PALEMBANGSYARIAH

Tukar Cincin saat Tunangan, Apakah Boleh atau Ada Pelanggaran dalam Islam?

BritaBrita.com,Palembang – Pada saat melaksanakan pernikahan, terkadang beberapa masyarakat melakukan tradisi tukar cincin tunangan. Ustaz Cholid Ruray, Lc dalam akun media sosial Youtube, Jumat (10/7/2020) menyampaikan bahwa hal tersebut ada pelanggarannya seperti yang diriwayatkan dalam hadist Nabi Muhammad SAW.

Pelanggaran pertama, jika pasangan suami istri mempunyai keyakinan bahwa jika kedua suami istri memakai cincin tersebut maka hubungan mereka akan langgeng dan sebaliknya jika salah satu tidak memakai cincin akan memisahkan. Maka hal tersebut sudah termasuk syirik dan sudha mirip dengan jimat.

Pelanggaran kedua kata beliau kalaupun tidak ada keyakinan tersebut, maka tukar cincin saat pernikahan merupakan penyerupaan terhadap tradisi Nasrani.

Pelanggaran ketiga yaitu Jika seandainya cincin berupa emas maka haram hukumnya dipakai oleh lelaki.

Pelanggaran keempat bagi wanita saat memakai cincin yang merupakan perhiasan yaitu saat diperlihatkan kepada yang bukan mahramnya. Hanya boleh terlihat oleh mahram dan suaminya, jika tidak hal tersebut termasuk kedalam tabarudj. Tabarudj merupakan wanita yang menampakkan kecantikannya, keindahannya, atau perhiasannya kepada laki-laki yang bukan suami dan mahramnya.

Lihat Juga  Dompet Dhuafa Sumsel Beri Bantuan Pembangunan Ke MI Masdarul Ulum Ogan Ilir

“Bisa jadi bertambah pelanggaran lainnya seperti bertukar cincin padahal belum melaksanakan nikah secara sah, mereka saling berpegang tangan memasukkan cincin ke jari, padahal mereka belum menikah tapi sudah bersentuhan,” ungkapnya.

Syaikh Al Utsmain rahimahullah berkata : “diblab (tukar cincin) itu sebuah istilah dari cincin pertunangan. Hukum asal sebuah cincin sebenarnya mubah, hanya saja sebagian orang berkeyakinan bahwa tukar cincin yang biasanya pada cincin tersebut telah diukir nama calon pasangannya, itu akan menjadi sebab eratnya hubungan kedua mempelai. Jika demikian maka pertukaran cincin haram hukumnya, karena berkaitan dengan sesuatu keyakinan yang tidak ada dasarnya, baik dari sisi syari’at maupun menurut akal sehat.

Lihat Juga  Polsek PAU Tembak Bandit Curanmor Modus Pinjam Motor Teman

Demikian juga pemakaian cincin tersebut tidak boleh dilakukan sendiri oleh peminang laki laki karena tunangannya itu belum sah menjadi istrinya. Dia masih sebagai orang asing sampai akad nikah dilaksanakan. (Fatawa Jami’ah lil Mar’ah al Muslimah III:914).

Syaikh Al Albani rahimahullah saat membicarakan hal ini maka beliau mengatakan : “Sebagian calon pria ada yang memakaikan cincin emas yang mereka sebut sebagai cincin pertunangan. Maka hal ini di dalamnya terkandung sifat meniru pada tradisi orang kafir, juga hal ini merupakan kebiasaan yang telah menjadi tradisi orang Nasrani”, (Adabuz Zifaf hal 139)

Reporter : Tri Jumartini Ilyas

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close