KolomNASIONALPALEMBANG

Artificial Intelligence & Intelligence In Leading

Oleh :  Bambang Haryanto (Praktisi HR)

ADA sebuah cerita Cina kuno yang menggambarkan seorang pemimpin yang keras dan baik. “Suatu hari, seorang Kaisar menunjuk orang kedua dalam pemerintahan. Dia memanggil Perdana Menteri dan berkata kepadanya, “Bagaimana jika kita berbagi tugas? Bagaimana jika anda memberikan semua hukuman dan saya memberikan semua pujian? Perdana Menteri berkata, “baiklah. Saya akan memberikan semua hukuman dan anda memberikan semua pujian.”

“Tidak lama kemudian Kaisar menyadari ketika dia meminta seseorang melakukan sesuatu, mereka bisa mematuhinya bisa juga tidak. Akan tetapi setiap kali Perdana Menteri berbicara, semua orang bergerak.”
“Jadi Kaisar memanggil kembali Perdana Menteri dan berkata, Bagaimana kalau kita membagi tugas lagi? Sudah cukup lama anda memberikan semua hukuman di sini. Sekarang saya yang akan memberikan semua hukuman dan anda memberikan semua penghargaan. Jadi Perdana Menteri dan Kaisar bertukar peran.”

“Dalam beberapa bulan terjadi pemberontakan. Selama ini Kaisar seorang yang menyenangkan, memberikan penghargaan dan baik hati kepada semua orang, lalu dia mulai memberikan hukuman ke semua orang. mereka berkata,“Ada apa dengan orang tua aneh itu? Dan akhirnya mereka menyingkirkannya dari tahta.”
“Ketika mencari seorang pengganti, mereka berkata, “Kalian tahu siapa yang sekarang mulai berubah? Perdana Menteri. Lalu mereka menjadikannya Kaisar.” (End)

Sepenggal cerita yang disadur dari buku The New One Minute Manager, karangan Ken Blanchard & Spencer Johnson, M.D. Cukup menarik dan penuh arti yang mendalam, apa lagi di era saat ini tidak jarang Pemimpin lebih cenderung memilih untuk memberikan punishment dalam pembinaan atau bisa juga mencari keuntungan terhadap karyawan dari berupa sanksi tersirat maupun tersurat ketimbang rewarding people (Development, Career, maupun Compensation & Benefit), yang lebih parahnya lagi sanksi diberikan ketika organisasi atau perusahaan dan pekerja dalam keadaan baik-baik saja sehingga tanpa disadari atau tidak pemimpin tersebut telah merusak dan menghancurkan organisasi secara perlahan.

Agar sukses lebih cepat, pemimpin harus berorientasi kepada hasil maupun kepada manusia, dan bagaimana mungkin mendapatkan hasil jika tidak melalui manusia, karena manusialah yang menjalankan proses organisasi, dan didalam masa perubahan saat ini, Pemimpin yang paling efektif adalah Pemimpin yang mampu mengelola diri mereka sendiri serta orang-orang yang bekerja bersama mereka sehingga baik orang itu maupun organisasi mendapatkan keuntungan dari kehadiran mereka. Saat ini juga pelanggan menuntut pelayanan yang lebih cepat dan produk yang lebih baik. Kekuatan pikiran bukan hanya ditingkat eksekutif tetapi seluruh organisasi, karena kecepatan adalah kunci kesuksesan, memimpin dengan kolaborasi jauh lebih effektif daripada sistem kuno perintah dan kontrol tetapi harus di iringi juga dengan rewarding people sesuai tingkat pertumbuhan organisasi atau perusahaan sehingga akan terjalin engagement yang kuat antara karyawan dengan organisasi atau perusahaan.

Mereka yang merasa nyaman dengan dirinya sendiri membuahkan hasil yang baik, membantu orang lain merasa nyaman dengan dirinya sendiri adalah kunci produktivitas. Produktivitas lebih sekedar kuantitas pekerjaan yang diselesaikan. Tetapi juga kualitas.Tanpa memberikan produk berkualitas dan pelayanan yang diinginkan kepada pelanggan (eksternal maupun internal), kita tidak akan bertahan lama di dalam bisnis dan cara terbaik untuk mencapai hasil yang sukses adalah dengan manusia. Dan masalah hanya terjadi jika ada perbedaan di antara yang sebenarnya terjadi dan apa yang kita inginkan tidak terjadi.

Pemimpin menunjukkan cara melakukan sehingga tim dapat memahami dan melakukannya sendiri. Karena kepercayaan diri yang diusahakan membantu kita menghadapi semua perubahan yang terjadi. Kita diharapkan cukup percaya diri untuk berinovasi agar tetap berada di depan. Peraturan 80/20, yaitu 80% hasil yang benar-benar penting berasal dari 20% tujuan. Menit terbaik yang digunakan Pemimpin adalah menit yang diinvestasikan kepada orang lain. Diharapkan ada umpan balik karena umpan balik adalah sarapan sang juara, umpan baliklah yang membuat kita terus maju, dan membuat semua orang menjadi pemenang. Dan Jangan sampai terjadi sebagian orang disamarkan sebagai pecundang untuk mencapai tujuan.

