
BritaBrita.com,JAKARTA-Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti saintek) Brian Yuliarto mengingatkan bahwa jabatan rektor di perguruan tinggi bukan capaian teratas seorang akademisi.
Menurut Brian prestasi tertinggi seorang akademisi ialah manfaat nyata dari ilmu pengetahuan dan inovasi yang dihasilkan dan diberikan ke masyarakat.
“Pencapaian tertinggi seorang akademisi bukan semata-mata menduduki jabatan rektor atau posisi struktural lainnya. Ilmu pengetahuan mencapai nilai tertingginya ketika dapat dimanfaatkan oleh masyarakat,” kata Brian Yuliarto saat memberikan arahan dalam Akademi Kepemimpinan Perguruan Tinggi (AKPT) 2026 hari kedua di ITB, Bandung, Jawa Barat, Jumat (9/10/2026),
dikutip dari Antara. Ia menekankan, gelombang perubahan besar saat ini sedang terjadi di dunia pendidikan.
Pasalnya perguruan tinggi secara tidak langsung dituntut untuk bergerak lebih cepat, adaptif, dan mampu menciptakan nilai tambah secara ekonomi dan sosial karena perubahan pesat teknologi digital, eksponensialitas kecerdasan buatan (AI), arus globalisasi, hingga dinamika geopolitik global.
Parameter keberhasilan institusi Mendikti juga menyebut banyaknya publikasi ilmiah di jurnal internasional, reputasi akademik secara tertulis, atau jabatan bergengsi tak cukup untuk menjadi parameter keberhasilan suatu institusi perguruan tinggi.
“Perguruan tinggi tidak cukup hanya unggul di atas kertas, tetapi harus mampu beradaptasi, menciptakan nilai, dan menghasilkan dampak nyata,” ujar Brian.
Brian menyemangati agar perguruan tinggi di Indonesia berani berubah, dari lembaga yang sekadar memproduksi lalu menyebarkan pengetahuan, melainkan menjadi penggerak terciptanya inovasi yang menjawab kebutuhan di tengah masyarakat.
Untuk itu, langkah-langkah penguatan riset terapan, hilirisasi hasil penelitian, dan kolaborasi bersama industri harus dilakukan. Komersialisasi dan nilai guna riset pun tak ketinggalan. Namun ia berpesan bahwa publikasi ilmiah masih tetap menjadi fondasi utama pengembangan ilmu pengetahuan.
Hasil penelitian diharapkan tidak berhenti pada publikasi Dengan riset yang kuat maka akan menjadi modal lahirnya penemuan berharga lalu siap untuk dihilirisasi.
“Namun hasil penelitian diharapkan tidak berhenti pada publikasi, melainkan berkembang menjadi teknologi, inovasi, solusi sosial, dan nilai ekonomi,” ujarnya seperti dilansir kompas.com. Pemimpin yang Visioner Mendikti saintek mendorong perguruan tinggi untuk melakukan restrukturisasi budaya akademik internal.
Caranya yaitu dengan menyediakan skema insentif yang memadai dan bentuk apresiasi nyata teruntuk dosen dan peneliti yang berhasil melahirkan karya tepat guna. Di samping itu, kampus juga penting untuk memiliki pemimpin dengan figur kepemimpinan yang visioner, adaptif, dan responsif terhadap dinamika zaman.
Dengan demikian para pimpinan perguruan tinggi diharapkan mampu mengantisipasi arah perubahan, membangun jejaring kolaborasi lintas sektor. Hingga mengarahkan pengelolaan aset, sumber daya, dan penyelarasan program studi secara efektif demi memperkuat keunggulan kompetitif institusi.



