OLEH : Afdoli Ramadoni, S.Sos.,M.Sos.,CPS (Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Palembang)
SETIAP TANGGAL 1 Mei, Indonesia memperingati Hari Buruh Nasional sebagai momentum refleksi terhadap peran strategis kaum pekerja dalam menopang perekonomian dan pembangunan bangsa. Hari Buruh tidak sekadar diidentikkan dengan aksi demonstrasi dan tuntutan normatif, tetapi merupakan ruang simbolik untuk memperjuangkan nilai keadilan, kesejahteraan, dan kemanusiaan bagi para buruh sebagai subjek pembangunan. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam, peringatan Hari Buruh semestinya juga dimaknai melalui perspektif nilai-nilai keislaman yang menempatkan kerja, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap martabat manusia sebagai prinsip fundamental ajaran agama.
Islam memandang kerja sebagai aktivitas mulia yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga bernilai ibadah. Nabi Muhammad SAW bahkan menegaskan pentingnya memberikan upah kepada pekerja sebelum keringatnya kering, yang menunjukkan komitmen Islam terhadap perlindungan hak-hak buruh. Oleh karena itu, dakwah keislaman memiliki posisi strategis dalam mengomunikasikan nilai-nilai tersebut kepada masyarakat, khususnya dalam momentum Hari Buruh Nasional. Persoalannya, dakwah tidak cukup disampaikan secara normatif-teologis, tetapi memerlukan pendekatan komunikasi yang kontekstual, dialogis, dan transformatif agar pesan keadilan sosial benar-benar dapat dipahami dan diinternalisasi oleh masyarakat luas.
Dakwah Keislaman sebagai Proses Komunikasi Sosial
Secara konseptual, dakwah dapat dipahami sebagai proses komunikasi sosial yang bertujuan mengajak, mempengaruhi, dan mentransformasikan perilaku individu maupun struktur sosial agar selaras dengan nilai-nilai Islam. Ramli dan Tasruddin menegaskan bahwa dakwah bukan hanya penyampaian pesan agama secara satu arah, melainkan interaksi komunikatif yang melibatkan aspek interpersonal, persuasif, dan komunikasi massa dalam rangka menciptakan perubahan sosial yang berkelanjutan.
Dalam konteks Hari Buruh Nasional, dakwah keislaman berperan sebagai medium untuk merekonstruksi makna perjuangan buruh, dari sekadar tuntutan material menjadi perjuangan bermartabat yang dilandasi nilai keadilan (al-‘adl), keseimbangan (tawazun), dan kemaslahatan (maslahah). Melalui komunikasi dakwah yang tepat, buruh tidak hanya diposisikan sebagai objek belas kasihan, tetapi sebagai subjek sosial yang memiliki hak untuk hidup layak, memperoleh upah adil, dan bekerja dalam lingkungan yang manusiawi.
Dakwah, Keadilan Sosial, dan Teori
KomunikasiDari perspektif Islam, keadilan sosial merupakan prinsip dasar dalam kehidupan bermasyarakat. Al-Qur’an menegaskan agar kekayaan tidak hanya beredar di kalangan orang-orang kaya saja (QS. Al-Hasyr:7), yang relevan dengan realitas ketimpangan upah dan kesejahteraan buruh di berbagai sektor industri. Konsep ini sejalan dengan pandangan para pemikir Islam kontemporer yang menempatkan dakwah sebagai instrumen advokasi sosial dan pembelaan terhadap kelompok rentan.
Secara teoritis, pendekatan dakwah dalam isu perburuhan dapat diperkaya dengan Teori Tindakan Komunikatif dari Jurgen Habermas. Teori ini menekankan pentingnya komunikasi yang berorientasi pada mutual understanding (saling pengertian), bukan dominasi atau manipulasi. Dalam kerangka ini, dakwah dipandang sebagai ruang diskursif yang memungkinkan dialog setara antara da’i, buruh, pengusaha, dan negara guna membangun kesepahaman kolektif tentang keadilan sosial.
