ARTIKELNASIONAL

Dosa Ekologis Manusia Modren

Dosa Ekologis Manusia Modren

Oleh: Syamsul Hidayah – Direktur Eksekutif Shalawat Institute Palembang

Di berbagai belahan dunia, bumi sedang mengirimkan isyarat yang tak boleh lagi diabaikan. Suhu global terus meningkat, musim semakin sulit diprediksi, banjir dan kekeringan datang silih berganti, hutan menyusut, sungai tercemar, dan udara yang kita hirup semakin jauh dari kata bersih. Para ilmuwan menyebutnya krisis iklim. Namun bagi orang beriman, fenomena ini bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan panggilan untuk melakukan muhasabah: apakah manusia masih menjalankan amanahnya sebagai khalifah di bumi?

Al-Qur’an telah jauh lebih dahulu mengingatkan bahwa manusia bukan pemilik bumi, melainkan penjaga yang diberi amanah. Allah SWT berfirman,

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.'” (QS. Al-Baqarah: 30).

Kata khalifah mengandung makna wakil atau pengelola. Menurut M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah, manusia diberi kepercayaan untuk mengelola bumi sesuai dengan kehendak Allah, bukan mengeksploitasinya tanpa batas. Amanah itu sekaligus menjadi ujian: apakah manusia mampu memakmurkan bumi atau justru menjadi penyebab kerusakannya.

Ironisnya, ketika teknologi semakin maju, kemampuan manusia mengeksploitasi alam juga semakin besar. Hutan ditebang tanpa kendali, sungai dijadikan tempat pembuangan limbah, gunung dikeruk, laut dipenuhi sampah plastik, dan udara dipenuhi emisi. Kemajuan ekonomi sering kali dibayar dengan kerusakan ekologi.

Al-Qur’an menggambarkan fenomena ini secara sangat tepat:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian akibat dari perbuatan mereka, supaya mereka kembali ke jalan yang benar.” (QS. Ar-Rum: 41).

Ayat ini terasa semakin aktual pada abad ke-21. Kerusakan lingkungan bukanlah bencana yang sepenuhnya datang dari alam, melainkan konsekuensi dari cara manusia memperlakukan bumi. Krisis iklim, banjir, longsor, pencemaran, bahkan hilangnya keanekaragaman hayati merupakan cermin dari krisis moral dan krisis spiritual manusia.

Karena itu, Islam tidak memandang pelestarian lingkungan hanya sebagai persoalan teknis, tetapi sebagai bagian dari ibadah. Allah SWT mengingatkan,

Baca Juga  Ironi Pertumbuhan 5,61 Persen: Mengapa Rupiah Justru Keok Dekati Rp18.000?

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56).

Ayat ini mengandung pesan yang sangat mendalam. Allah telah menciptakan bumi dalam keadaan seimbang (mizan). Keseimbangan itulah yang memungkinkan kehidupan berlangsung. Ketika manusia merusak keseimbangan tersebut melalui keserakahan dan eksploitasi yang berlebihan, sesungguhnya ia sedang merusak tatanan yang telah ditetapkan Allah.

Dalam Surah Ar-Rahman Allah berfirman,

“Dan langit telah Dia tinggikan dan Dia ciptakan keseimbangan. Maka janganlah kamu merusak keseimbangan itu.” (QS. Ar-Rahman: 7–8).

Konsep mizan merupakan fondasi etika lingkungan dalam Islam. Alam diciptakan dengan ukuran, hukum, dan keseimbangan tertentu. Manusia diperbolehkan memanfaatkan sumber daya alam, tetapi tidak dibenarkan merusak keseimbangannya.

Sayangnya, budaya konsumtif justru mendorong manusia hidup melampaui batas. Sampah plastik menggunung, makanan terbuang, air digunakan secara berlebihan, dan energi dihabiskan tanpa kendali. Padahal Allah telah mengingatkan,

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31).

Larangan berlebih-lebihan (israf) bukan hanya berlaku pada makanan, tetapi juga pada seluruh bentuk pemanfaatan sumber daya alam. Krisis lingkungan pada hakikatnya adalah buah dari gaya hidup yang melampaui batas.

Yang menarik, Al-Qur’an tidak memandang alam sebagai benda mati. Langit, bumi, gunung, pepohonan, bahkan seluruh makhluk digambarkan sebagai makhluk yang tunduk kepada Allah.

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak memahami tasbih mereka.” (QS. Al-Isra’: 44).

Ayat ini mengubah cara pandang kita terhadap alam. Hutan bukan sekadar kumpulan pohon. Sungai bukan hanya aliran air. Gunung bukan sekadar batu. Semua adalah makhluk Allah yang bertasbih kepada-Nya. Merusak alam berarti merusak makhluk-makhluk yang sedang mengagungkan Sang Pencipta.

Rasulullah SAW juga memberikan teladan ekologis yang luar biasa. Beliau bersabda,

“Tidaklah seorang muslim menanam pohon, lalu dimakan manusia, burung, atau binatang, melainkan menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Baca Juga  Purbaya Sudah Menduga Akan Dipecat, Diduga Karena Kebijakannya

Hadis ini menunjukkan bahwa menanam pohon bukan sekadar aktivitas lingkungan, tetapi juga investasi pahala yang terus mengalir. Dalam perspektif Islam, konservasi alam bukan hanya urusan aktivis lingkungan, melainkan bagian dari amal saleh.

Lebih jauh lagi, Al-Qur’an mengingatkan bahwa seluruh nikmat alam akan dimintai pertanggungjawaban.

“Kemudian kamu pasti akan ditanya pada hari itu tentang segala kenikmatan.” (QS. At-Takatsur: 8).

Air yang kita minum, udara yang kita hirup, tanah yang kita pijak, dan hutan yang kita manfaatkan bukanlah milik mutlak manusia. Semua adalah titipan Allah yang kelak dipertanyakan penggunaannya.

Bahkan bumi yang kita pijak tidak akan diam. Allah berfirman,

“Pada hari itu bumi akan menceritakan beritanya.” (QS. Az-Zalzalah: 4).

Ayat ini memberi pesan yang sangat menggugah. Kelak bumi akan menjadi saksi atas segala perlakuan manusia terhadapnya. Sungai yang tercemar, hutan yang dibakar, udara yang dikotori, dan satwa yang dimusnahkan tanpa alasan yang benar akan menjadi bagian dari kesaksian itu.

Karena itu, gerakan menjaga lingkungan seharusnya tidak berhenti pada slogan “go green” atau sekadar menanam pohon saat peringatan Hari Bumi. Yang jauh lebih penting adalah membangun kesadaran spiritual bahwa menjaga alam merupakan bagian dari ketakwaan kepada Allah. Menanam pohon, mengurangi sampah plastik, menghemat air, menjaga sungai, dan menggunakan sumber daya secara bijak adalah wujud nyata dari ibadah sosial.

Pada akhirnya, krisis lingkungan bukan semata-mata persoalan ekologis, melainkan juga krisis amanah. Ketika manusia lupa bahwa dirinya adalah khalifah, ia berubah menjadi perusak. Sebaliknya, ketika ia menyadari bahwa bumi adalah titipan Allah, setiap langkahnya akan diwarnai tanggung jawab.

Barangkali, bumi tidak sedang membutuhkan lebih banyak pidato tentang lingkungan. Bumi hanya menunggu manusia kembali menjalankan amanahnya sebagai khalifah. Sebab, merawat bumi pada hakikatnya bukan sekadar menyelamatkan alam, melainkan menjaga perjanjian suci antara manusia dengan Tuhannya

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button