KALAMSYARIAH

Makna Sedekah Ruwah Jelang Ramadhan

BritaBrita.com,Palembang-Tradisi ruwahan jelang bulan suci Ramadhan kerap dimaknai beragam sebagian masyarakat. Tak hanya berlaku untuk orang yang masih hidup saja, sedekah ruwah juga mendoakan orang yang telah meninggal dunia. Dimana dengan istilah ahli kubur yang berada di alam barzah. Arwah minta “ditolong” oleh keluarganya melalui doa dan sedekah. Menyikapi fenomena ini sejumlah ahli fiqih, sosiolog, dan ulama berpendapat.

Seperti yang diutarakan, Prof Dr Abdullah Idi M Ed. Ia mengatakan meski dalam sunah Nabi Muhammad SAW sedekah ruwah ini tidak ada namun konsep sedekah ruwah ini mengandung nilai kebaikan dan pahala.

Prof Dr Abdullah Idi M Ed

Hal tersebut sama dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang mesti tak diajarkan oleh Baginda Nabi namun di dalamnya terdapat peringatan atau kegiatan menimba ilmu melalui ceramah agama dan diikuti makan-makan baik itu kudapan atau pun makan siang.

“Karena dalam Islam ini kan ada namanya Bid’ah khasanah. Apalagi ada konsep sedekah dan berbagi dalam Sedekah Ruwah,” jelasnya.

Menurut Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FKIP) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang ini, selama hal tersebut tak menyimpang dalam Islam, masyarakat juga bisa ambil positifnya. Apalagi hal itu juga bukan hanya mendoakan orang atau keluarga yang sudah meninggal dan dibarengi dengan sedekah dan silaturahim terhadap sesama.

Lihat Juga  Memanfaatkan Perkembangan Teknologi Untuk Tabungan Akhirat

Menurutnya, bagi masyarakat yang melaksanakan tidak dilarang dan bagi yang tidak melaksanakan juga tidak diwajibkan.

“Yang kurang tepat itu, melaksanakan sedekah ruwah tapi tidak sholat, gak ikut puasa tapi sholat idul fitri,” jelasnya.

Sementara itu, Ustaz Umar Said menambahkan bahwa Sedekah Ruwah berasal dari salah satu kata yakni Ruwah yang artinya arwah. Sehingga dianalogikan bersedekah dan pahalalanya untuk arwah atau orang yang sudah meninggal.

Ustaz Umar Said

Menurut Ketua Forum Ulama Indonesia (FUI) Sumsel ini mengatakan bahwa sunah sesungguhnya dalam menyambut bulan suci Ramadhan adalah memperbanyak shodaqoh, banyak mengingat kematian dan mendoakan orang yang sudah meninggal.

“Tapi dalam masyarakat itu kemudian berkembang tentang sedekah ruwah. Sebenarnya yang disyariatkan adalah mendoakan orang yang sudah meninggal. Tapi kalau kemudian dengan tradisi memberi makan kemana-mana itu tak ada tuntunannya,” jelasnya.

Lihat Juga  Jangan Zalimi Diri Sendiri di Bulan Haram

Menurutnya, dalam sedekah itu ada mustahik atau penerimanya sehingga harus tepat sasaran. Dan memberi makan dari rumah ke rumah untuk orang yang sudah meninggal itu kurang tepat kecuali saat sedekah dari rumah ke rumah itu kita meminta doa kepada mereka untuk keluarga yang sudah meninggal.

“Kalau meminta doa itu sah-sah saja. Jadi kalau sedekah mengatasnamakan orang meninggal tidak ada, yang diterima adalah doanya,” jelasnya.

Dirinya menyarankan untuk merubah dengan cara kolektif yakni dikumpulkan dari sedekah masyarakat kemudian pada saat menjelang Ramadhan dibagikan kepada yang berhak menerima yakni Fuqhorok dan Masakin agar lebih tepat sasaran.

Bisa berupa beras, minyak dan lain-lain. Agar mereka benar-benar siap menyambut bulan Suci Ramadhan.

“Sambil mengucapkan selamat menyambut bulan suci ramadhan. Dan dengan menyantuni bisa membantu mereka dalam menyambut bulan Suci Ramadhan,” pungkasnya.

Reporter : Sugi

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close