Meramu Iman & Inovasi

TEKNOLOGI melesat seperti anak panah yang dilepas tanpa target pasti, sementara bumi tempat kita berdiri mulai demam, sesak napas, bahkan berkeringat dingin akibat ulah penghuninya sendiri. Di tengah kegaduhan algoritma, krisis iklim, dan kelangkaan etika, hadir sebuah forum yang tak hanya mengajak berpikir, tapi juga bertafakur, yakni AICIS Plus 2025.
Menteri Agama Nasaruddin Umar meresmikan pembukaan acara ini di Auditorium HM Rasjidi, Jakarta. Dengan tema besar yang sungguh menggugah “Islam, Eco-theology, and Technological Transformations for an Equitable and Sustainable Future”, AICIS Plus bukan hanya barisan huruf indah di spanduk acara, tapi pernyataan sikap bahwa agama, lingkungan, dan teknologi seharusnya tidak jalan sendiri-sendiri seperti jomblo keras kepala.
“Kalau hubungan manusia dan alam tidak harmonis, akibatnya bisa lebih dahsyat dari perang” ujar Menag dengan nada tegas namun menyejukkan. Bukan ancaman, tapi peringatan. Sebab konflik dengan alam tidak menghasilkan gencatan senjata, hanya longsor, banjir, kekeringan, dan generasi pengungsi iklim.
Beliau menyoroti data dari PBB lebih dari satu juta orang meninggal setiap tahun akibat perubahan iklim. Angka itu bukan bualan aktivis atau hyperbola ceramah, tapi angka nyata yang terbit dari lembar laporan resmi dunia. Krisis iklim sudah bukan lagi ancaman masa depan, tapi berita pagi hari ini.
Dalam tanggapannya, Menag menegaskan bahwa yang paling dalam dan mendasar justru adalah teologi. Bahasa agama, bukan karena agama lebih suci, tapi karena agama menyentuh lapisan terdalam manusia, yakni nurani.
Kalau boleh bicara pakai perumpamaan, sains itu seperti sepeda motor besar, cepat dan bertenaga. Tapi agama adalah remnya. Tanpa rem, motor bisa terbang ke jurang meski jalannya lurus. Maka, teologi bukan pelengkap, tapi pengendali arah.
Melalui AICIS Plus, teologi tidak duduk manis di ruang ibadah. Ia kini bersuara di panggung global, bicara soal kebijakan publik, lingkungan hidup, kecanggihan AI, hingga etika digital. Karena di sinilah letak masalah kita hari ini teknologi tumbuh pesat, tapi nilai-nilai tertinggal di halte.
Perubahan wajah AICIS menjadi AICIS Plus bukan sekadar perubahan nama yang ditambah embel-embel “plus” seperti paket data, ini adalah transformasi paradigma.
Dirjen Pendidikan Islam, Suyitno, menyampaikan bahwa kini AICIS Plus tidak lagi hanya menjadi panggung untuk studi-studi Islam klasik, tapi juga membuka diri untuk ilmu sosial, sains, dan teknologi. Sebuah simfoni baru antara iman dan ilmu, akidah dan algoritma, spiritualitas dan sains data.
“Ini bukan lagi hanya Annual International Conference on Islamic Studies, tetapi kini menjadi Annual International Conference on Islamic Science and Society,” tegasnya. Sebuah lompatan yang menempatkan agama bukan hanya sebagai warisan, tetapi sebagai panduan masa depan.
AICIS Plus juga menghadirkan expo riset, bukan pameran brosur, tapi ajang unjuk karya dari berbagai disiplin yang berdampak nyata mulai dari riset medis, energi terbarukan, teknologi pangan, hingga isu lingkungan dan bukan sekadar seminar ilmiah, namun tempat menyemai solusi.
Yang lebih membanggakan, AICIS Plus tahun ini diamanahkan kepada Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) sebagai tuan rumah, bukan sekadar lokasi, tapi simbol bahwa Islam Indonesia siap berdiri sejajar di kancah global, tidak hanya karena jumlah umat, tapi karena kualitas wacana.
UIII adalah kampus muda, tapi sudah punya mahasiswa dari lebih 40 negara. Mereka bukan sekadar belajar fikih atau filsafat, tapi juga sosiologi, teknologi, dan bahkan geopolitik dunia Islam. Inilah wajah baru pendidikan Islam yang universal, terbuka, dan solutif.
Rektor UIII, Jamhari Makruf, menyatakan kesiapan penuh kampusnya. Mereka telah membentuk panitia, merancang agenda akademik, menyiapkan logistik, bahkan menyusun strategi agar konferensi ini bukan sekadar sukses administratif, tapi juga sukses makna. Dan layaknya tuan rumah yang baik, UIII menyambut dengan tangan terbuka dan pikiran yang terbuka pula.
Dunia hari ini seperti orkestra besar yang kehilangan konduktor. Ada teknologi yang terus mencipta, tapi lupa bertanya “Untuk siapa ini semua?” Di sinilah peran AICIS Plus mengembalikan nurani ke dalam rumus, menyisipkan etika dalam setiap algoritma, dan mengajak manusia untuk berpikir bukan hanya soal efisiensi, tapi juga keberlanjutan.
Pepatah bijak mengatakan, “Ilmu itu cahaya, tapi iman adalah lentera yang menuntunnya”. Maka cahaya itu harus diarahkan, agar tak membutakan. Teknologi harus diarahkan oleh visi moral, bukan hanya oleh kecerdasan buatan.
AICIS Plus 2025 adalah ajang penting, tapi lebih dari itu, ia adalah tanda zaman. Bahwa umat Islam, khususnya dari Indonesia, tidak ingin tertinggal dalam gelombang perubahan, tetapi ingin menjadi bagian dari arsiteknya.
Inilah momen untuk membuktikan bahwa agama bukan penghalang kemajuan, tapi penuntun agar kemajuan tidak kehilangan arah. Dan dari Indonesia, dengan semangat AICIS Plus, dunia diajak untuk merenung kembali bahwa masa depan yang adil dan berkelanjutan hanya bisa dibangun, jika iman dan inovasi berjalan seiring.
Karena sesungguhnya, membangun dunia yang lebih waras, bukan hanya tugas para ilmuwan, tapi juga tugas orang-orang beriman yang mau peduli, bukan hanya pada surga, tapi juga pada bumi tempat kita berpijak hari ini.[***]
One/foto : kemenag



