NASIONALNEWSPENDIDIKAN

Kepala BRIN Tantang Peneliti Sederhanakan Bahasa Riset untuk Publik

Menurut Arif, kemampuan mengomunikasikan hasil riset kepada publik menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan literasi publik. Masyarakat tidak selalu memiliki latar belakang keilmuan yang sama dengan peneliti sehingga komunikasi ilmiah perlu disampaikan dengan bahasa yang lebih sederhana.

“Publik tidak bisa berada dalam satu bahasa dengan kita,” ujar Arif pada kegiatan yang berlangsung di KST Sarwono Prawirohardjo, BRIN Jakarta Gatot Subroto ini.

Ia menjelaskan, dalam forum ilmiah, peneliti dapat menggunakan bahasa dan tingkat abstraksi yang sesuai dengan keahlian peserta. Namun, ketika menyampaikan hasil riset kepada masyarakat melalui ruang publik, peneliti perlu menyesuaikan kosakata, tingkat abstraksi, dan bahasa agar informasi lebih mudah dipahami.

“Begitu kita masuk dalam dunia populer, kemampuan kita harus menurunkan vokabulari, menurunkan abstraksi, menurunkan bahasa-bahasa yang tinggi sehingga mudah dipahami oleh masyarakat,” katanya.

Arif menilai kemampuan menyederhanakan hasil riset juga menunjukkan sejauh mana seorang peneliti menguasai ilmu yang ditekuninya. Ia mencontohkan tantangan ketika seorang lulusan doktoral diminta menjelaskan disertasinya dalam waktu satu menit.

Baca Juga  Prabowo: Yang Bilang Beras Mahal, Suruh Tanam Padi Sendiri

Menurutnya, peneliti perlu mampu mengidentifikasi substansi utama dari risetnya dan menyampaikannya secara ringkas. Kemampuan tersebut semakin penting dalam komunikasi publik saat ini yang menuntut pesan disampaikan secara singkat, padat, dan mudah dipahami.

“Jadi pertama adalah misi untuk meningkatkan literasi publik, dan kemudian kita punya kewajiban untuk mengomunikasikan hasil-hasil kita sehingga bisa dipahami oleh masyarakat,” ujarnya.

Selain kepada masyarakat, Arif menekankan pentingnya kemampuan periset menyampaikan pesan kepada pengambil kebijakan. Ia mencontohkan pengalaman mengajak peneliti bertemu Presiden dan meminta mereka menyampaikan substansi inovasi secara singkat.

“Setiap peneliti saya bisa bilang, tolong bicara dengan Presiden maksimal 1,5 menit,” katanya.

Menurut Arif, latihan komunikasi semacam itu diperlukan agar periset mampu menyampaikan pesan secara efektif dalam berbagai situasi. Kemampuan tersebut juga relevan dengan perkembangan media sosial yang menuntut komunikasi semakin ringkas dan mudah dipahami.

Kompetensi Strategi Komunikasi untuk Periset
Pelatihan Resonansi 2026 membekali peserta dengan kompetensi strategi komunikasi, penulisan populer, pengelolaan media sosial, serta public speaking. Pembekalan tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung peningkatan kompetensi dan pengembangan kapasitas pegawai BRIN di bidang komunikasi publik.

Dalam sesi penulisan populer, mantan jurnalis Kompas yang kini menjadi penulis, Wisnu Nugroho, membekali periset untuk mengolah temuan ilmiah menjadi tulisan yang menarik dan mudah dibaca, tanpa kehilangan dasar ilmiahnya.

Baca Juga  Fahri Hamzah Bertemu Presiden IsDB Group Bahas Kolaborasi Pembiayaan Perumahan

Sementara itu, pegiat media sosial Wicaksono atau yang dikenal dengan nama Ndorokakung mengajak periset melihat kembali bagaimana masyarakat mengenal pekerjaan dan hasil penelitian mereka. Ia mendorong periset menjelaskan apa yang diteliti, apa hasilnya, dan apa manfaatnya bagi masyarakat.

Kemampuan menyampaikan riset juga diperkuat melalui sesi public speaking bersama penyiar berita Metro TV, Leonard Samosir. Ia menekankan bahwa dampak riset bergantung pada sejauh mana hasil penelitian dipahami oleh pihak yang membutuhkan.

Berbagai kemampuan komunikasi tersebut tidak hanya membantu periset menjelaskan hasil penelitian, tetapi juga membangun kredibilitas, memperluas jejaring, dan membuka peluang pemanfaatan hasil riset dalam kebijakan.

Pelatihan yang diselenggarakan Biro Organisasi dan Sumber Daya Manusia (BOSDM) BRIN ini diikuti 40 periset dari Organisasi Riset (OR) Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (IPSH), Tata Kelola Pemerintahan, Ekonomi, dan Kesejahteraan Masyarakat (TKPEKM), serta Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (ARBASTRA).

Arif juga menyampaikan bahwa kegiatan serupa akan dikembangkan ke sejumlah kawasan BRIN. Menurutnya, pelatihan komunikasi penting dilakukan karena BRIN memiliki sekitar 8.000 peneliti dengan beragam keilmuan.

“Jadi memang hal yang menurut saya sangat penting agar publik terbiasa dengan data, terbiasa dengan hasil temuan riset, sehingga yang kita perlukan adalah bagaimana kemampuan kita untuk berkomunikasi dengan publik,” tutur Arif seperti dilansir dalam laman brin.go.id.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button