OPINI

Work Life Balance Working Mom: Antara Tuntutan Profesi dan Tanggung Jawab Keluarga

Pagi menyiapkan keluarga, siang mengejar target kantor, malam kembali mengurus rumah. Bagi working mom, hari kerja tidak berakhir saat jam kantor usai.

Oleh: Yosi Nidia Sari, SPd

Mahasiswa Magister Manajemen Konsentrasi Sumber Daya Manusia (SDM) Universitas Tridinanti Palembang.

DI balik perempuan yang tampak profesional di tempat kerja, sering kali ada cerita tentang pekerjaan rumah yang belum selesai, anak yang membutuhkan perhatian, dan waktu istirahat yang harus dikorbankan.

Pagi hari dimulai dengan menyiapkan kebutuhan keluarga, kemudian bergegas menjalankan tanggung jawab pekerjaan. Setelah jam kerja berakhir, tugas sebagai ibu dan pengelola rumah tangga kembali menanti.

Bagi banyak perempuan yang bekerja atau working mom, hari kerja tidak selalu berakhir ketika jam kantor selesai. Fenomena ini menunjukkan bahwa tantangan perempuan bekerja bukan semata-mata tentang kemampuan membagi waktu, melainkan juga tentang bagaimana menyeimbangkan berbagai peran yang sama-sama menuntut perhatian. Dalam konteks inilah, work life balance menjadi isu penting, bukan hanya bagi perempuan, tetapi juga bagi keluarga, organisasi, dan masyarakat.

Secara sederhana, work life balance merupakan kondisi ketika seseorang mampu mengelola tuntutan pekerjaan dan kehidupan pribadinya secara proporsional. Namun, keseimbangan ini tidak berarti bahwa waktu untuk pekerjaan dan keluarga harus selalu sama banyak. Ada masa ketika pekerjaan membutuhkan perhatian lebih besar, dan ada pula masa ketika keluarga menjadi prioritas utama.

Persoalannya, perempuan bekerja sering kali menghadapi ekspektasi ganda. Di tempat kerja, mereka dituntut profesional, produktif, disiplin, dan mampu mencapai target. Di rumah, mereka kerap diharapkan menjadi ibu yang selalu hadir, pasangan yang suportif, serta pengelola rumah tangga yang dapat diandalkan.

Ketika semua tuntutan itu harus dipenuhi secara bersamaan, kelelahan fisik dan emosional menjadi risiko yang nyata. Bahkan, tidak sedikit perempuan yang merasa bersalah ketika harus bekerja lembur, melewatkan kegiatan anak, atau mengambil waktu untuk dirinya sendiri.

Padahal, menjadi perempuan yang bekerja tidak mengurangi kualitasnya sebagai ibu. Demikian pula, menjadi ibu yang baik tidak berarti harus mengorbankan seluruh kebutuhan pribadi dan profesionalnya.

Masalahnya Bukan Kemampuan Perempuan

Dalam perspektif manajemen sumber daya manusia, work life balance tidak seharusnya dipandang semata-mata sebagai tanggung jawab individu. Organisasi juga memiliki peran besar dalam menciptakan lingkungan kerja yang mendukung keseimbangan kehidupan karyawan.

Budaya kerja yang mengukur produktivitas hanya berdasarkan lamanya seseorang berada di kantor, misalnya, berpotensi mengabaikan hasil kerja yang sesungguhnya. Pegawai yang pulang tepat waktu belum tentu kurang berdedikasi. Sebaliknya, pegawai yang terus bekerja hingga malam belum tentu lebih produktif.

Baca Juga  Menantang Pembangunan Kota Palembang: Ironi Kemegahan dan Isi Dompet Rakyat Kecil

Organisasi perlu mulai membangun budaya kerja yang berorientasi pada hasil, kejelasan target, efisiensi, dan kesehatan pegawai. Fleksibilitas kerja yang memungkinkan, pembagian beban kerja yang wajar, kepemimpinan yang empatik, serta penghormatan terhadap waktu istirahat merupakan bagian dari pengelolaan sumber daya manusia yang berkelanjutan.

Bagi instansi pemerintah, persoalan ini juga relevan. Aparatur Sipil Negara (ASN) dituntut memberikan pelayanan publik secara profesional. Namun, profesionalisme tidak seharusnya dibangun melalui pengorbanan kehidupan pribadi secara terus-menerus. Pegawai yang sehat secara fisik dan emosional memiliki peluang lebih baik untuk bekerja secara fokus, mengambil keputusan dengan jernih, dan memberikan pelayanan yang berkualitas.

Karena itu, perhatian terhadap work life balance bukanlah bentuk pemakluman terhadap rendahnya kinerja. Justru, hal ini merupakan bagian dari strategi untuk menjaga produktivitas, komitmen, dan keberlanjutan kinerja organisasi.

Keluarga Bukan Tanggung Jawab Ibu Seorang

Persoalan keseimbangan kehidupan kerja juga perlu dilihat dari pembagian peran dalam keluarga. Selama pekerjaan domestik dan pengasuhan anak masih dianggap sebagai tanggung jawab utama perempuan, work life balance akan sulit diwujudkan secara adil.