Lihat Juga  Polisi Sebut Editor MetroTV Tewas Bunuh Diri, Ayahnya Nggak Percaya

Pemimpin tidak harus sering-sering mendapati seorang karyawan melakukan tugasnya dengan benar, karena karyawan yang baik mendapati diri mereka sendiri melakukan hal-hal yang benar. Tetapi berbeda untuk karyawan yang sedang belajar kerena kemajuan dan kemunduran serta untuk mendapatkan keuntungan berasal dari pujian dan dorongan orang lain. Hukuman tidak ada gunanya jika digunakan untuk karyawan yang masih belajar. Ketika memimpin orang lain, penting untuk diingat bahwa perilaku dan nilai adalah hal yang berbeda. Yang benar-benar berharga adalah orang yang mengelola perilaku mereka sendiri dan pemimpin akan menjadi lebih sukses ketika menghormati individu yang di arahkan.

Perilaku dan nilai merupakan cerminan seorang Pemimpin dalam setiap mengambil keputusan dan hal ini membutuhkan kecerdasan yang sangat mendasar yang harus dimiliki baik itu spiritual intelligence, emotional intelligence, intelectual intelligence maupun adversity intelligence, dalam membangun organisasi melalui orang-orang ini, tapi sebelum melangkah lebih jauh ada baiknya dibahas terlebih dahulu berkenaan hak dan kewajiban karena hal ini adalah faktor pokok penentu keberhasilan dalam mencapai tujuan organisasi dan perusahaan, yang paling sederhana bicara hak dan kewajiban adalah memenuhi dan menjalankan hak-hak normatif karyawan yang sudah diatur dalam undang-undang atau peraturan yang ada sehingga ketika membuat langkah strategis organisasi tidak lagi tersandung dengan ketentuan hukum yang berlaku sehingga bisa fokus dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Secara teknis pemimpin bisa menggunakan empat pendekatan pengambilan keputusan, dimana setiap keputusan memiliki dua parameter: sebandingkah dua pilihan tersebut, dan seberapa besarnya konsekuensi keputusan itu? Disusun dalam matriks, ada 4 pendekatan pengambilan keputusan. Diantaranya ialah:

1.Mudah dibandingkan, tanpa konsekuensi.
2.Susah dibandingkan konsekuensi kecil
3.Mudah dibandingkan, konsekuensi besar
4. Sulit dibandingkan, konsekuensi besar

Karyawan lebih setia dan produktif ketika mereka puas dan karyawan yang puas ini akan mempengaruhi kepuasan pelanggan (eksternal maupun internal) dan produktivitas organisasi. Kepuasan karyawan merupakan kombinasi reaksi afektif terhadap perbedaan persepsi tentang apa yang ingin diterima dibandingkan dengan apa yang sebenarnya diterima.

Oleh karena itu, organisasi harus berusaha memenuhi harapan karyawan untuk mendekati kepuasan karyawan dengan tetap melihat kondisi internal organisasi pada saat sebuah keputusan diambil. Selain itu, kondisi emosional karyawan juga dapat mempengaruhi kepuasannya dan ini memaksa Pemimpin untuk menciptakan, mempertahankan lingkungan kerja yang kondusif sesuai yang diinginkan organisasi.

Dalam dunia global yang berubah dengan cepat, orang-orang membutuhkan etika kepemimpinan lebih dari yang mereka butuhkan sebelumnya. Oleh karena itu, proses kepemimpinan akan menjadi sebuah pertanyaan bagi setiap karyawan. Konsep yang lebih sempit adalah kecerdasan dalam memimpin (Intelligence in Leading) yang akan menciptakan nilai bagi organisasi maupun diri pribadi pemimpin dan kecerdasan dalam memimpin ini setidaknya ada 4 kriteria yaitu; spiritual intelligence, emotional intelligence, intelectual intelligence, dan adversity intelligence yang harus ada di dalam diri seorang Pemimpin ketika mengambil sebuah keputusan baik berupa keputusan jangka pendek, menengah, dan panjang. Dibanyak organisasi yang telah bertumbuh dan berkembang menjadi sebuah organisasi yang besar pemimpin selalu berusaha untuk menjadikan karyawan adalah asset utama dan investasi jangka panjang sehingga dalam tata kelola organisasinya pemimpin selalu melibatkan karyawan yang ada didalamnya dan bahkan menyediakan tempat kerja dengan segala fasilitas disediakan didalamnya dan tidak berpikir lagi bagaimana organisasi mencari keuntungan sebanyak-banyaknya karena keuntungan akan datang dengan sendirinya serta tidak mengorbankan karyawan untuk mencapai tujuan karena pemimpin ini sadar bahwa maju mundur organisasi tergantung seberapa besar karyawan bisa menerima dari setiap keputusan yang diambil dari persepsi sesuai dengan fakta dan data yang ada.

