EKONOMINASIONALPALEMBANGSUMSEL

Realita Petani Kopi Pagaralam : Hidup Prihatin dan Terpaksa Terjerat Utang

BritaBrita.com,PAGARALAM – Memilih menjadi petani kopi di kota Pagaralam berarti sudah siap untuk hidup prihatin dan seadanya.Ironinya, profesi sebagai petani kopi di wilayah ini merupakan mayoritas mata pencarian masyarakatnya selain berladang atau pedagang. Kopi lah yang menjadi penggerak utama roda perekonomian di kota yang sudah berumur 19 tahun lebih ini.

Sudri (39) misalnya,bapak 3 anak ini telah menjalani berkebun kopi bahkan sejak dia masih berstatus lajang. Hingga sekarang ia memiliki profesi sampingan menjadi tukang ojek.

Diceritakannya,kebun kopi yang dia olah berjumlah 2.500 batang yang jika di konversikan dalam luasan kurang lebih 1 hektare lahan.Dimana buah kopi hanya bisa dipetik setahun sekali yang dalam bahasa Pagaralam disebut dengan “Musim”.

Dijelaskan Sudri,kopi yang ditanam mulai dari semai hingga panen perdana memakan waktu 3 sampai 5 tahun dengan perawatan seperti penyiangan maupun pemupukan. Panen perdana dan kedua kopi menghasilkan buah yang sangat banyak dan setelah itu mulai mengalami penurunan selama dikelola.

Menurutnya, jika pada panen perdana yang dalam bahasa daerah disebut dengan istilah “Mukul Agung dan Anak Agung” 1 hektare lahan bisa menghasilkan puluhan ton biji kopi basah yang setelah melalui proses penjemuran selama 2 minggu akan menghasilkan biji kopi yang bisa langsung dijual di pengepul atau istilahnya “Toukeh”.

Dalam 1 hektare kebun kopi pada masa “Mukul Agung dan Anak Agung” tersebut lanjut Sudri,dia bisa memperoleh penghasilan bersih dipotong biaya produksi sejak masa semai hingga panen yakni sekitar 20 juta hingga 25 juta rupiah permusim dimana biaya produksi sejak semai hingga panen diperkirakannya semusim sekitar 5 juta sampai 9 juta rupiah.

Namun demikian sejalan dengan umur tanaman jelas Sudri,produktifitas tanaman kopi pun berangsur menurun jika pada “Mukul Agung dan Anak Agung” pendapatan bisa mencapai Rp20 juta bersih permusim (pertahun) maka tahun-tahun berikutnya pendapatan ikut menurun berkisar Rp10 juta ke bawah belum dipotong ongkos produksi.

Lihat Juga  Saudi Umumkan Mekanisme Baru Reservasi Umrah, Begini Aturannya

Ditambahkan Sudri produktifitas tanaman kopi yang kian menurun walau tetap melakukan perawatan rutin tanaman menjadi tantangan bagi dirinya. Ditambah fluktuasi harga jual juga pengaruh cuaca yang sering kali sangat memengaruhi hasil panen.

Pada masa-masa ini saat harga jual rendah atau hasil panen sedikit, para petani kopi Pagaralam merasa terpukul dimana jika hanya memperoleh pendapatan Rp10 juta kotor permusim maka dipastikan kehidupan dia dan keluarganya akan menjalani masa sulit untuk 1 tahun kedepannya sebelum masa panen kembali.

Masa sulit yang dia dan keluarganya rasakan adalah minimnya pendapatan dari panen kopi yang hanya Rp10 juta kotor jika dibagi perbulan hanya berkisar 870 ribu perbulan dan perhari kurang lebih hanya mengantongi uang 27 ribu rupiah dari 1 kali panen kopi dalam 1 tahunnya.

Uang sebesar Rp27 ribu perhari ini tentulah jauh dari kata cukup dengan demikian Sudri pun harus mencari pekerjaan sampingan mulai dari menjadi tukang ojeg,buruh tukang atau pekerjaan serabutan lainnya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

BERUTANG PADA TOUKEH

Menjadi petani kopi selain resiko pendapatan minim pas-pasan juga sering kali harus menanggung utang kepada pihak lain.

Pengepul kopi atau disebut Toukeh lah yang menjadi andalan para petani menjadi tempat berutang jika ada kebutuhan yang tidak bisa terelakkan mulai dari biaya sekolah anak bahkan untuk makan sehari-hari pun tak jarang terpaksa berutang kepada Toukeh dengan perjanjian hasil panen berikutnya tidak boleh dijual pada Toukeh lain selain pada tempatnya berutang.

Jerat utang ini sepertinya tidak akan pernah lepas dari kehidupan dan profesi petani kopi atau profesi serupa lainnya di kota Pagaralam. Bagaimana tidak sejak mengolah lahan kebunnya,biaya perawatan tanaman hingga upah buruh panen ditanggung Toukeh. Para petani kopi yang tidak punya modal tentu saja harus berutang agar jadwal panennya tidak terganggu ditambah biaya kebutuhan rutin yang semakin membuat para petani tak bisa mengelak dari jerat utang ini.

Lihat Juga  Ini yang dilakukan Ketua TP PKK Sumsel saat Kunjungan ke OKU Timur

Seperti Sudri,biaya menyekolahkan dua anaknya pada tahun ajaran baru kemarin menbuatnya harus berutang kembali ke Toukeh langganannya yang jumlahnya sudah mencapai jutaan rupiah yang wajib dia bayar dengan hasil panen berikutnya.

Hal ini tentu saja semakin membuat kehidupan Sudri dan ratusan bahkan mungkin ribuan petani kopi sepertinya dirinya di kota Pagaralam masih sangat jauh dari kata sejahtera.

Realitas jauh dari kata sejahtera ini sudah menjadi tradisi masyarakat kota Pagaralam yang mayoritas roda ekonominya ditopang oleh biji kopi yang tetap tak bisa di tinggalkan meski tak bisa di andalkan.

PASAR-PASAR SEPI PEMBELI

Belum adanya jasa maupun industri di kota Pagaralam dan kultur masyarakatnya yang memang mayoritas petani membuat pergerakan roda ekonomi kota Pagaralam sangat bergantung pada produktifitas kopi para petani.

Hal ini dapat di buktikan dengan sepinya sentra-sentra perdagangan selama musim petik kopi belum berlangsung yang membuat daya beli masyarakat secara umum menurun tajam.

Maryati (47) contohnya,pedagang ikan segar ini harus merasakan dagangannya sepi pembeli lantaran masa panen kopi yang masih lama lagi.

Jika pada masa panen hingga 2 bulan setelahnya Maryati sanggup menjual puluhan kilo ikan segar perhari.Masa sekarang bisa terjual 5 kilo ikan nila sehari itu pun sudah berkah buatnya.

Tak cuma Maryati,hampir semua pelaku perdagangan di kota Pagaralam mulai penjual sembako hingga pakaian merasakan hal yang sama bahkan ada sebagian pedagang menetap (toko) yang harus menghutangkan barang dagangannya kepihak lain yang biasanya akan di bayar pada saat pasar ramai kembali yakni pada masa panen kopi.

Memang janggal rasanya dengan status kota tingkat II yang sudah berumur 19 tahun,namun ekonomi rakyatnya masih sama seperti puluhan tahun lalu.

Namun inilah realitanya masyarakat kopi Pagaralam.

Reporter : Taufik Hidayat

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close