjuang di tengah tantang Sungai Musi.

Banyak warga yang simpati dan menaruh belas kasihan. Namun Rohman tetap tegar meskipun usianya tak muda lagi.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, setiap hari Rohman menyusuri Sungai Musi, mengayuh dayung di tengah kondisi keterbatasannya karena sudah lama menderita lumpuh. Perahu yang digunakan terlihat seadanya dan sudah tampak tua.

Sehari-hari Rohman menyambung hidup dari belas kasih masyarakat. Ada yang memberi makan nasi bungkus, minum dan kebutuhan lainnya.

Wakil Wali Kota Palembang, Fitrianti Agustinda Mengatakan, Pemerintah Kota Palembang melalui dirinya mendapatkan informasi pertama kali dari postingan di media sosial yang kemudian viral. Sebagai bentuk kepedulian, akhirnya Rohman dipindahkan agar bisa mendapatkan perawatan di RSUD Bari Palembang.

Lihat Juga  Masuk Idul Fitri, Pasien Corona Bertambah Lagi : 32 positif, 5 sembuh dan 2 meninggal

“Kemarin kita jujur kaget saat dengar ada manusia perahu, selama 30 tahun tinggal di atas perahu tidak ada sama sekali keluarga bahkan tanpa identitas. Makanya, kita bawa ke RSUD Bari untuk dirawat dan dicek kesehatannya lalu kita bawa ke Panti Jompo Tresna Werdha,” katanya, Selasa (9/6/2020).

Menurutnya, diusia lanjut manusia perahu dalam kondisi cukup memprihatinkan, karena selain tidak ada kelengkapan identitas penduduk ia juga sedikit sulit untuk berbicara.

“Bicara bisa cuma terbatas. Malah jangan-jangan dia tidak tahu informasi luar, siapa walikota, siapa presiden kita, karena tidak ada ada televisi juga di perahunya. Nah, setelah dirawat di Panti Jompo kita akan buatkan identitas dirinya sebagai warga Palembang alamat di Panti Jompo,” katanya.

Lihat Juga  Bisa Menekan Penyebaran Covid-19, Gubernur: PSBB Tak Akan Diperpanjang

Selain itu, Diungkapkan Fitri selama proses pemindahan dari perahunya, Rohman sempat sulit diajak untuk berkomunikasi karena merasa asing dengan kondisi keramaian orang.

“Tetapi setelah kita bujuk akhirnya mau untuk dicek kesehatan. Selama tinggal di Panti Jompo semua merupakan tanggung jawab kami sebagai pemerintah,” katanya.

Reporter : Kamayel Ar-Razi

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close