Perempuan bekerja tidak seharusnya dituntut untuk menyelesaikan pekerjaan kantor sekaligus memikul hampir seluruh tanggung jawab rumah tangga. Pasangan perlu hadir sebagai rekan yang berbagi tanggung jawab, bukan sekadar membantu ketika diminta.

Berbagi tugas rumah tangga, mendampingi anak belajar, mengatur kebutuhan keluarga, dan mengambil keputusan bersama merupakan bentuk kemitraan yang penting. Dukungan keluarga bukan hanya meringankan beban perempuan, melainkan juga membangun hubungan yang lebih sehat dan memberikan contoh nyata tentang kesetaraan kepada anak.

Pada saat yang sama, perempuan perlu memahami bahwa meminta bantuan bukanlah tanda ketidakmampuan. Mendelegasikan pekerjaan, menyusun prioritas, dan menetapkan batas yang sehat merupakan bagian dari pengelolaan diri yang matang.

Berhenti Mengejar Kesempurnaan, Mulailah Membangun Keseimbangan

Salah satu tekanan terbesar yang dihadapi working mom adalah tuntutan untuk selalu terlihat mampu menangani semuanya. Perempuan diharapkan sukses dalam karier, hadir dalam setiap tahap perkembangan anak, menjaga keharmonisan keluarga, dan tetap memiliki waktu untuk dirinya sendiri.

Tuntutan tersebut dapat melahirkan standar kesempurnaan yang sulit dicapai. Akibatnya, ketika satu peran tidak berjalan sesuai harapan, perempuan cenderung menyalahkan dirinya sendiri.
Padahal, keseimbangan bukan berarti semua aspek kehidupan selalu berjalan sempurna. Ada hari ketika pekerjaan selesai dengan baik, tetapi waktu bersama keluarga berkurang.

Ada pula masa ketika keluarga membutuhkan perhatian lebih sehingga beberapa target pekerjaan harus diatur ulang. Yang terpenting bukanlah menjalankan seluruh peran tanpa cela, melainkan mampu menentukan prioritas, berkomunikasi secara terbuka, dan mengambil keputusan sesuai kebutuhan pada setiap fase kehidupan.

Baca Juga  Ekosistem Digital: Harapan Baru di Balik Tantangan Persaingan Global

Perempuan juga berhak memiliki waktu untuk beristirahat, belajar, mengembangkan karier, dan menikmati kehidupan di luar pekerjaan maupun tanggung jawab keluarga. Kebutuhan tersebut bukan bentuk keegoisan, melainkan bagian dari upaya menjaga kualitas hidup.

Investasi Keluarga dan Masa Depan Organisasi

Dalam jangka panjang, work life balance memberikan manfaat yang melampaui kepentingan individu. Keluarga memperoleh hubungan yang lebih sehat ketika setiap anggota memiliki waktu dan energi untuk saling mendukung.

Organisasi juga berpeluang memperoleh pegawai yang lebih terlibat, loyal, dan mampu mempertahankan kinerja secara konsisten. Sebaliknya, budaya kerja yang mengabaikan kebutuhan manusia berisiko meningkatkan kelelahan, konflik peran, ketidakpuasan kerja, dan keinginan untuk meninggalkan organisasi.

Oleh sebab itu, kebijakan yang mendukung keseimbangan kehidupan kerja sepatutnya dipandang sebagai investasi sumber daya manusia, bukan sekadar fasilitas tambahan.

Pimpinan perlu menjadi teladan dalam menghargai waktu, mendistribusikan pekerjaan secara adil, serta menilai pegawai berdasarkan kinerja dan tanggung jawabnya. Rekan kerja juga perlu membangun budaya saling mendukung tanpa menghakimi pilihan hidup masing-masing.

Pada akhirnya, tanggung jawab menciptakan keseimbangan harus dibagi secara proporsional antara individu, keluarga, dan organisasi. Perempuan dapat belajar mengelola prioritas, keluarga dapat membangun kemitraan yang setara, dan organisasi dapat menghadirkan sistem kerja yang lebih manusiawi. Work life balance bagi working mom bukanlah tentang memilih antara karier dan keluarga.

Keduanya merupakan bagian penting dari kehidupan yang dapat saling mendukung apabila dikelola dengan bijaksana dan didukung lingkungan yang tepat.

Sudah saatnya kita berhenti mengukur keberhasilan perempuan hanya dari kemampuannya menyelesaikan semua pekerjaan tanpa mengeluh. Keberhasilan juga perlu dilihat dari kemampuannya menjalani kehidupan yang sehat, mengembangkan potensi, membangun keluarga yang harmonis, dan tetap memiliki ruang untuk menjadi dirinya sendiri.

Sebab, perempuan yang bekerja tidak harus menjadi manusia yang selalu kuat. Ia juga manusia yang membutuhkan dukungan, waktu istirahat, dan kesempatan untuk bertumbuh.

Keseimbangan kehidupan kerja bukanlah keistimewaan bagi perempuan, melainkan kebutuhan manusia dan bagian penting dari pengelolaan sumber daya manusia yang berkelanjutan. Ketika perempuan diberi ruang untuk berkembang tanpa harus kehilangan kesejahteraan dirinya, keluarga menjadi lebih kuat dan organisasi memiliki sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. *

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button