SEJARAH-BUDAYA

Biografi Sahilin Dibedah di Palembang: Dari Pengakuan Maestro hingga Jejak Musik ke Dunia Internasional

Biografi Sahilin Dibedah di Palembang: Dari Pengakuan Maestro hingga Jejak Musik ke Dunia Internasional

 

BritaBrita.com, Palembang, 2 April 2026 — Buku “Sahilin dan Karya Musiknya: Biografi Maestro Tembang Batanghari Sembilan” menjadi pusat perhatian dalam kegiatan bedah buku yang digelar di Aula Nurul Amal, Sekip, Palembang, Sabtu (2/4/2026).

Kegiatan ini tidak hanya membahas perjalanan hidup Sahilin, tetapi juga mengungkap kontribusi musikalnya yang menjangkau tingkat nasional hingga internasional.

Ditulis oleh Feri Firmansyah, Irfan Kurniawan, M. Nasir, dan Hasan, buku ini hadir sebagai biografi yang diperkaya dengan kajian musik. Didukung oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VI dan Yayasan Lacak Budaya Sriwijaya, karya ini berupaya mendokumentasikan sekaligus menganalisis peran Sahilin dalam perkembangan Tembang Batanghari Sembilan.

Kegiatan bedah buku menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Dr. (K) Dedy Firmansyah, Dr. (K) Silo Siswanto, Sayid Muhammad selaku Ketua Komite Musik Dewan Kesenian Palembang (DKP), serta Faldy Lonardo sebagai praktisi musik. Diskusi dihadiri oleh mahasiswa, praktisi musik, dan seniman Palembang yang aktif mengikuti jalannya forum.

Baca Juga  UMKM Sumsel Makin Tangguh

Dalam pemaparannya, Feri Firmansyah menegaskan bahwa buku ini tidak hanya memotret biografi Sahilin secara kronologis, tetapi juga mengkaji dimensi musikalnya. Sahilin diposisikan dalam tiga peran utama, yaitu sebagai pelestari, inovator, dan inspirator dalam Tembang Batanghari Sembilan.

“Buku ini tidak hanya biografi, tetapi juga kajian musik. Sahilin kami lihat sebagai pelestari, inovator, dan inspirator,” ujar Feri.

Diskusi juga mengungkap asal-usul penyematan gelar “maestro” kepada Sahilin. Gelar tersebut tidak semata berasal dari institusi formal, melainkan melalui pengakuan komunitas seni. Usulan pemberian gelar pertama kali disampaikan oleh Anwar Putra Bayu, seorang seniman Sastra Tutur, yang kemudian diterima luas oleh kalangan pelaku budaya.

Para narasumber menilai bahwa pengakuan tersebut sejalan dengan dedikasi Sahilin dalam menjaga dan mengembangkan tradisi. Ia tidak hanya mempertahankan bentuk-bentuk lama, tetapi juga melakukan inovasi dalam penyajian musik tanpa menghilangkan karakter dasar Tembang Batanghari Sembilan.

Selain itu, Sahilin dikenal memiliki sikap selektif terhadap dokumentasi karya. Ia kerap mengingatkan agar rekaman pertunjukan tidak disebarluaskan secara bebas. Sikap ini dipahami sebagai upaya menjaga konteks artistik dan nilai autentik pertunjukan.

Baca Juga  Victim Blaming dan Representasi Trauma Perempuan  dalam Film Penyalin Cahaya

Meski demikian, dalam konteks penelitian ilmiah, Sahilin pernah direkam bersama Siti Rohmah oleh etnomusikolog asal Amerika, Philip Yampolsky, pada 3 Agustus 1994. Rekaman tersebut kemudian dimasukkan dalam album Indonesian Guitars, yang menjadi salah satu dokumentasi penting musik gitar tradisional Indonesia di tingkat internasional.

Melalui kegiatan ini, buku biografi Sahilin diharapkan dapat menjadi referensi akademik sekaligus sumber pembelajaran bagi generasi muda. Selain itu, forum ini juga memperkuat upaya pelestarian Tembang Batanghari Sembilan di tengah tantangan modernisasi.

Bedah buku ini menegaskan bahwa Sahilin bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi juga bagian dari masa kini. Melalui karya, kajian, dan diskusi yang terus berkembang, warisan musikalnya diyakini akan tetap hidup dan memberi inspirasi bagi generasi berikutnya.

Editor: Bang Bangun Lubis

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button