Di Jumat Sore hari jam 17.00 di sebuah ruangan para karyawan bergegas untuk segera pulang tepat waktu karena week end telah tiba dan saatnya untuk beristirahat di rumah dan bersendau gurau dengan keluarga, dan ada percakapan singkat antara ketiga karyawan yang mereka duduk bersebelahan.

Lihat Juga  Diduga Sakit Jantung, Warga Seduduk Putih Palembang Ditemukan Meninggal di Dalam Mobil

Petruk, “ Pak bro Sekalian, happy week end ya….ketemu di hari senin dengan semangat baru.” Dengan wajah berseri.

Baru datang ke tempat duduknya dari toilet, si bagong, “hati-hati dijalan ya Bro Petruk, salam buat keluarga” dengan lesung pipit sebagai pemanisnya.

Gareng yang lagi serius kerja, “iya ne bro petruk ninggalin kita berdua aja di kantor.” Sembari mengerjakan laporan yang sedang dia selesaikan.

Seketika itu juga si petruk mendekati kedua temannya ini, “bekerja itu adalah ibadah buat memenuhi kebutuhan keluarga di rumah terutama orang tua, istri dan anak-anak kita, jadi jangan sampai pekerjaan yang mengatur apa yang akan kita kerjakan.”imbuhnya kepada kedua temannya, dan langsung di jawab ketus oleh Gareng, “setuju, tapi pekerjaan saya saat ini intruksi dadakan dari Pak Bos Manajer kita, dan katanya harus diselesaikan segera karena laporan ini akan digunakan sebagai pengajuan tender puluhan triliun.”

Bagong yang baru duduk di kursinya langsung bergumam, “halah, emang tender menang apakah hasilnya terasa sampai ke karyawan, reng? Dan dirimu juga ne petruk kayaknya baru belajar agama bisa-bisanya mengatakan kerja adalah ibadah, jika ada pekerjaan seperti si Gareng ini apakah masih bisa dikatakan ibadah?,” dengan wajah yang sedikit serius dan meneruskan perkaataannya, “saya juga bakal pulang malam di week end ini, gara-gara tender ini juga saya diminta evaluasi 2 tender yang sedang berjalan dan intruksi ini barusan saja saya terima dari Pak Bos Manajer.”

“Ya inilah Pak Bos Manajer kita, maunya banyak sekali bahkan terkadang tidak ingat waktu, tempat dan perasaan kita tetapi tidak di iringi dengan kesejahteraan karyawan padahal perusahaan mengalami pertumbuhan, bahkan kebijakan yang dibuat masih ada yang bertentangan dengan perundang-undangan.” Kata Petruk.

Bagong, “sudah takdir, saya adalah Supervisor kalian tetapi mempunyai masalah yang sama soal perasaan, bekerja terpaksa diterima karena di tekan atasan yang tidak peduli terhadap bawahan, hehehehehe…..”

Gareng yang masih seriusan dengan pekerjaan, “saya malam ini ada janji sama istri mau berkunjung ke rumah ibu saya, akhirnya dibatalkan demi Pak Bos Manajer kita ini.”

“Saya pulang duluan ya….nikmati aja pekerjaan kita saat ini, semoga menjadi ladang ibadah buat kita nanti, apa yang bisa dikerjakan ya kerjakan dan jangan sampai merusak prestasi dan reputasi kita sebegai pekerja, sembari mencari rejeki di tempat lain.” Setelah itu petruk berjalan keluar ruangan dengan meninggalkan kedua temannya Bagong dan Gareng yang melanjutkan pekerjaannya. (end)

Cerita singkat diatas menggambarkan bahwa tempat kerja hanya sebagai tempat pelarian mencari aktifitas bukan tempat untuk aktualisasi diri karyawan jika dihadapkan pemimpin yang semaunya bukan pemimpin yang berusaha untuk mendesain organisasi demi kepentingan bersama dan kolaborasi pemimpin dengan semua anggota organisasi untuk maju bersama, secara waktu ini tidak baik karena kesejahteraan seorang karyawan ditentukan oleh kebijakan organisasi berkenaan karyawan yang seharusnya bersifat jangka panjang dan bukan sementara, jangan sampai tercipta iklim kerja seperti roda pedati yang bergerak jika hanya ditarik oleh sapi atas perintah yang mengendalikannya dan perlu di ingat, sesuatu yang terpaksa dilakukan akan menghasilkan sesuatu yang belum tentu biasa apa lagi luar biasa.

Nilai organisasi akan tercipta jika perilaku pemimpin mencerminkan seharusnya, karena kecerdasan yang dipunya bukan kecerdasaan buatan (artificial intelligence) yang kecerdasan ini dibuat untuk memenuhi ego dan nafsu manusia saat ini sehingga menghilangkan jati diri manusia sebenarnya yang kenapa manusia itu di ciptakan, kecerdasan yang ada pada diri manusia adalah karunia Tuhan yang digunakan dan agar bisa bermanfaat untuk sesama, bukan untuk dirinya semata sekaligus pembeda dengan makhluk lain yang telah diciptakan-Nya.

“Tujuan memulai perilaku, konsekuensi memengaruhi perilaku selanjutnya.” (**)

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close