KESEHATAN

Mengerikan! Ternyata Pola Makan Seperti Ini Bisa Memicu Kanker Usus Besar

BritaBrita.com,Jakarta – Kanker kolorektal merupakan salah satu jenis kanker yang paling banyak ditemukan di dunia. Pola makan yang dikonsumsi sehari-hari diketahui dapat memengaruhi risiko seseorang terkena penyakit tersebut.

Pola makan ala Barat yang umumnya tinggi lemak dan daging, tetapi rendah serat, telah lama dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker kolorektal. Namun, mekanisme yang membuat pola makan tersebut dapat mendorong terbentuknya tumor masih belum sepenuhnya dipahami.

Dikutip dari Science Alert, studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Gut memberikan petunjuk baru mengenai mekanisme tersebut. Penelitian ini menemukan, bakteri tertentu di dalam usus, yang dapat berkembang akibat pola makan tinggi lemak, berpotensi menghasilkan senyawa yang mendorong pertumbuhan tumor.

Tim peneliti internasional yang dipimpin sejumlah institusi di Jerman menggabungkan sejumlah metode penelitian. Mereka melakukan eksperimen pada babi yang dimodifikasi secara genetik, tikus, serta jaringan usus besar manusia yang dikembangkan di laboratorium. Peneliti juga menganalisis data mikrobioma dari ribuan orang, baik yang mengalami kanker kolorektal maupun yang tidak.

Hasil penelitian mengarah pada deoxycholic acid (DCA), yakni senyawa yang terbentuk ketika bakteri usus tertentu mengubah asam empedu secara kimiawi.

Asam empedu memiliki peran penting dalam proses pencernaan. Senyawa ini diproduksi dari kolesterol di hati dan dilepaskan ke usus halus untuk membantu tubuh memecah serta menyerap lemak.

Sebagian besar asam empedu kemudian diserap kembali dan dikembalikan ke hati. Namun, sebagian kecil dapat mencapai usus besar. Di sana, bakteri tertentu yang memiliki kemampuan melakukan proses yang disebut 7-alpha-dehydroxylation dapat mengubah asam empedu primer menjadi asam empedu sekunder, termasuk DCA.

Kadar DCA yang lebih tinggi serta bakteri penghasil senyawa tersebut sebelumnya juga telah ditemukan pada orang dengan kanker kolorektal.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Immunity pada 2024 juga menemukan bahwa DCA dapat menurunkan aktivitas sel kekebalan tubuh yang berperan menyerang tumor dan mendorong pertumbuhan tumor kolorektal pada tikus.

Meski demikian, penelitian sebelumnya belum dapat memastikan apakah produksi DCA oleh bakteri menjadi penghubung langsung antara pola makan ala Barat dan perkembangan kanker kolorektal.

Baca Juga  Walikota Ratu Dewa Apresiasi Anak Difabel Diberi Kesempatan yang Layak dalam Kehidupan Sosialnya

Mikrobioma usus sendiri merupakan komunitas besar yang terdiri dari bakteri dan mikroorganisme lain yang hidup di dalam saluran pencernaan. Meski relatif mudah diambil sampelnya, mikrobioma merupakan ekosistem kompleks yang tidak mudah dipetakan.

Untuk mengetahui hubungan tersebut secara lebih langsung, peneliti pertama-tama mengamati babi yang dimodifikasi secara genetik sehingga memiliki kecenderungan mengalami polip pada usus besar.

Ketika babi tersebut diberikan pola makan ala Barat, perkembangan tumor di usus meningkat. Kondisi tersebut juga disertai peningkatan kadar DCA dalam feses serta peningkatan proliferasi sel epitel yang melapisi usus besar.

Peneliti kemudian memberikan cholestyramine kepada sebagian babi. Obat tersebut bekerja dengan mengikat asam empedu di saluran pencernaan sehingga dapat dikeluarkan dari tubuh.

Setelah asam empedu dikeluarkan, proliferasi sel berlebihan di usus besar berkurang. Temuan ini semakin memperkuat dugaan adanya hubungan antara asam empedu dan perkembangan tumor.

Selanjutnya, peneliti melakukan eksperimen pada tikus bebas kuman atau germ-free mice, yang memungkinkan komunitas mikroba di dalam ususnya dikendalikan secara lebih presisi.

