SEJARAH-BUDAYA

MEMATIKAN EGO SENTRIS

MEMATIKAN EGO SENTRIS

 

Oleh Anto Narasoma – Seniman & Budayawan

*MEMBANGUN kepribadian diri itu gampang-gampang susah. Maka untuk memahami nilai agama secara eksplisit, memang belum cukup untuk membuka kesadaran jiwa sepenuhnya*.

Dalam konteks tersebut, seseorang membutuhkan energi lain dari sahabat yang memahami jiwanya secara utuh, maka ia akan menyadari secara utuh bahwa hidup di dunia ini kita tidak sendirian.

Psikolog ternama Prof Dr Hj Zakiah Daradjat, mengatakan bahwa persoalan hidup di dunia ini memang harus kita tinjau secara global. Artinya tidak selalu melihat ke diri sendiri tanpa mengindahkan persoalan secara komplek ke diri yang lain.

“Jika ini terjadi, maka kita merasa akan menjadi manusia paling benar. Seolah-olah merasa apa yang kita lakukan itu sangat sempurna dan orang lain tak akan ada apa-apanya dalam kaitan satu persoalan,” ujar Hj Zakiah.

Pernyataan itu sangat menarik untuk dikaji secara _human psichologic_. Sebab di balik nilai-nilai kemanusiaan yang tersirat di dalamnya sangat menyentuh pikiran dan perasaanku.

Dalam kajian pendidikan, psikolog Dr Paulus Laratmase M PSi, mengatakan orang-orang yang lebih mengutamakan diri sendiri itu bisa dikaitkan dengan konsep _solipsisme_ atau lebih spesifik lagi –selalu menganggungkan egonya (egoisme).

Dalam konteks etika, orang-orang seperti ini selalu fokus ke kepentingan diri sendiri. Bahkan baginya, menyentil dan menjelek-jelekkan orang lain adalah hal sepele.

Seolah setiap ungkap kata yang dilakukan adalah hal paling ringan. Padahal ketersinghungan yang dilakukan kepada orang lain sudah membuat perasaan seseorang terluka. Secara ego sentris hal-hal seperti dianggap ringan dan main-main belaka telah membuat hatinya puas.

Baca Juga  Angkan-Angkanan Jalur Kemanusiaan

Menurut Dr Paulus Laratmase, orang-orang yang memiliki watak seperti ini hanya mampu mengakomodasi kepentingan pribadinya seorang. Karena itu dirinya harus banyak-banyak belajar melihat ruang lingkup yang luas sehingga akan muncul kesadaran moralnya sebagai manusia sejati.

Jika tidak, atau enggan melakukan kajian diri sendiri, maka ia akan tetap patuh terhadap egosime yang cenderung lebih memprioritaskan keinginan diri sendiri. Bahkan ia cenderung kurang peduli terhadap perasaan orang lain.

“Orang memiliki sikap ego (sentris) memang sulit menerima kritik. Mereka juga bisa memanipulatif segala sesuatu untuk menyatakan diri paling unggul dan paling benar dibanding orang lain,” ujar Paulus saat berbincang dengan penulis lewat ponsel dua hari lalu.

Jika ditarik ulur, dalam ilmu filsafat, kecenderungan memandang ke diri sendiri memiliki sikap paling hebat dengan struktur ego yang berlebihan.

Karena itu mereka akan lebih fokus untuk mempertahankan pandangan dirinya sebagai orang yang merasa lebih benar dibanding orang lain.

Maka, terkait masalah tersebut, orang-orang yang memiliki ego sentris berlebihan bisa disebut sebagai manusia narsistik.

Artinya, secara psikologi, sifat narsistik merujuk kepada diri seseorang yang mencintai diri sendiri secara berlebihan.

Seolah apa yang dilakukannya selalu merasa lebih penting, butuh pujian, dan kurang empati terhadap orang gagasan lain.

Baca Juga  Tunggu Tubang: Politik Pengelolaan Pusaka, Kedaulatan Pangan, dan Relevansi Gender dalam Sistem Kekerabatan Semende Kontemporer

Ilmu psilologi menyebutkan, di dalam kehidupan ini, orang-orang yang memiliki karakter negatif selalu terganggu dengan kepribadian tertentu.

Setiap kali melakukan kerja apa pun, mereka selalu menyentil kelemahan orang lain dengan kata-kata ringan yang melukai perasaan orang lain. Karena terdapat unsur narsistik, maka hatinya sangat puas ketika perasaan orang lain terluka akibat kata-kata yang dianggap sebagai ungkapan humor atau main-mainan belaka.

Dalam _attechment theory_ seorang psikolog wanita, Mary Ainswort, mengatakan kata-kata yang nenyakitkan hati seseoang merupakan “api” yang akan membakar akhlak dan kepribadian diri sendiri.

Karena itu Mary menuturkan bahwa secara psikologi sikap buruk yang awalnya hanya sekadar main-main akan menjadi racun bagi diri sendiri.

Selain bisa menghadirkan “kebahagiaan” karena merasa bahwa ia sudah berhasil memojokkan perasaan seseorang dengan kata-kata yang dianggap “main-main” akhirnya menjadi endapan racun toxid di hatinya.

Sementara itu, sebagai pemusik dan penyanyi dangdut kondang —Rhoma Irama menyentil kebusukan hati seseorang lewat lagu Ghibah.

Dalam lagu itu Rhoma Irama memberi nasihat agar pemilik hati yang egois agar segera menghentikan keangkuhannya.

Ghibah dalam persepsi keilmuan adalah membicarakan keburukan orang lain, baik dengan cara diucap maupun dilakukan secara tertulis.

Dampaknya justru “membakar” kebaikan yang ada di dalam diri kita. Sebab mencaci dan memburukkan seseorang bukan pahala yang kita peroleh, tapi berjajar dosa-dosa yang kita hadirkan sendiri sebagai manusia ego yang busuk hati. (*)

Palembang, 1 April 2026

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button