TEMPO DOELOE

Tak Kan Melayu Hilang di Bumi

  Oleh : Bangun Lubis  

Pemerintah Malaysia di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Mahathir   Mohammad menunjukkan perhatian besar untuk mempertahankan dan penerusan budaya Melayu di negara serumpun.

Tak Kan Melayu Hilang di Bumi. Tulisan ini, bisa dilihat di setiap sudut kota, di Malaysia, untuk menunjukkan bawa begitu besar perhatian pemerintah negeri itu terhadap usaha mempertahankan budaya Melayu di negara serumpun.

Kalimat itu, memiliki falsafah yang mengingatkan seluruh dunia, bahwa sampai kapan pun bangsa dan peradaban Melayu akan tetap hidup sepanjang zaman. Bukan pula berarti adanya kekhawatiran menghilangnya bangsa dan budaya melayu tersebut, namun memang perlu ada upaya pelestarian  berbudya Melayu dan budaya Islam agar tetap bertahan dan tidak tergerus oleh derasnya arau budaya barat.

Pemerintah Malaysia, belakangan ini memilih Negeri Melaka untuk bertanggung jawab terhadap upaya pelestarian, penggeloraan dan juga menjaga tetap utuhnya kehidupan bangsa dan budaya melayu tersebut.

Sehingga Pemerintah Negeri Melaka memiliki jadwal setiap bulan mulai terlihat rutin dilakukan sejak tiga tahun terakhir, menjadwalkan acara-acara budaya yang terus menerus menggelar kesenian dan pesta budaya ataupun mengajak para pelancong yang tak hanya wisatawan tetapi juga para budayawan, seniman dan wartawan untuk melihat berbagai acara budaya atau seminar yang menyoal bangsa dan budaya melayu bertempat di Negeri Melaka.

Cerita bahwa Tak Kan Melayu Hilang Di Bumi,  bukanlah isapan jempol. Beberapa tahun kemudian Pimpinan Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) se Dunia  Tan Sri HJ Mohd Ali Bin Mohd Rustam, (Mantan Gubernur Melaka)  Minggu (25/8-2019) pagi datang ke Griya Agung Palembang, dan menyerahkan kepemimpinan untuk Indonesia kepada   Gubernur Sumatera Selatan, H. Herman Deru, sebagai Presiden Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) di Indonesia.

*Pusat Kajian Melayu Islam*

Tentu misi ini , begitu berpengaruh terhadap  perkembangan bangsa Melayu terutama peran sosial, budaya, politik dan ekonomi di Indonesia, Khususnya Sumatera Selatan, yang terus ingin membangun pedaban Melayu yang memiliki etika yang Islami ini..

Patut di percaya bahwa  sangat besar dampaknya dalam memperkokoh akar budaya dan etika kemelayuan agar dapat diturunkan ke generasi muda secara luas di Sumsel bahkan di Indonesia maupun Asia.

Penilaian, bahwa demikian besarnya manfaat bagi penguatan organisasi Kemalayuan ini, maka Organisasi DMDI ini membutuhkan struktur yang bisa mengemban keberetikaan maupun sikap humanis yang dimiliki oleh Orang-orang Melayu dalam pergaulan sehari-hari. Karena etika dan prilaku orang Melayu merupakan gambaran dari umat Islam. Termasuk harus terbentuknya juga kepengurusan yang kuat dari DMDI hingga ke daerah agar akar budaya yang ada di daerah dapat diakomodir dan dijadikan sebagai salah satu sikap dan kebiasaan dalam pergaulan sehari-hari.

Lihat Juga  FOTO: Penjual Bendera Merah Putih

Selain sebagai Pemimpin DMDI Untuk Indonesia yang ketepatan adalah Gubernur Sumsel Herman Deru, tentu perlu dukungan kuat dari para pembantu dalam struktur organisasi DMDI, agar kondisi dunia melayu dan budaya Islam bisa dipertahankan dan dapat menghindar dari lindasan budaya barat yang jauh dari peradaban Islam dan mengembangkan identitas kemelayuan dalam masyarakat secara luas.

Paradigma yang selama ini, hanya sebagai sebuah sebutan dan lambing belaka atas kebudayaan Melayu, ke depan  harus menjadi identitas  yang dapat pula menjadi kekuatan tersendiri dalam memperkokoh akar budaya, etika kemelayuan agar dapat diturunkan ke generasi berikutnya.

*Kemajuan Barat*

Kemajuan barat yang kini telah pesat perkembangannya, jika tidak diantisipasi, maka lambat laun, budaya Melayu (serumpun) akan punah. Karena itu harus ada niat untuk bersama-sama menjadwalkan acara-acara pertemuan budaya dan seminar-seminar serta upaya pereratan hubungan diantara para pelaku-pelaku budaya, jurnalis, seniman dan ekonom serumpun.