Ketika bakteri penghasil DCA, termasuk Clostridium scindens dan Extibacter muris, ditambahkan ke komunitas mikroba usus tertentu, bakteri tersebut menghasilkan DCA dan meningkatkan jumlah tumor usus besar pada dua model tikus kanker kolorektal yang berbeda.

Dalam eksperimen lainnya, peneliti memodifikasi secara genetik bakteri Faecalicatena contorta sehingga tidak lagi mampu melakukan reaksi yang diperlukan untuk menghasilkan DCA.

Tikus yang diberi bakteri hasil modifikasi tersebut mengalami lebih sedikit tumor usus besar dibandingkan tikus yang membawa bakteri F. contorta normal yang masih mampu menghasilkan DCA.

Bakteri hasil modifikasi tersebut juga menyebabkan proliferasi sel epitel yang lebih rendah pada organoid usus besar manusia, yakni model miniatur jaringan usus besar yang dikembangkan di laboratorium.

Untuk melihat apakah mekanisme bakteri yang sama juga berkaitan dengan kanker kolorektal pada manusia, peneliti kemudian menganalisis DNA mikroba dari sampel feses yang dikumpulkan dalam sejumlah kelompok penelitian. Data tersebut mencakup 1.034 orang dengan kanker kolorektal dan 1.108 orang tanpa kanker kolorektal.

Baca Juga  Tips Biar Pikiran Waras dan Hati Adem: Panduan Sehat Jiwa dan Raga dalam Perspektif Psikologi dan Islam

Gen yang terlibat dalam produksi DCA, terutama gen yang berkaitan dengan C. scindens dan bakteri yang memiliki hubungan dekat dengannya, ditemukan lebih sering pada orang dengan kanker kolorektal dibandingkan mereka yang tidak mengalami penyakit tersebut.

Secara keseluruhan, temuan ini mendukung dugaan pola makan tinggi lemak ala Barat dapat mengubah metabolisme asam empedu dengan mendorong pertumbuhan bakteri usus tertentu. Bakteri tersebut kemudian mengubah asam empedu primer menjadi DCA. Senyawa DCA selanjutnya dapat merangsang proliferasi sel secara abnormal sehingga menciptakan kondisi yang mendukung pertumbuhan tumor.

“Mengingat hasil penelitian kami menunjukkan seberapa besar pola makan tinggi lemak ala Barat dan perubahan mikrobioma usus yang menyertainya dapat memengaruhi kesehatan usus manusia,” kata ahli mikrobiologi Sören Ocvirk dari German Institute of Human Nutrition Potsdam-Rehbruecke dalam keterangan tertulis.

Namun, penelitian ini memiliki sejumlah keterbatasan. Eksperimen yang memberikan bukti mengenai hubungan sebab-akibat dilakukan pada hewan yang memang sudah memiliki kecenderungan mengalami penyakit tersebut.

Sementara itu, penelitian pada manusia bersifat observasional. Artinya, penelitian tersebut hanya dapat menunjukkan adanya hubungan, tetapi belum dapat membuktikan bahwa produksi DCA oleh bakteri secara langsung menyebabkan kanker pada peserta penelitian.

Penelitian ini juga belum membuktikan bahwa cholestyramine dapat mencegah atau mengobati kanker kolorektal pada manusia. Diperlukan uji klinis sebelum obat pengikat asam empedu, pemeriksaan mikrobioma, atau terapi yang menargetkan jalur bakteri tertentu dapat digunakan untuk pencegahan kanker.

Meski begitu, penelitian ini memberikan kemungkinan penjelasan biologis atas hubungan antara pola makan dan kanker kolorektal yang telah diamati para ilmuwan selama bertahun-tahun. Temuan tersebut juga berpotensi membantu mengidentifikasi orang-orang yang mikrobioma ususnya membuat mereka lebih rentan terhadap dampak pola makan tidak sehat.

Untuk saat ini, hasil penelitian tersebut masih sejalan dengan anjuran pola makan yang telah ada, bukan menjadi dasar terapi baru. Pola makan yang kaya serat, buah, sayuran, dan biji-bijian utuh serta lebih rendah daging olahan dan daging merah diketahui berkaitan dengan risiko kanker kolorektal yang lebih rendah.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button