Perkuat Kualitas Pengelolaan Jurnal dan Integritas Penelitian, RJI Gelar Workshop di Samarinda

BritaBrita.com,Samarinda – Relawan Jurnal Indonesia (RJI) menyelenggarakan Workshop “Literasi Jurnal dan Integritas Penelitian” di Universitas Widya Gama Mahakam (UWGM) Samarinda, Rabu, 29 Juli 2026. Kegiatan berlangsung mulai pukul 09.00 WITA di Ruang Serbaguna UWGM Samarinda.
Workshop ini menjadi bagian dari upaya RJI memperkuat kualitas pengelolaan jurnal dan integritas penelitian. Kegiatan juga merespons berbagai perubahan dalam ekosistem publikasi ilmiah nasional.
Rektor UWGM Samarinda, Prof. Dr. Husaini Usman, M.Pd., M.T., hadir sebagai keynote speaker. Workshop menghadirkan Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani, M.A., Prof. Fahmi Gunawan, M.A., dan Dr. Arbain, M.Pd. sebagai pemateri. Diskusi dipandu oleh Dr. Yusuf Saefuddin, M.H.
Pemateri pertama, Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani, M.A., membahas “Sistem, Tata Kelola, dan Kebijakan Jurnal Ilmiah Nasional.” Ia memaparkan perkembangan jurnal terakreditasi sekaligus perubahan regulasi akreditasi jurnal di Indonesia.
Dalam paparannya, Ahmad Najib menunjukkan pertumbuhan jurnal nasional terakreditasi yang cukup tajam. Jumlah kumulatif jurnal terakreditasi tercatat mencapai 15.454 jurnal pada 2025. Pertumbuhan tersebut perlu diikuti penguatan mutu agar peningkatan jumlah tidak menurunkan otoritas akademik jurnal.
Ia juga menjelaskan perubahan tata kelola melalui Permendiktisaintek Nomor 9 Tahun 2026. Beberapa perubahan mencakup periode penilaian, ambang batas akreditasi, dan penilaian aspek manajemen serta substansi. Jurnal terindeks Scopus juga tidak otomatis memperoleh peringkat tertinggi dalam akreditasi nasional.
Perhatian besar juga diberikan pada integritas akademik. Pelanggaran integritas dapat berujung pada tindakan korektif, mulai teguran hingga pencabutan status akreditasi. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa kualitas jurnal tidak lagi cukup dinilai melalui aspek administratif.
Persoalan integritas kemudian diperdalam oleh Prof. Fahmi Gunawan, M.A. dari UIN Kendari. Ia menyampaikan materi “Di Balik Krisis Integritas Riset: Mengapa Indeks Resiko Integritas Riset (IRIR) Penting?”
Fahmi menempatkan integritas penelitian sebagai persoalan yang perlu ditangani secara sistematis. Risiko integritas tidak hanya berkaitan dengan perilaku individu, tetapi juga dipengaruhi tata kelola penelitian dan budaya akademik institusi. Melalui konsep IRIR, perguruan tinggi didorong mengenali potensi risiko sejak awal.
Pendekatan tersebut dapat menjadi instrumen pencegahan sebelum pelanggaran berkembang menjadi persoalan serius. Perguruan tinggi, karena itu, perlu membangun mekanisme yang mampu menjaga etika penelitian secara berkelanjutan.
Perspektif kelembagaan kemudian dibahas oleh Dr. Arbain, M.Pd. melalui materi “Masalah Kegagalan Pengelolaan Jurnal Perguruan Tinggi di Kalimantan.” Ia menyoroti berbagai persoalan pengelolaan jurnal yang masih terjadi di perguruan tinggi.
Menurut Arbain, jurnal yang terlambat terbit, belum terakreditasi, atau memiliki kualitas artikel rendah hanyalah gejala permukaan. Persoalan yang lebih mendasar terletak pada kebijakan institusi, pendanaan, sumber daya manusia, dan infrastruktur.
Ia juga menyoroti posisi pengelola jurnal yang sering masih dianggap sebagai pekerjaan tambahan. Banyak editor membangun kompetensi secara mandiri, sementara proses kaderisasi belum berlangsung secara terstruktur. Kondisi tersebut membuat keberlanjutan pengelolaan jurnal menjadi rentan.
Arbain menawarkan beberapa langkah perbaikan melalui penguatan kebijakan kampus, pembentukan rumah jurnal, penyusunan SOP editorial, dukungan teknologi informasi, serta pemberian penghargaan dan pelatihan. Baginya, perbaikan jurnal harus dibangun sebagai sistem kelembagaan.
Ia menegaskan bahwa jurnal bukan sekadar beban administrasi, tetapi investasi reputasi akademik. Perguruan tinggi perlu menempatkan jurnal sebagai bagian penting dari strategi pengembangan mutu dan kontribusi keilmuan.
Melalui tiga perspektif tersebut, workshop RJI mempertemukan aspek kebijakan nasional, integritas penelitian, dan tata kelola jurnal perguruan tinggi. Ketiganya menunjukkan bahwa kualitas publikasi tidak dapat dibangun hanya dengan mengejar jumlah artikel atau peringkat akreditasi.
RJI melalui kegiatan ini mendorong perguruan tinggi membangun ekosistem publikasi yang lebih sehat dan berkelanjutan. Pengelola jurnal, peneliti, pimpinan perguruan tinggi, dan pemerintah perlu bergerak dalam arah yang sama.
Workshop ini juga diharapkan memperkuat kapasitas pengelola jurnal di Kalimantan Timur. Jurnal ilmiah pada akhirnya harus berkembang sebagai ruang diseminasi pengetahuan yang kredibel, berintegritas, dan memiliki dampak akademik.
(rel)



