Kuncinya Disiplin Atur Prioritas
Biocella Viona Avisha S.M Salah Satu Lulusan Terbaik Tingkat Universitas
PAGI itu Sabtu, (10/10/2026) di aula tempat yudisium XXIV Universitas Kader Bangsa (UKB) Palembang dipenuhi lautan para lulusan baru dengan senyuman yang tak putus berpendar. Nama demi nama dipanggil ke atas panggung. Tepuk tangan bergema, kamera-kamera ponsel sibuk mengabadikan momen yang hanya datang sekali dalam hidup.
Di antara ratusan yudisiawan dan yudisiawati yang berdiri tegak menunggu giliran, Biocella Viona Avisha S.M (Sarjana Manajemen), Perempuan kelahiran Palembang, 4 Januari 2003 itu berusaha menahan haru yang terus menggenang di pelupuk mata.
Beberapa detik kemudian, namanya disebut sebagai salah satu yudisiawati terbaik. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,95 mengantarkannya menjadi salah satu lulusan berprestasi Universitas Kader Bangsa dari Fakultas Ekonomi S1 Manajemen.

Bagi sebagian orang, angka 3,95 mungkin hanya deretan nilai yang tercetak rapi di atas transkrip akademik. Namun bagi Viona biasa ia disapa, angka itu adalah rangkaian panjang pengorbanan, kedisiplinan, dan perjuangan yang berlangsung selama empat tahun.
“Yang jelas saya sangat bersyukur dan haru. Pencapaian ini pernah terasa sangat berat dalam perjuangan dan pengorbanan selama empat tahun,” ujarnya.
Di balik senyum yang terlihat tenang pada hari yudisium, tersimpan cerita tentang hari-hari yang berjalan lebih panjang dibanding kebanyakan mahasiswa lainnya.
Saat mahasiswa lain dapat menggunakan waktu luang untuk beristirahat, Viona harus membagi hidupnya ke dalam dua dunia yang berjalan bersamaan yakni dunia perkuliahan dan dunia kerja.
Setiap hari, ia memiliki jadwal yang harus dipatuhi dengan disiplin. Ada jam kerja yang menuntut profesionalisme, ada ruang kelas yang membutuhkan konsentrasi penuh, dan ada tugas-tugas akademik yang menunggu untuk diselesaikan.
Ia tahu bahwa mengandalkan semangat saja tidak cukup. Karena itu, ia membangun kebiasaannya di atas manajemen waktu yang ketat. Jadwal harian disusun dengan rinci. Prioritas ditentukan sejak pagi. Setiap tugas memiliki ruangnya masing-masing. Tidak ada waktu yang boleh terbuang sia-sia.
“Kalau dipikir sih, bukan hal yang mudah menjadi mahasiswa sekaligus bekerja. Kunci utama bagi saya adalah disiplin pada prioritas dan membuat jadwal yang terstruktur,” katanya.
Namun, perjalanan itu bukan sekadar soal mengatur jam dan kalender.Ada hari-hari ketika tubuh meminta istirahat, tetapi tugas kuliah harus diselesaikan. Ada akhir pekan yang seharusnya menjadi waktu bersantai, tetapi justru digunakan untuk menghadiri perkuliahan atau menyelesaikan pekerjaan akademik.
Di saat banyak orang menikmati hari libur, Viona memilih duduk di ruang kelas atau menatap layar laptop mengerjakan tugas. Ia memahami bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi.
Berkali-kali ia harus mengorbankan kenyamanan demi tujuan yang lebih besar.Meski demikian, ia tidak pernah membiarkan kelelahan mengalahkan tekadnya.
Salah satu pelajaran terbesar yang ia dapatkan adalah pentingnya mengelola energi, bukan hanya waktu. Saat bekerja, ia berusaha memberikan fokus penuh pada tanggung jawab profesionalnya. Ketika memasuki ruang kuliah, pikirannya beralih sepenuhnya menjadi mahasiswa.
Baginya, kedua peran itu sama pentingnya.Tidak ada yang boleh dikorbankan.Perjalanan akademiknya juga diwarnai dukungan orang-orang terdekat. Doa keluarga menjadi kekuatan yang terus hadir dalam setiap langkah. Sosok almarhum ayahnya, Apriyadi AS, S.H., M.H. dan sang ibu, Rustina S.E menjadi bagian dari motivasi yang selalu ia bawa dalam hati.
Keberhasilan yang diraih hari ini bukan hanya miliknya seorang.Ada kasih sayang seorang ibu yang terus menguatkan. Ada keluarga yang tidak pernah berhenti percaya. Ada orang-orang terdekat yang selalu hadir ketika rasa lelah datang menghampiri.
Karena itulah, gelar sarjana yang kini melekat di belakang namanya memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar status akademik.Gelar itu adalah simbol perjuangan.Gelar itu adalah bukti bahwa konsistensi mampu mengalahkan keterbatasan.Gelar itu adalah jawaban atas setiap malam panjang yang pernah dijalani dengan rasa lelah.
Kini, setelah menorehkan prestasi sebagai yudisiawati terbaik, Viona tidak ingin berhenti pada pencapaian tersebut. Baginya, capaian ini bukan garis akhir.Justru sebaliknya.Hari itu adalah titik awal bagi perjalanan yang lebih besar.Ia berharap ilmu, disiplin, dan daya tahan yang ditempa selama kuliah di Universitas Kader Bangsa dapat ditransformasikan menjadi karya nyata bagi masyarakat. Dunia profesional menjadi ruang berikutnya untuk membuktikan bahwa pendidikan tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga solusi.
“Saya berharap semoga pencapaian ini bukan menjadi titik akhir untuk berpuas diri, melainkan pijakan awal untuk terus belajar, berkembang, dan menginspirasi sesama,” tuturnya.
Di hari itu, ia tidak hanya membawa pulang gelar sarjana.Ia membawa pulang cerita tentang keberanian bertahan, tentang mimpi yang diperjuangkan tanpa menyerah, dan tentang keyakinan bahwa masa depan memang layak diperjuangkan.
Seperti motto hidup yang selalu ia pegang erat: “Gelar didapat, pengalaman diikat, masa depan diselamatkan.” Sebuah kalimat sederhana yang kini menjelma menjadi kisah nyata perjalanan Biocella Viona Avisha S.M, perempuan muda yang membuktikan bahwa kerja keras dan keteguhan hati mampu mengubah mimpi menjadi prestasi.
(den)



