LIFESTYLEPALEMBANG

Kue Basah Tradisional Sumsel Banyak Disukai Orang dari Luar Kota

BritaBrita.com,Palembang – Sumatera Selatan (Sumsel) tidak hanya terkenal dengan jembatan Ampera yang menawan. Namun jajanan kuliner yang sebagian besar dapat ditemukan di Kota Palembang sangat lah kaya.

Berbagai macam kuliner baik dari kudapan berkuah seperti tekwan model juga kudapan asin seperti pempek.

Tidak kalah dengan kudapan Asin, Sumsel mempunyai beragam kudapan manis seperti kue basah yang sudah terkenal baik di Nasional hingga Internasional.

Beragam kue basah banyak disajikan di acara besar seperti Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Natal, Hari Raya Imlek, bahkan pada acara Pernikahan.

Salah satu pembuat dan penjual kue khas Palembang yaitu Bunda Raya yang merupakan seorang pengusaha bergerak dibidang kuliner, khususnya kue-kue khas Palembang, seperti, Kue Lapis, Kue Kojo, Kue Maksuba, Kue Makjola, Kue Delapan Jam dan masih banyak varian lainnya.

Berawal dari jualan secara online, kue tradisional Sumatera Selatan terkhusus kue basah ini bahkan lebih di cintai masyarakat diluar kota.
“orang dari luar kota banyak sekali yang order dengan kita, juga dari orang kita sendiri tidak kalah banyak yang order khususnya untuk acara nikahan maupun kantoran,”kata pemilik akun @bundarayyanew yang berlokasi Dapur Bunda Raya berlokasi di Jalan Letnan Jaimas No. 980C (Dekat SMK 1Cinde).

Lihat Juga  Kreatif di Tengah Pandemi, Chef Bake House Kreasi Kue Corona

Kue basah sendiri memiliki ciri khas masing masing, seperti Maksuba merupakan kue basah yang masuk dalam deretan makanan Warisan Budaya Tak Benda Provinsi Sumatera Selatan tercatat sejak 2013. Kue ini berstruktur lembut, terasa manis pekat, dan basah.

Kemudian kembaran Maksuba, yaitu kue lapis legit tak kalah enaknya. Dengan dipanggang per lapis yang menghasilkan bentuk lapisan saat dipotong. Bahan yang digunakan pun serupa dengan Maksuba, hanya saja saat membuat lapis legit diperlukan tepung terigu. Hal inilah yang membuat tekstur lapis legit dan maksuba berbeda.

Lapis legit tidak sebasah Maksuba. Walaupun bentuk sama berlapis, Namun testurnya lebih mirip kue bolu dan lebih kering dari Maksuba.

Kemudian kue lapan jam, sesuai dengan namanya, kue ini dibuat dengan memerlukan kesabaran dalam membuatnya. Karrna butuh waktu delapan jam untuk di kukus. Apabila kurang dari 8 jam, kue akan berwarna kuning tua kecoklatan sedangkan kalau terlalu matang akan berwarna cokelat yang lebih.

Kue dalapan jam juga terkenal dengan filosofi keseimbangan hidup yaitu membagi 24 jam menjadi 8 jam untuk bekerja, 8 jam untuk beristriahat, dan 8 jam untuk beribadah.

Lihat Juga  Pia Sriwijaya, Makanan Khas Tradisional Kota Palembang

“Rasa khas dan tekstur yang lembut tapi padat membedakan kuliner tradisional sumsel ini dengan kota lain,”katanya yang juga ketua komunitas Taspenku Sumsel

Ia berharap agar kue tradisional Sumatera Selatan ini makin dicintai dan dikenal oleh rakyat Indonesia.

Sebelumnya, Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru (HD) selalu giat dan rajin mempromosikan beragam kuliner tradisional pada setiap kegiatan bahkan di akun Instagram pribadinya.

“Jangan sampai kita mengabaikan makanan tradisional kita, nanti anak-anak kita tidak tahu dan makanan itu malah tergerus,”katanya.

HD terus mengajak semua pihak untuk peduli terhadap makanan tradisional Sumsel yang beraneka ragam ini. Baik mempertahankannya dari rumah, lingkungan keluarga maupun untuk menjadi produk kuliner yang diperjualbelikan.

“Semua pihak harus konsen dengan kondisi terdesaknya kuliner tradisional Sumsel, dengan begitu Sumsel tetap menjadi satu daerah yang berusaha meningkatkan kuliner tradisionalnya,”ungkapnya.

Ia mengingatkan bahwa pentingnya mempertahankan makanan tradisional agar makanan modern tidak masuk bahkan membuat bangkrut makanan tradisional.

Reporter : Tri Jumartini Ilyas

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close