KALAMKolomNASIONAL

Fasting About Honesty & Discipline

OLEH : Bambang Haryanto (Praktisi HR)

APAKAH orang Jepang disiplin dan rajin? Ya sekarang, setelah melalui proses pendisiplinan secara intensif dan dalam jangka waktu puluhan tahun. Siapa yang tidak kenal dengan salah satu negara yang sudah sangat maju terutama dari Sektor Industrinya dan banyak terlahir produk-produk yang mempunyai nama besar di tingkat global seperti Toyota atau Sony dan masih banyak lagi produk lainnya yang memiliki brand yang berdaya saing di sektor industrinya masing-masing, tidak mudah bagi Jepang untuk bangkit dan merubah negaranya seperti saat ini terutama setelah kalah dari pihak sekutu pada Perang Dunia II butuh effort dan perjuangan.

Ditambah dengan latar belakang budaya masyarakatnya yang berawal dari sebuah masyarakat yang malas, santai, tidak disiplin, teledor, apatis dan boros. Hal ini terjadi sebelum bangsa Eropa dan Amerika tinggal di negara ini dan mulai terjadi perubahan atau awal modernisasi pada masa pemerintahan Kaisar Meiji.

Teori gunung es berlaku untuk semua hal-hal yang kelihatannya baik dan sukses dari sebagian orang tapi tanpa disadari dibalik semua itu tidak mudah bahkan banyak pengorbanan yang telah dilakukan untuk mencapai kesuksesan tersebut. Seperti halnya di bulan Ramadan yang merupakan bulan yang selalu ditunggu oleh umat muslim di dunia. Ini karena bulan Ramadan banyak keberkahan & ampunan dari hari pertama hingga hari terakhir.

Di bulan Ramadan bahkan ada malam di salah satu sepuluh malam terakhir berupa malam yang lebih baik dari seribu bulan, berpuasa bagi umat islam merupakan salah satu ibadah wajib terutama bagi mereka yang memiliki Iman maka puasa adalah salah satu ladang ibadah untuk menggapai surga-Nya. Idealnya puasa di mulai dari waktu Imsak yaitu adzan subuh dan berakhir pada adzan maghrib. Puasa ini dilakukan sekitar 29 atau 30 hari dengan menahan lapar haus, dan akan terobati ketika menjelang hari raya Idul Fitri.

Puasa ini sendiri tanpa disadari telah banyak mengajarkan banyak hal kepada umat islam berupa disiplin untuk tidak melakukan hal-hal yang membatalkan seperti makan dan minum di tengah waktu puasa sebelum adzan Maghrib, serta jujur untuk melakukan apapun baik berupa perkataan dan perbuatan karena jika tidak, akan mengurangi pahala puasa dan bahkan bisa membatalkan puasa itu sendiri.

Lihat Juga  Perspektif Lain Manajemen Talenta

Indonesia sendiri merupakan negara dengan mayoritas masyarakatnya adalah muslim dan seharusnya ketika bicara disiplin, Indonesia di atas Jepang, karena disiplin merupakan hal yang sudah biasa dilakukan tidak hanya pada bulan puasa saja tetapi dalam kehidupan sehari-hari dalam mengerjakan salat lima waktu. Itu pun dianjurkan agar dikerjakan diawal waktu.

Dan bagaimana mungkin masyarakat Indonesia bisa tidak disiplin, Misalkan saja seorang karyawan atau pekerja di instansi pemerintah maupun swasta karena hal ini sudah diajarkan sedini mungkin dari kecil bahkan dimulai saat usia sudah beranjak 7 tahun.

Kejujuran sendiri merupakan modal awal dalam mengarungi kehidupan di dunia ini terutama dalam melakukan dan menjalankan aktifitas sehari-hari. Jujur dalam umat islam juga bukan lagi hal yang asing karena agama Islam sendiri dibawa oleh seseorang yang memiliki budi pekerti sebagai jujur yang menjadi pondasi.

Jadi sekali lagi jika masyarakat Indonesia sendiri yang mencari nafkahnya sebagai seorang pekerja baik pemerintah maupun swasta atau apapun profesinya dengan tidak mengedepankan kejujuran hal ini patut dipertanyakan apakah dia seorang muslim atau bukan.

