HUKUM

Tragedi Di Balik Bunuh Diri Siswa SD 10 tahun

 

Albar Sentosa Subari – Ketua Lembaga Adat Melayu Peduli Marga Batang Hari sembilan

 

Menyimak jumpa pers Bupati Ngada Raymundus Bena, pada hari kamis, 5 Februari 2026, menceritakan setelah dilakukan penelusuran terhadap tragedi bunuh diri seorang anak SD yang berusia 10 tahun, bernama Yohannes Bastian Roja.

Bahwa beberapa hari sebelum terjadi nya peristiwa yang memilukan itu. Anak tersebut menanyakan beasiswa Program Indonesia Pintar. Beberapa kali kepada ibunya.

Namun karena syarat administrasi belum selesai karena Kartu Keluarga/ Kartu Tanda Penduduk ibunya masih terdaftar di domisili yang lama, belum pindah ke kabupaten Ngada, sehingga harus menunggu sampai selesai proses pindah alamat.

Akibatnya pula keluarga itu belum mendapatkan bantuan sosial

Tegas Bupati Ngada Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Baca Juga  Reaksi Adat dalam Kompilasi Adat Istiadat Sumatera Selatan

Terlepas dari cerita di atas, sebagai kolumnis masih menyisakan beberapa persoalan, bahwa anak tersebut mengharapkan beasiswa Program Indonesia Pintar yang terbentuk karena administrasi.

Hanya karena selembar kertas sampai akhirnya seorang anak yang berusia 10 tahun menjalani jalan pintas untuk mengakhiri penderitaan nya.

Pertanyaan berikutnya dimana perangkat desa/ lurah setempat apakah tidak membantu menyelesaikan persoalan-persoalan warganya yang mengalami kesulitan. Dan sejauh mana peran pihak sekolah??

Informasi dari media sosial yang beredar menerangkan bahwa YBR tinggi di rumah neneknya dengan status anak yatim , yang hidup dengan ayah tiri dari saudara tirinya.

Dari data tersebut tindakan yang bersangkutan untuk mengakhiri hidupnya memang sudah komplek persoalan nya baik secara lahiriah maupun psikologis yang kurang mendukung.

Dari catatan terakhirnya yg ditujukan kepadanya ibunya, terkesan dia tidak mau membuat ibunya susah , yang memang sudah dalam kondisi miskin ekstrim.

Baca Juga  Kapolri Listyo Sigit Ditunjuk Jadi Ketua Dewan Penasihat KSPSI di Rapimnas 2025, Ini Pesan Tegasnya

Setelah peristiwa ini viral di media sosial barulah pejabat daerah dan pusat, terbuka mata hatinya melihat kondisi dunia pendidikan belum menggembirakan kalau dibandingkan dengan program program pemerintah lainnya. Yang sepertinya menjadi program utama dan pertama??

Belum lagi kondisi sarana prasarana menuju sekolah. Ada jembatan putus , ambruk di Jawa Barat. Dimana siswa siswi harus turun dan naik menggunakan tangga untuk menuju lokasi sekolah.

Belum lagi besaran uang gaji guru honorer jauh lebih rendah dibandingkan dengan sopir antar jemput MBG.

Yang Khabar beredar di media sosial DPR RI masih mau menambah biaya program MBG yang diambilkan dari Bansos dan Uang BPJS.?.

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button