 

Apalagi sekarang ini terlihat ada diantara kita orang melayu yang pelan-pelan meninggalkan budayanya, karena budaya barat datang   begitu gencar menjalar kepada kaum muda, yang tidak hanya tergambar pada cara berpakaian, tetapi berperilaku dengan gaya atau aksen eropa yang sebenarnya tidak begitu tepat bagi masyarakat Melayu.

Terlihat di Masyarakat bagaimana aksen berbicara yang kini banyak mempengaruhi kaum muda yang bercampur dengan bahasa Inggris dan seolah kebarat-baratan. Sebenarnya tak masalah, tapi dalam bahasa pengantar dalam negeri kepada para orangtua dan sahabat atau pengantar dalam bahasa formal, ya harusnya bahasa melayu (Indonesia) atau Malaysia.

Kekhawatiran kehilangan jatidiri itu, tentu bisa dilihat dari berbagai aspek. Bahasa, keberetikaan (penghargaan terhadap orang tua atau tetua adat, maupun kalangan sesama), yang makin merosot dan bahkan tergerus.

 * Lembaga Pendidikan*

Kondisi bergaul dari sebagaian kalangan muda melayu juga telah kebarat-baratan, yang membuat para kalangan budayawan kewalahan untuk mengantisipasinya, sehingga penggalangan dan mempererat tali kerjasama budaya juga perlu ditingkatkan dalam acara-acara budaya antara bangsa serumpun untuk membicarakan itu dan membahasnya.

Lihat Juga  4000 Remaja Bunuh Diri Gegara Gagal dalam Ujian Sekolah

Jika perlu,  untuk mengantisipasi terjadinya kepunahan dalam berbagai sektor kemelayuan, DMDI perlu mendirikan sekolah-sekolah Melayu yang berbau Islam dan sekaligus mencampurkan dua budaya yang bisa menghantarkan anak-anak muda kita menjadi anak yang beretika dan Melayu dan sekaligus keislamannya mengikuti prilakunya. Termasuk membuat kursus-kursus Literasi Kemalayuan dan Keislaman.

Selain lembaga pendidikan setingkat perguruan tinggi, maka kursus-kursus yang terkait dengan bahasa, mendalami soal menumbuhkakembangkan kuliner sehingga menjadi makanan utama, bisa mengurangi terpaan makanan barat  yang digemari di masyarakat. Tanpa berbohong, memang ada kekhawatiran, menyusupnya budaya Eropa yang menjalar ke kalangan muda yang dikhawatirkan bisa suatu ketika meninggalkan budaya melayu pada diri mereka, sehingga even budaya serumpun perlu terus digelorakan.    Setidaknya ini, merupakan suatu cara upaya membentengi diri dan menghindari adanya kegelisahan pemuka masyarakat dan kalangan budayawan akan tergilasnya budaya melayu di negara serumpun

Kita lihat juga tumbuhkembangnya kursus yang berkaitan dengan skill atau pengetahuan mode. Mode barat yang makin gila menghantam anak-anak muda bahkan orang dewasa, sangat mengkhawatirkan punahnya mode tradisional masyarakat Melayu yang dulu sangat kental. Bahkan generasi milenial mulai asing dengan busana melayu.  Berkaca dari kondisi yang demikian, maka ide tentang edukasi busana melayu dan sejarahnya perlu diajarkan kepada generasi milenial.  Berbagai agenda busana melayu patutlah diberikan seperti adanya even atau lomba kreatifitas desain busana melayu, pagelaran busana melayu, pagelaran atau pentas seni yang bertema busana melayu.

Betapa banyak hal-hal yang berkaitan dengan dunia Melayu perlu kita lestarikan sebagai identitas diri dan tidak melupakan akar budaya.  Seiring dengan kemajuan zaman dan kemudahan teknologi sehingga membuat masyarakat dapat memperoleh informasi dengan cepat, dapat menjadi alat bagi pemangku amanah pelestari budaya melayu untuk memberikan informasi dunia kemelayuan bagi masyarakat luas terlebih kepada generasi milineal.

Adab dan sopan santun masyarakat Melayu tentunya juga harus mewarnai sendi-sendi bermasyarakat.  Edukasi adab dan sopan santun dapat diupayakan dengan memasukkan program etika/adab/akhlak di dunia pendidikan sejak usia dini.  Dimana usia dini merupakan pijak pertama bagi anak untuk menumbuhkan pembiasaan dan akan diulang secara terus menerus di tingkat yang lebih tinggi, tentunya dengan pembahasan yang lebih dalam sesuai tingkatannya.(*)

 

 

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close