Kolom

Ramadhan Berbalut Covid-19 Sungguh Kami Semakin Mengenal Jiwa dan Pribadi Kalian Yang Kami Kenal

TERPUKUL Oleh Covid19, tak harus positif dan terkapar berada di rumah sakit.

Mengikuti aturan pemerintah untuk karantina mandiri agar tak tertular pun menularkan bukanlah semudah kata berucap, tak semudah pena menggaris tanda tangan dalam surat keputusan diatas stempel dan cap institusi. Pun tak semudah menghentakan palu di meja sidang.

Tak hanya mereka yang berada di garda terdepan yang pahlawan.

Dirumah pun kami pahlawan, kami pahlawan dengan cara menghentikan usaha kami dan tetap membayar tagihan listrik kantor dan internet kantor kami juga memberikan gaji karyawan kami, sekalipun kami tak berkantor.

Bahkan untuk bertahan #dirumahaja ada diantara kami yang mencari bantuan dan berhutang dari kerabat atau orang lain yang berhati mulia.

Kami pahlawan dengan menjual perabotan, menjual makanan, menjual pakaian, menjual perhiasan, menjual apa saja dan apa pun yang bisa kami jual demi keluarga kami bisa makan dan halal.

Katakan pada kami bahwa pengejawantahan Perpu terkait kedaruratan kesehatan telah sangat manusiawi dan mampu melindungi seluruh harkat masyarakat bangsa ini.

Lihat Juga  Kesaktian Pancasila Pada Peradaban Bangsa

Katakan bahwa itu telah sangat sempurna dan mampu menyentuh tangan tangan masyarakat yang membutuhkan.

Karena masalah pendataan, masalah BLT atau apa pun itu ternyata mampu tertutupi oleh hebohnya ratusan video viral di berbagai media sosial. Yang justru terjadi karena ketidaktegasan para pengambil keputusan.

Dari Covid19 dan Ramadhan 1441 H ini kami akhirnya semakin mengenal banyak dari jiwa dan pribadi kalian yang kami kenal.

Dari Covid19 akhirnya kami dapat mengukur pribadi dan jiwa kemanusiaan kalian.

Bangga atas apa? kami tak bodoh, kami hanya diam. Kami hanya diam dan mengukur kalian. Sama dengan kalian ratusan buku pun kami baca, bahkan mungkin kami lebih banyak membaca ketimbang kalian.

Dan dari sana kami melihat terdapat pola hampir serupa namun tak sama.

Sekalipun itu fiksi namun amat terasa kebenarannya disaat seperti ini. Dan terlihat nyata.

Lihat Juga  Pentingnya Sumpah Pemuda Bagi Generasi Milenial

Pola bahasa sebagai Mind Control “Newspeak”, “Doublespeak”, “Doublethink”

Old Friends…. kalian pun tahu Covid19 akan ada seumur dunia, Dan hidup kedepan tak akan selesai dengan sekedar menggunakan masker, menjaga jarak dan lain sebagainya.

Percayalah kami tak bodoh, kami hanya sedang diam. Dan pula kami terlalu sibuk untuk bertahan hidup.

Kami mencoba melindungi keluarga dan sanak saudara kami, kelompok dan golongan kami agar tak terpapar.

Tanyakan pada dahimu, sebagaimana kami menanyakan pada dahi kami. Apakah kami kembali Fitrah saat Fitri esok?

Tanyakan pada tanganmu, sebagaimana kami menanyakan pada tangan kami.

Bukan berapa kali membasuh dan menggunakan desinfektan tapi berapa banyak tangan yang di wanti wanti #dirumahaja kemudian mampu tersenyum disaat kita kembali Fitrah saat Idul Fitri Ahad Esok.

Sungguh kami semakin mengenal jiwa dan pribadi pribadi manusia yang kami kenal.

Rival Achmad  (Pemerhati Sosial)

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close