Uncategorized

Pawai Bregodo-Pelestarian Budaya dan Menghargai Jasa Prajurit Kerajaan

BritaBrita.com,Yogyakarta– Dinas Pariwisata (Dispar) kota Yogyakarta menggelar pawai Bregodo (prajurit) yang diikuti 35 bregodo dari 17 kampung wisata di Yogyakarta, Rabu (4/10/2017).

Hal ini sebagai bentuk keseriusan, Dispar kota Yogyakarta dalam mengembangkan pariwisata dan budaya. Bahkan menggandeng para pakar dewan kebudayaan, seperti pemerhati pariwisata Yogyakarta, Seniman Yogyakarta, ketua Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) Yogyakarta sebagai dewan juri.

Pawai Bregodo tersebut sengaja dilakukan selain upaya pelestarian wisata juga menggerakkan hati masyarakat untuk mencintai budaya lokal. Terbukti, antusias masyarakat cukup meriah. Masyarakat, baik warga sekitar XT-Square tempat berlangsungnya acara pawai, maupun mereka yang sekadar lewat berbondong-bondong memenuhi pelataran XT-Square hingga meluas ke seberang jalan.

Suharti, warga yang turut menyaksikan pawai bregodo mengutarakan antusias nya. Diakui mahasiswa Akademi Bahasa Asing (ABA) Sinema Yogyakarta ini pawai tersebut masih terbilang monoton.

“Setidaknya atraksi ini mampu membawa penonton pada masa prajurit kerajaan dulu, meski kondisi saat ini tidaklah sama dengan masa lalu, harapan saya atraksi brigodo mampu menunjukkan sisi kegagahan dan maskulinnya seorang prajurit tempo dulu. Sehingga yang ditampilkan tidak hanya prajurit yang apa adanya saja,” ujar Suharti.

Untuk sekadar menghargai jasa prajurit jaman dulu, lanjutnya, penonton cukup menikmati apalagi ditambah dengan berbagai gaya dan pernak- pernik peserta.

“Tujuan utamanya ialah mengenalkan kepada masyarakat terutama generasi muda, tentang peran bregodo yang pernah berjasa di masa peperangan kerajaan dulu” imbuhnya.

Lebih lanjut ia menuturkan, uniknya pawai ini tak hanya diikuti oleh orang-orang tua, namun juga anak-anak seusia SMP yang membaur bersama prajurit dari kalangan orang tua.

Penampilan Bregodo kali ini memang cukup menarik minat masyarakat, selain diiringi dengan musik khas Jawa yakni gamelan, sepanjang acara berlangsung komando yang sering digunakan ialah bahasa Jawa.

Selain itu kostum-kostum yang digunakan peserta pawai bukan saja kostum prajurit seperti biasanya, meskipun menyesuaikan dengan karakter kampungnya masing-masing. Peserta juga melakukan modifikasi pada penggunaan-penggunaan accesoris tertentu.

Seperti yang ditampilkan Bregodo asal kampung wisata Tamansari. Menurut salah satu peserta, pihaknya sengaja memilih kostum kupu-kupu dengan pernik senada seperti bunga-bunga mengingat Tamansari sendiri berarti taman tempat pemandian raja-raja dan permaisuri yang tak jarang dihiasi hewan-hewan cantik seperti kupu-kupu. Harapannya tentu kehadiran penari kupu-kupu tersebut dapat semakin menyemarakkan suasana pawai kali ini.

Wartawan : Pipit
Editor : Syl

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close