SEJARAH-BUDAYA

Angkan-Angkanan Jalur Kemanusiaan

Oleh:  Albar Sentosa Subari – Ketua Lembaga Adat Melayu Peduli Marga Batang Hari Sembilan

Istilah angkan angkanan , adalah istilah yang populer di masyarakat kita, terutama yang sering penulis saksikan di tengah masyarakat seperti masyarakat Sumatera Selatan.

Angkan angkanan bahasa lainnya adalah saling mengakui satu sama lain adalah saudara , yang sebelumnya mereka tidak saling kenal satu sama lain. Namun karena merasa sesama manusia terwujud apa yang disebut angkan angkanan itu.

Dalam bahasa lainnya secara philosofis adat masing masing terikat seperti saudara angkatnya dan ini di masyarakat Sumsel ada gi kenal dalam Simbur Cahaya ( kompilasi adat istiadat yang pernah di catat pada masa kesultanan Palembang Darussalam dan dilanjutkan masa kolonial).

Setelah penulis kaji kasus yang beredar di media sosial khususnya dalam kasus dua orang jambret yang meninggal dunia di Sleman Yogyakarta. Dimana sempat viral seorang bernama HM ( inisial), ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini oleh pihak kepolisian dan kejaksaan Sleman. Yang sempat berstatus tersangka yang kasusnya terjadi April 2025.

Baca Juga  Kakek Yatin, Veteran Pejuang Kemerdekaan, Terima Bantuan dari Wali Kota Palembang

Kasus ini dihentikan atas kesimpulan komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia setelah dengar pendapat dengan pihak terkait. Yaitu dihentikan ‘ demi hukum”, akibat penerapan hukumnya oleh penegak hukum terdapat kesalahan.

Akibat dihentikan demi hukum, maka secara ilmu hukum modern ( tertulis), semua peristiwa sebelumnya ditiadakan sama sekali. Baik terhadap HM maupun keluarga jambret.

Hal ini dirasakan oleh pihak penjambret melalui kuasa hukumnya dirasakan kurang adil dengan dalih mereka juga rakyat Indonesia.

Terlepas dari semua cerita nya di atas.

Penulis selaku Kolumnis sekaligus Ketua Lembaga Adat Melayu Peduli Marga Batang Hari Sembilan, terpikir agar kasus ini berakhir dengan baik tanpa salah satu dirugikan baik material maupun spiritual, ada namanya dalam masyarakat kita adalah apa yang disebut ANGKAN ANGKANAN, satu sama lain saling memaafkan tanpa paksaan dengan dasar dan dengan perasaan kemanusiaan bisa menjadi kan satu sama lainnya sebagai saudara angkat. Sehingga tidak terjadi saling dendam mendendam perasaan.

Baca Juga  Profesionalisme Pejabat Publik Dipertanyakan

Menjadikan sebagai saudara baru.

Kalau dalam masyarakat kita Sumatera Selatan ada yang menyebutnya tradisi ” tepung tawar” ( angkan angkanan). Semua hal yang terjadi dianggap sebagai musibah bersama. Dan menerimanya sebagai cobaan atau ujian dari Allah SWT.

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button