Selain itu, pemikiran Paulo Freire tentang komunikasi emansipatoris juga relevan dalam dakwah Hari Buruh. Freire menolak model komunikasi yang bersifat “banking system” (satu arah dan menindas), dan mendorong dialog kritis yang membangkitkan kesadaran (conscientization). Dalam konteks dakwah keislaman, pendekatan emansipatoris berarti mengajak buruh menyadari hak-haknya sebagai amanah Allah, sekaligus mendorong pengusaha dan negara menjalankan tanggung jawab moralnya.
Hari Buruh sebagai Ruang Dakwah
Transformatif Peringatan Hari Buruh Nasional sejatinya merupakan ruang strategis bagi dakwah Islam transformatif. Dakwah tidak hanya berkutat pada tema ibadah ritual, tetapi juga menyentuh persoalan struktural seperti upah layak, jaminan sosial, keselamatan kerja, dan relasi industrial yang berkeadilan. Melalui mimbar khutbah, media digital, dan forum keagamaan, pesan dakwah dapat membingkai perjuangan buruh sebagai bagian dari jihad sosial dalam menegakkan keadilan.
Penelitian tentang dakwah emansipatoris menunjukkan bahwa pendekatan dialogis dan kritis mampu memperluas peran dakwah dari sekadar reproduksi norma menuju transformasi struktur sosial yang tidak adil. Dalam konteks ini, dakwah Hari Buruh menjadi sarana membongkar praktik eksploitasi, sekaligus menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa keadilan bagi buruh adalah prasyarat keberkahan pembangunan nasional.
Di era media digital, komunikasi dakwah menghadapi tantangan sekaligus peluang. Media sosial memungkinkan pesan dakwah tentang keadilan buruh menjangkau audiens yang lebih luas, termasuk generasi muda pekerja. Namun, tanpa landasan etika dan literasi digital, pesan dakwah berpotensi terjebak dalam polarisasi dan simplifikasi isu. Oleh karena itu, dakwah keislaman pada momentum Hari Buruh perlu dikemas secara argumentatif, berbasis data, dan berorientasi solusi, agar tidak tereduksi menjadi retorika simbolik semata.
Pendekatan dakwah berbasis nilai Islam dan analisis sosial kritis terbukti efektif dalam membangun narasi alternatif tentang buruh sebagai mitra strategis pembangunan, bukan ancaman stabilitas ekonomi. Dakwah semacam ini dapat memperkuat solidaritas sosial sekaligus mendorong dialog konstruktif antara buruh, pengusaha, dan pemerintah.
Komunikasi dakwah keislaman dalam memperingati Hari Buruh Nasional Indonesia memiliki urgensi strategis dalam membangun kesadaran kolektif tentang keadilan dan kemanusiaan. Dengan pendekatan komunikasi yang dialogis, emansipatoris, dan transformatif, dakwah dapat berfungsi sebagai jembatan moral antara nilai-nilai Islam dan realitas sosial kaum buruh. Hari Buruh bukan hanya peringatan seremonial, melainkan momentum dakwah sosial untuk menegaskan bahwa kerja adalah ibadah dan keadilan bagi buruh adalah amanah keislaman dan kebangsaan.
Daftar Referensi
Ramli & Tasruddin. Teori Komunikasi Dakwah dalam Penyebaran Pesan Islam. Jurnal Kolaboratif Sains Vol.7 No.11, November 2024.
Iqbal Hussain Alamyar,Umi Halwati,Johar Rifin, Aeni Rofiqoh. The Theory of Communicative Action in Da’wah. ICODEV: Indonesian Community Development Journal Vol. 4, No. 2, Agustus 2023, 69-78.
Fauziya, Siti Nadia, Malikatun Nufus,Qotrunnada Mufarrohah, M. Radhitya Putra, Muhammad Wildan, Ali Hasan Siswanto. Dakwah Emansipatoris Sebagai Ruang Transformasi Sosial: Analisis Habermas, Bourdieu, Dan Giddens Atas Problem Kemiskinan, Ketidakadilan, Dan Gender. Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 1 No. 12 ; Desember 2025, 247-257.



