Fasilitas Publik jadi Kantor, Melihat Fenomena ‘Pura-Pura Bekerja’ di Tiongkok

BritaBrita.com-Kondisi pasar tenaga kerja di Tiongkok yang tengah mengalami penurunan serapan mendorong sejumlah profesional kerah putih yang terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK) untuk memanfaatkan fasilitas umum gratis.
Dikutip dari laporan Daily Mirror, Selasa (14/7/2026), pusat layanan masyarakat dan ruang komunitas yang semula berfungsi sebagai pusat kegiatan administratif lokal, kini banyak beralih fungsi menjadi ruang kerja sementara (temporary workspace).
Dengan akses internet gratis, pendingin ruangan, colokan listrik, serta area kerja yang tenang, pusat-pusat layanan masyarakat yang dikelola pemerintah lokal menjadi alternatif bagi kafe atau ruang kerja bersama yang berbayar.
Bagi sebagian orang, tempat-tempat tersebut tidak hanya berfungsi untuk mengirim lamaran pekerjaan atau mengikuti wawancara daring, tetapi juga membantu mempertahankan ritme kehidupan kerja sehari-hari.
Beberapa profesional bahkan menggunakan ruang-ruang tersebut untuk menjaga kesan bahwa mereka masih memiliki pekerjaan, termasuk dengan tetap berangkat pada pagi hari dan pulang pada sore hari seperti biasa.
Dalam banyak kasus, langkah tersebut dilakukan untuk menghindari percakapan sulit dengan anggota keluarga mengenai kondisi pengangguran mereka sambil terus mencari pekerjaan baru.
Fenomena tersebut mencerminkan meningkatnya tekanan di pasar tenaga kerja kerah putih Tiongkok, yang dalam beberapa tahun terakhir menghadapi perlambatan pertumbuhan ekonomi, pemangkasan biaya perusahaan, serta meningkatnya otomatisasi dan penggunaan kecerdasan buatan dalam berbagai fungsi kantor.
Menurut Ekkehard Ernst, Chief Macro Policy Unit dari International Labour Organization (ILO), fenomena ini salah satunya dipicu pertumbuhan kecerdasan buatan (AI), meski itu bukan yang utama.
“Masalah pengangguran yang dialami kaum muda ini sebagian besar terkait dengan perlambatan ekonomi, bukan didominasi kehadiran AI,” ujarnya.
Bidang seperti pemasaran, administrasi, layanan pelanggan, dan sejumlah pekerjaan berbasis pengetahuan disebut menjadi salah satu sektor yang mulai terdampak perubahan tersebut.
Bagi pekerja perkotaan yang kehilangan pekerjaan, bahkan biaya menghabiskan waktu seharian di tempat komersial seperti kafe kini menjadi pengeluaran yang sulit dipertahankan.
Akibatnya, fasilitas publik gratis menjadi pilihan yang semakin menarik sekaligus praktis.
Pemerintah China sendiri dalam beberapa tahun terakhir memang memperluas pusat layanan masyarakat sebagai bagian dari upaya meningkatkan pelayanan publik di tingkat lingkungan.
Meski awalnya ditujukan untuk urusan administratif dan kegiatan terkait Partai Komunis Tiongkok, banyak fasilitas tersebut kini juga menyediakan ruang baca, area belajar, serta fasilitas kerja dasar yang dapat digunakan masyarakat umum.
Popularitas tempat-tempat tersebut juga meningkat di media sosial China, di mana pengguna saling berbagi informasi mengenai lokasi dengan fasilitas terbaik, mulai dari kecepatan internet hingga kenyamanan ruangan.
Fenomena ini muncul setelah sebelumnya Tiongkok mengenal tren yang disebut sebagai “kantor pura-pura bekerja,” yaitu ruang kerja berbayar yang disewa oleh orang-orang yang kehilangan pekerjaan untuk mempertahankan kesan kehidupan kantor normal di hadapan keluarga atau lingkungan sosial mereka.
Kini, pusat layanan masyarakat gratis menjadi alternatif yang jauh lebih terjangkau.
Meskipun pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada kuartal pertama tahun 2026 tercatat lebih kuat dari proyeksi, sektor ketenagakerjaan khususnya kelompok usia muda kembali menghadapi tekanan.
Berdasarkan data resmi Biro Statistik Nasional Tiongkok, tingkat pengangguran kelompok usia 16–24 tahun (kategori non-pelajar) mengalami kenaikan dari 16,1 persen pada Februari menjadi 16,9% pada Maret 2026.
Kenaikan ini mengakhiri tren penurunan yang sempat terjadi selama enam bulan berturut-turut sebelumnya.
Selain kelompok usia awal, tren kenaikan tingkat pengangguran juga terdeteksi pada kelompok usia produktif lainnya:
-
Usia 25–29 tahun: Meningkat menjadi 7,7% pada Maret (naik dari 7,2% pada Februari).
-
Tingkat Pengangguran Perkotaan Umum: Naik tipis menjadi 5,4% pada Maret (dibandingkan 5,3% pada bulan sebelumnya).
Faktor Struktural dan Perilaku Pencari Kerja
Kondisi pasar kerja yang kompetitif bagi tenaga kerja minim pengalaman dipengaruhi oleh tekanan deflasi serta ketidakpastian geopolitik dan ekonomi eksternal yang membatasi ekspansi lapangan kerja baru. Sebagai respons atas keterbatasan ini, para pencari kerja usia muda menerapkan beberapa strategi adaptasi:
-
Penundaan Masuk Pasar Kerja: Memilih melanjutkan pendidikan ke jenjang pascasarjana guna meningkatkan kualifikasi akademis dan daya saing.
-
Prioritas Stabilitas Kerja (Iron Rice Bowl): Mengikuti seleksi pegawai negeri sipil yang menawarkan jaminan stabilitas kerja jangka panjang.
Namun, tingginya rasio kompetisi dalam seleksi tersebut menyebabkan sebagian besar peserta yang tidak lolos harus kembali bersaing di pasar kerja swasta yang sudah jenuh. Sebagai ilustrasi, seleksi pegawai negeri nasional pada Desember lalu diikuti oleh lebih dari 3,7 juta pendaftar, dengan rasio kelulusan rata-rata hanya 1 posisi berbanding 98 pelamar.
Studi Kasus dan Proyeksi Tekanan Pasar Kerja
Tantangan ini tercermin dalam pengalaman para lulusan baru, seperti Bai Xi, seorang lulusan bidang keuangan dan manajemen dari Provinsi Hebei.
Dilansir dari SCMP, setelah beberapa kali tidak memenuhi batas nilai kelulusan dalam ujian pegawai negeri daerah, Bai Xi mengalihkan fokus pencarian kerja ke sektor swasta (akuntansi dan audit) di Beijing.
Dari interaksi dengan lebih dari 1.000 perekrut melalui platform pencarian kerja, tingkat konversi respons yang diperoleh hanya menghasilkan delapan panggilan wawancara kerja.
Tantangan penyerapan tenaga kerja di Tiongkok diproyeksikan akan semakin meningkat signifikan dalam beberapa bulan ke depan.
Hal ini dipicu oleh estimasi kelulusan sekitar 12,7 juta mahasiswa pada musim panas tahun ini, yang merepresentasikan peningkatan volume lulusan sebesar 4% dibandingkan tahun sebelumnya.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa akselerasi pemulihan ekonomi makro belum sepenuhnya bertransmisi secara efektif pada penciptaan lapangan kerja baru bagi angkatan kerja muda.
-