Terutama dalam puasa ini kejujuran akan dilatih kembali dengan tolok ukur puasa menjadi taruhannya dan jika tidak, maka berkuranglah pahala puasanya atau bahkan tidak diterima amalannya.

Industri apapun membutuhkan SDM yang memiliki daya saing bahkan tidak hanya kompetensi yang dicari tetapi sikap diri, dengan banyaknya fenomena korupsi di negeri ini menunjukkan bahwa etos kerja masyarakatnya masing sangat rendah. Modal jujur dan disiplin hanya simbol belaka tetapi nol dalam pelaksanaannya. Hal ini menjadi aneh dan tidak pantas dilakukan apa lagi yang melakukan merupakan pejabat negara yang sumber gaji mereka dari warga negaranya.

Berkaca dari kejadian ini bagaimana industri Indonesia bisa maju seperti Jepang apa lagi seperti Eropa dan Amerika jika sebagai seorang public figure sudah tidak memberikan contoh yang baik.

Karena sebagai pelaku usaha sendiri membutuhkan SDM yang bisa diajak bekerjasama untuk membangun bisnisnya dengan modal kejujuran dan disiplin untuk menggerakan roda bisnisnya. Sebab jujur dan disiplin merupakan bagian dari Integritas dan seharusnya di Indonesia sangat mudah untuk mencari orang-orang seperti ini karena jujur dan disiplin sudah ada pada diri mereka dan sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari.

Lihat Juga  Jokowi Akan Resmikan Jalan Tol Terbanggi Besar – Pematang Panggang – Kayu Agung

Integritas sendiri akan mendongrak produktivitas dan otomatis membuat pelaku usaha antusias memberikan penghargaan pada karyawannya karena dengan bantuan karyawan yang memiliki integritas, bisnis akan terus bertumbuh dan berkembang, sehingga akselerasi pencapaian bisnis tidak lepas dari suksesnya inovasi karyawan yang menjadi dasar perilaku keseharian berupa kejujuran dan kedisplinan.

Tidak heran bagi perusahaan sebesar Excel Energy membuat program pemberian penghargaan merupakan salah satu langkah yang telah terbukti dalam pengelolaan karyawan yang pada akhirnya mendatangkan peningkatan laba paling tidak dua puluh kali bagi perusahaan.

Excel Energy sama sekali tidak pernah meremehkan kekuatan dari tim yang terkelola dengan baik, yang didorong dengan penghargaan strategis dan bersasaran.

Karenanya perusahaan ini tidak segan untuk menghabiskan dananya dalam program penghargaan untuk merangsang keterlibatan, keikutsertaan, sekaligus kepemilikan karyawan terhadap perusahaan.

Bolehkah berpuasa untuk mendapatkan kesenangan dunia? Dan apakah dengan berpuasa sudah pasti masuk surga? Dan lagi bahwa kejujuran dan disiplin yang tidak bisa diukur dengan kasat mata akan di pertanggungjawabkan di hadapan-Nya, dan apakah boleh sebagai seorang karyawan membuat kepentingannya menjadi sama dengan perusahaan?

Tentu saja jawabannya tidak, dan yang dapat disamakan adalah tujuan karena pada dasarnya ketika seorang mengutamakan kepentingan dirinya lebih cenderung hawa nafsu yang berbicara dan ini telah keluar dari nilai-nilai integritas.

Peningkatan produktivitas dapat terjadi ketika anggota kelompok dalam sebuah organisasi saling bersinergi untuk mencapai tujuan serta dalam menghadapi persaingan dengan kelompok lain. Meskipun demikian, sinergi tidak akan tercapai apabila anggota kelompok tidak menjalankan dengan kejujuran dan kedisiplinan.

Pada hakekatnya pelaku usaha dan karyawan adalah 2 (dua) belah pihak yang melakukan kerjasama (work team) untuk mencapai tujuan yang sama sehingga harus bisa saling mendukung satu sama lainnya.

“Jika ingin berjalan cepat, maka jalanlah sendiri. Jika ingin berjalan jauh, maka jalanlah bersama-sama” (Sebuah Pepatah)

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close