KOLOM

Gerbang Besar Investasi SDM Bukan SDA

BELUM lama ini, pada Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara awal Agustus 2018 lalu, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) kembali menegaskan arah kebijakan nasional yang harus berorientasi terhadap pembangunan sumber daya manusia (SDM) atau dengan kata lain bukan lagi mengandalkan sumber daya alam (SDA).

Presiden pun ingin setiap kementeriannya pro aktif membuat program kearah investasi SDM tersebut. Wujudnya setiap hal yang berkaitan dengan pembangunan dan pengembangan SDM dimasukkan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2019.

Lalu pertanyaannya apa yang menariknya dari pernyataan Presiden itu? Bukannya seyogyanya SDM harus menjadi perhatian penting atau utama? Yah, memang namun seperti diketahui kerap sekali SDM dikesampingkan demi tujuan dan kepentingan ‘tertentu’. Buktinya banyak areal di negeri ini di eksploitasi besar-besaran,bahkan dengan mendatangkan tenaga asing, SDA kita dikuras habis-habisan dan dijual ke pihak asing. Sedangkan anak bangsa hanya sebagai penonton bahkan jadi objek penderita saja.Miris memang ditengah cita-cita menjadi negara yang mandiri dan berdaulat.

Pentingnya SDM sebagai lokomotif kemajuan bangsa, sebelumnya juga selalu diteriakan Presiden RI Ke-3, Burhanuddin Jusuf (BJ) Habibie. Beliau tak bosan mengingatkan arah perjuangan bangsa ini. BJ Habibie kerap mengatakan jika SDM terbarukan lebih unggul daripada SDA yang melimpah.

Lihat Juga  Mampu Membuat Anda Cantik dan Sehat

Menurut BJ Habibie, sebagai negara yang dianugerahi SDA melimpah, Indonesia saat ini dinilai masih tergantung pada potensi alam dibandingkan kekuatan SDM. Berbagai produk dengan teknologi tinggi masih didominasi oleh produk impor, sementara Indonesia lebih dominan memproduksi bahan mentah hasil alam.

Oleh karenanya BJ Habibie menekankan bahwa modal pembangunan sebenarnya terletak pada kualitas SDM bukan mengandalkan SDA yang selama ini Indonesia lakukan. Bahkan negara-negara maju sudah jauh hari sebelumnya berinvestasi pada peningkatan kualitas SDM nya,meskipun negara tersebut memiliki SDA yang memadai.

Sebab menurut Habibie tak ada masyarakat di dunia yang bisa terus-menerus mengandalkan SDA terbarukan maupun tidak terbarukan. Karena yang bisa diandalkan terus-menerus adalah SDM terbarukan. Buktinya secara empiris bisa kita temui pada masyarakat Jepang, Amerika Utara dan Eropa Barat, SDM adalah kunci bagaimana mereka membangun bangsanya.

Jangan Bangga

Kerap kita dan bangsa ini bangga dicap negara kaya. Mirisnya, kekayaan itu tidak linier dengan kesejahteraan rakyatnya. Ada baiknya kita bangga menjadi negara maju. Sebab, determinasi maju lebih dekat kepada kualitas SDM, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta aplikasinya pada sektor ekonomi-industri di negaranya yang sifatnya dinamis. Sementara kaya identik dengan sumberdaya alam dan bersifat statis.

Lihat Juga  Parpol Oh Parpol

Negara Jepang misalnya seolah-olah tak pernah menganggap penting isu soal keterbatasan dan pengelolaan kekayaan alam mereka. Justru mereka menciptakan SDM yang berkualitas sehingga mampu mengolah bahan mentah yang diperoleh dari negara lain lalu diolahnya menjadi produk-produk bernilai tambah tinggi.

Ironisnya, barang yang diolahnya itu dipasarkan ke seluruh dunia termasuk ke negara berkembang tempat bahan-bahan mentah itu berasal. Negaranya pun menikmati keuntungan ekonomi yang besar dari proses tersebut.

Dari sini, Indonesia sebenarnya sudah membuka mata dan bergerak. Meskipun kekayaan alamnya terus dikeruk dengan sangat cepat dan rakus untuk menyuplai industrialisasi di negara-negara maju.

Oleh karenanya, jangan sampai terjadi suatu kenaifan yakni saat kualitas SDM suatu negara mulai membaik namun akhirnya bingung mencari sumber bahan mentah dari alam untuk dikelola karena sudah dieksploitasi habis-habisan.

Jadi jangan biarkan korporasi multinasional mengeruk kekayaan alam dengan rakus dan seenaknya saja, namun harus cepat berbenah mengandalkan kualitas SDM. Pertanyaan lagi? Apakah pengelolaan SDM bisa bersungguh-sungguh atau hanya setengah hati ? Ini mengingatkan kita terhadap pernyataan Pakar Manajemen Dunia, Peter Drucker yang mengatakan “There are no underdeveloped countries, but only undermanaged ones,” (Tidak ada negara yang terbelakang, yang ada negara yang salah urus).

Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker