Uncategorized

Ibu Pertiwi Menangis, Diterjang Badai Bencana

 Oleh: Bangun Lubis [ Pemimpin Umum BritaBrita.com ]

BENCANA – Belum hilang ingatan dari bencana Palu dan Donggala, kita pun tersentak adanya bencana di Situbondo, dan di Ulu Pungkut, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Terahir Tsunami di Anyer dan Lampung. Begitulah negeriku diterjang badai yang demikian dahsyat dalam belan-bulan terakhir selama 2018 ini.

Musibah yang menyelimuti ibu pertiwi Republik Indonesia telah menyisakan tangisan kepedihan yang begitu pilu. Dalam tahun 2018 mingkin sampai 4.000 orang yang meninggal akibat bencana ataupun musibah yang menimbang di berbagai wilayah yang terdapat di negeri ini. Angka yang memilukan hati.

Kita ingat bencana alam yang terjadi di Lombok dan Donggala yang tercatat lebih 2.500 orang meninggal. Tsunami di Anyer dan Lampung menyebabkan hamper 600 orang meninggal dunia, dan terjadi juga di Kotanopan, Madina Sumatera Utara. Begitupun di Suka Bumi hamper 100 orang meninggal pas pada akhir tahun 30 Desember 2018 malam.

Di  Anyer malah kita lihat orang-orang yang terkenal di dunia hiburan, meninggal bersama keluarga mereka akibat tiada terduganya tsunami yang datang. Ini mengingatkan, agar kita sebagai hamba Allah harus selalu waspada dan menghindari dunia yang penuh dengan kemaksiatan ini.

Begitu juga dengan  bencana jatuhnya pesawat  juga menyebabkan ratusan orang meninggal. Begitulah musibah demi musibah secara beruntun hadir dihadapan kita. Alam memperlihatkan bagaimana gejolaknya yang dahsyat, ketika saat menghempas banyak negeri yang dilewatinya. Hancur luluh lantak.

Bencana-bencana itu sungguh mengerikan. Mengibaratkannya, tak jauh beda dengan zaman kenabian. Saat-saat sebuah negeri diluluhlantakkan oleh Allah karena ulah kemaksiatan penduduknya. Begitu dahsyat, sehingga tidak bisa berpikir sekejab untuk menghindarinya. Tidak ada tempat berlari, kecuali hanya berserah diri untuk meninggalkan dunia ini.

Kita bisa menyaksikan saat sebuah desa ditelan bumi di Donggala. Dan tsunami menyapu ribuan manusia di Palu. Orang-orang histeris menyaksikan dessa tertelan kedalam bumi. Bila kita berpikir, ternyata begitu mudah bagi Allah untuk menghancurkan bumi ini.

Banyak bencana berupa gempa bumi dan tsunami yang berkekuatan 7,4 skala richter tetapi, dalam kurun waktu belakangan ini, seperti kasus Palu dan Donggala adalah sebuah musibah yang begitu dahsyat. Sekejab saja ribuan orang hilang ditelan bumi dan rumah mereka pun ikut disapu badai.

Bahkan Ilmuwan dunia kaget atas dahsyatnya tsunami yang menerjang wilaha-wilayah itu. Mereka tak menduga gempa yang mengguncang akhirnya memicu gelombang tsunami yang menghancurkan sebuah wilayah sepeti juga yang dialami oleh Palu.
*Bencana Begitu Cepat *

 Sekadar mengingatkan kita umat yang beriman, bahwa kematian ataupun bencana tidak pernah datang memberitahu terlebih dahulu. Kita saat lelap tidur, saat bekerja di sawah, di kantor, dan saat anak masih dalam pelukan, bencana datang dengan tiba-tiba. Meluluhlantakkan bumi dan menggulung setiap sisi yang dilewati badai, menunjukkan kepada kita untuk selalu bersiap diri.

Belum hilang ingatan dari bencana Palu dan Donggala, kita pun tersentak adanya bencana di Situbondo, dan di Ulu Pungkut, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Terahir Tsunami di Anyer dan Lampung. Begitulah negeriku diterjang badai yang demikian dahsyat dalam belan-bulan terakhir selama 2018 ini.

Allah berfirman artinya;” Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuuraa: 30).

Kita bisa menyaksikan betapa sesungguhnya kita ini telah berulah dengan membuat maksiat pada masing-masing diri. Tak hanya korupsi, tetapi dalam mengelola negeri ini puin kita sudah tidak jujur lagi. Kita tidak amanah dalam mengemban tugas menyejahterakan rakyat.

Sabda Rasulullah, “Apabila kekuasaan dianggap keuntungan, amanat dianggap ghanimah (rampasan), membayar zakat dianggap merugikan, beiajar bukan karena agama (untuk meraih tujuan duniawi semata), suami tunduk pada istrinya, durhaka terhadap ibu, menaati kawan yang menyimpang dari kebenaran, membenci ayah, bersuara keras (menjerit jerit) di masjid, orang fasig menjadi pemimpin suatu bangsa, pemimpin diangkat dari golongan yang rendah akhiaknya, orang dihormati karena takut pada kejahatannya, para biduan dan musik (hiburan berbau maksiat) banyak digemari, minum keras/narkoba semakin meluas, umat akhir zaman ini sewenang-wenang mengutuk generasi pertama kaum Muslimin (termasuk para sahabat Nabi saw, tabi’in dan para imam muktabar). Maka hendaklah mereka waspada karena pada saat itu akan terjadi hawa panas, gempa,longsor dan kemusnahan. Kemudian diikuti oleh tanda-tanda (kiamat) yang lain seperti untaian permata yang berjatuhan karena terputus talinya (semua tanda kiamat terjadi).(HR. Tirmidzi)

*Ulama Besar Din Saymsudin*, Pimpinan Muhammadiyah menceritakan, apalabi terjadi bencana alam, paling tidak ada tiga analisa yang sering diajukan untuk mencari penyebab terjadinya bencana tersebut. Pertama, azab dari Allah karena banyak dosa yang dilakukan. Kedua, sebagai ujian dari Tuhan. Ketiga, Sunnatullah dalam arti gejala alam yang kemungkina biasa terjadi. Untuk kasus Indonesia ketiga analisa tersebut semuanya mempunyai kemungkinan yang sama besarnya.

Jika bencana dikaitkan dengan dosa-dosa bangsa ini bisa saja benar, sebab kemaksiatan sudah menjadi kebanggaan baik di tingkat pemimpin (struktural maupun kultural) maupun sebagian rakyatnya, perintah atau ajaran agama banyak yang tidak diindahkan, orang-orang miskin diterlantarkan. Maka ingatlah firman Allah:

“Jika Kami menghendaki menghancurkan suatu negeri, Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah (berkedudukan untuk taat kepada Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan daiam negeri tersebut, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya,” (Al-Isra'[17]: 16).

Apabila dikaitkan dengan ujian, bisa jadi sebagai ujian kepada bangsa ini, khususnya kaum Muslimin agar semakin kuat dan teguh keimanannya dan berani untuk menampakkan identitasnya. Sebagaimana firman Allah:

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja mengatakan: Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diujilagi?”( Al-Ankabut [29:2).

Akan tetapi, jika dikaitkan dengan gejala alam pun besar kemungkinannya, karena  bumi Nusantara memang berada di bagian  bumi yang rawan bencana seperti gempa, tsunami dan letusan gunung. Bahkan, secara keseluruhan bumi yang ditempati manusia ini rawan akan terjadinya bencana, sebab hukum alam yang telah ditetapkan Allah SwT atas bumi ini dengan ber bagai hikmah yang terkandung di dalamnya. Seperti pergerakan gunung dengan  berbagai konsekuensinya.

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal gunung-gunung itu bergerak sebagaimana awanbergerak.(Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh segala sesuatu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.( QS. Al-Naml [27]: 88).

Perilaku korupsi merajalela, penindasan dan pemiskinan menjadi pemandangan yang lumrah, dan kebangkrutan moral menjadi hal yang sangat sulit untuk dihindari.  Bisa jadi inilah penyebab bencana silih berganti.

Tiada lain kecuali memperbanyak ibadah dan meninggalkan segala kemaksiatan yang pernah dilakukan. Itulah suruhan Rasulullah kepada umat yang beriman. Karena bencana tidak datang di satu tempat saja. Dan Ia datang dengan tiba-tiba tanpa member tahu dahulu.  Mari kita semua bertaubat. Wallohu’alam(*)

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close