BISNISPALEMBANGSUMSEL

Guru Besar Unsri: Sumsel Harus Percepat Hilirisasi Komoditas Andalan

BritaBrita.com, Palembang-Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) dinilai harus segera mempercepat hilirisasi komoditas andalan provinsi itu di tengah melemahnya permintaan pasar dunia. Hal tersebut disampaikan Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya, Bernadette Robiani, saat acara Business Challenges 2020 dengan tema menakar prospek komoditas andalan Sumsel baru-baru ini.

Bernadette mengatakan saat ini perekonomian Sumatera Selatan (Sumsel) masih bergantung pada sektor primer, di mana masih mengekspor kelapa sawit, karet dan batu bara yang belum memiliki nilai tambah.

“Oleh karena itu, kita harus melihat kondisi permintaan pasar yang melemah dan ketidakstabilan harga komoditas andalan itu sebagai peluang untuk mempercepat hilirisasi,” katanya.

Dia mengatakan batu bara yang masuk dalam sektor pertambangan dan penggalian berkontribusi tinggi terhadap ekonomi Sumsel. Begitu pula karet dan kelapa sawit yang masuk dalam sektor pertanian, kehutanan dan perikanan.

Menurut dia, peluang untuk hilirisasi akan terbuka lebar dengan adanya rencana dimulainya kembali aktivitas pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Api Api (KEK TAA).

“KEK TAA akan menciptakan nilai tambah dan multiplier effect bagi perekonomian Sumatra Selatan,” katanya.

Lihat Juga  Jalan Nasional Banyak yang Rusak, BBJN V Siapkan Anggaran

Sementara itu, Kepala Perwakilan BI Sumsel Yunita Resmi Sari mengatakan perlu adanya perbaikan dari sisi hulu untuk peningkatan produktivitas dan peningkatan nilai tambah yang berbasis hilirisasi industri.

Dia mencontohkan, untuk komoditas karet, hilirisasi dapat diwujudkan melalui pembangunan industri ban baru, industri ban vulkanisir dan industri apparel (sarung tangan).

“Namun memang tantangannya ada pada infrastruktur di mana kapasitas pelabuhan eksisting yang terbatas sehingga berdampak pada handling cost yang tinggi,” katanya.

Oleh karena itu, bank sentral menilai, langkah Pemprov Sumsel untuk memulai kembali pengembangan KEK TAA yang dilengkapi pelabuhan laut dalam akan mendukung hilirisasi industri komoditas andalan Sumsel.

Sari mengatakan meski kinerja ekspor dari komoditas andalan diprediksi terbatas akibat kondisi global, namun ekonomi Sumsel diperkirakan tetap tumbuh di kisaran 5,7 persen—6,1 persen.

“Pertumbuhan ini didorong oleh investasi yang mulai tumbuh dan konsumsi rumah tangga yang stabil,” katanya.

Sementara itu, Asisten II Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Setda Sumsel, Yohanes H. Toruan, mengatakan Pemprov Sumsel bakal membentuk Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sektor agribisnis.

Lihat Juga  Gelar Bimbingan Teknis, Kepala Dinas Pendidikan Beberkan Ciri-Ciri Guru Profesional Zaman Now

Selain untuk mempercepat hilirisasi dan investasi di komoditas pertanian, BUMD tersebut dibentuk untuk memangkas tata niaga pertanian.

“Karena tata niaga di sektor pertanian ini masih terlalu panjang sehingga merugikan para petani,” kata dia.

Sementara itu, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumsel memproyeksi harga komoditas tersebut akan membaik pada tahun depan.

Ketua Gapki Sumsel Harry Hartanto mengatakan harga crude palm oil (CPO) terus menunjukkan pergerakan positif sejak April 2019.

“Harga CPO Sumsel pada minggu pertama Desember 2019 sudah beranjak ke Rp9.023 per kg. Kami harapkan harga terus membaik hingga tahun 2020,” katanya.

Sementara untuk harga di tingkat petani berupa tandan buah segar (TBS) saat ini sudah menyentuh Rp1.678 per kg. Harry mengatakan Sumatra Selatan berkontribusi sebanyak 5 juta ton CPO dari total produksi CPO nasional yang mencapai 36 juta ton per tahun.

“Sebetulnya kelapa sawit yang dihasilkan di Sumsel sudah menjadi produk olahan. Apalagi sudah dipakai untuk penerapan B30,” tandasnya.

Reporter : Maulana

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close